Nasib Kapal Pertamina di Teluk Persia Kian Tak Pasti, Akses Selat Hormuz Kembali Ditutup Iran

DIKSI.CO – Ketidakpastian nasib dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) kembali mencuat setelah Iran menutup lagi akses Selat Hormuz. Pemerintah Indonesia kini terus berupaya memastikan keselamatan kapal dan awak di tengah dinamika konflik kawasan yang belum stabil.
Upaya Diplomasi Terus Berjalan
Kementerian Luar Negeri menegaskan langkah koordinasi intensif terus berlangsung untuk membuka jalan bagi kedua kapal tersebut. Juru Bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang, menyebut komunikasi dengan berbagai pihak di Iran tetap aktif berjalan.
“Kementerian Luar Negeri, melalui KBRI Tehran bersama PT Pertamina International Shipping (PIS) juga terus berkoordinasi dengan para pihak terkait di Iran untuk mendukung kelancaran perlintasan kapal Indonesia,” kata Yvonne kepada wartawan melalui pesan singkat, Ahad (19/04/2026).
Pemerintah memanfaatkan jalur diplomasi sekaligus teknis untuk memastikan kapal bisa kembali berlayar dengan aman. Langkah ini menjadi krusial karena situasi di lapangan berubah cepat.
Dua Kapal Masih Tertahan Sejak Maret
Dua kapal milik PIS, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, sudah tertahan di Teluk Persia sejak awal Maret 2026. Kondisi ini bermula saat konflik bersenjata pecah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran.
Iran kemudian merespons dengan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Kebijakan tersebut langsung berdampak pada pelayaran internasional, termasuk kapal-kapal tanker Indonesia.
Selama konflik berlangsung, Iran bahkan menyerang sejumlah kapal yang dianggap melanggar aturan pelayaran. Negara tersebut juga memberlakukan pembatasan ketat dan hanya mengizinkan kapal dari negara tertentu untuk melintas.
Harapan Sempat Muncul, Namun Pupus
Sempat muncul harapan setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata untuk membuka ruang dialog. Iran bahkan sempat menyatakan Selat Hormuz terbuka penuh untuk pelayaran komersial internasional pada Jumat lalu.
Namun, keputusan itu tidak bertahan lama. Iran kembali menutup akses tersebut, membuat nasib kapal-kapal yang tertahan, termasuk milik Indonesia, kembali tidak menentu.
Keselamatan Awak Jadi Prioritas Utama
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa keselamatan awak kapal menjadi fokus utama dalam setiap langkah yang pemerintah ambil. Selain itu, keamanan kapal dan muatan juga terus dijaga.
“Pemerintah Indonesia terus memantau secara cermat perkembangan situasi di kawasan, termasuk Selat Hormuz, melalui koordinasi dengan KBRI Tehran serta otoritas dan mitra terkait,” ujar Yvonne.
Ia menambahkan, kondisi di lapangan masih menyisakan berbagai kendala teknis yang harus selesai sebelum kapal dapat melintas dengan aman.
“Terdapat sejumlah aspek teknis dan mekanisme operasional di lapangan yang masih perlu diperhatikan. Keselamatan awak kapal serta keamanan kapal dan seluruh muatannya menjadi prioritas Pemerintah Indonesia saat ini,” tegasnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa nasib kapal Pertamina di Teluk Persia masih bergantung pada perkembangan geopolitik kawasan. Pemerintah pun terus berpacu dengan waktu untuk memastikan kedua kapal bisa keluar dari zona konflik tanpa risiko tambahan.
(Redaksi)
