Danantara Siapkan Holding Logistik BUMN, Konsolidasi 15 Perusahaan untuk Tekan Biaya Nasional

DIKSI.CO – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mempercepat rencana pembentukan holding logistik BUMN dengan menggabungkan 15 perusahaan. Langkah ini diarahkan untuk menekan biaya logistik nasional sekaligus memperkuat konektivitas di negara kepulauan seperti Indonesia.

Danantara Dorong Efisiensi Lewat Konsolidasi BUMN Logistik

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara saat ini memproses penggabungan sejumlah perusahaan logistik milik negara. Konsolidasi ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan memperkuat integrasi operasional.

Selain itu, pemerintah ingin menyatukan kekuatan armada logistik nasional agar lebih kompetitif. Sebagai negara maritim, Indonesia membutuhkan sistem distribusi yang kuat dan terintegrasi.

PT Pos Indonesia Berpotensi Jadi Holding

Dalam skema awal, beberapa perusahaan logistik BUMN berpeluang bergabung di bawah PT Pos Indonesia sebagai induk holding.

Namun hingga kini, pemerintah belum mengumumkan secara resmi daftar final perusahaan yang akan digabungkan. Meski begitu, sejumlah entitas telah teridentifikasi berdasarkan kinerja dan sektor usahanya.

Enam Perusahaan Konsisten Cetak Laba

Kelompok pertama terdiri dari perusahaan yang mencatatkan laba secara konsisten. Mereka berasal dari sektor pelabuhan, pelayaran, logistik darat, hingga layanan digital.

PT Pelindo Terminal Petikemas menjadi penyumbang laba terbesar dengan Rp2,21 triliun pada 2023 dan naik menjadi Rp2,59 triliun pada 2024. Hingga kuartal III 2025, perusahaan mencatat laba Rp1,79 triliun.

PT ASDP Indonesia Ferry juga mencatat laba Rp605,03 miliar pada 2023 dan Rp436,07 miliar pada 2024.

Sementara itu, PT Pelayaran Nasional Indonesia mencetak laba Rp198,92 miliar pada 2024, setelah sebelumnya mencatat Rp137,42 miliar pada 2023.

Di sektor darat, PT Pos Indonesia membukukan laba Rp1,2 triliun pada 2023 dan Rp838,94 miliar pada 2024.

PT KAI Logistik menunjukkan kinerja stabil dengan laba sekitar Rp92–100 miliar dalam tiga tahun terakhir. Pendapatan semester I 2025 naik 7% menjadi Rp538,6 miliar.

Selain itu, PT Integrasi Logistik Cipta Solusi meningkatkan laba dari Rp25,71 miliar pada 2023 menjadi Rp56,67 miliar pada 2024.

Dua Perusahaan Masih Catat Kerugian

Di sisi lain, dua perusahaan mencatat kinerja negatif. PT Pupuk Indonesia Logistik mengalami penurunan dari laba Rp18,78 miliar pada 2022 menjadi rugi Rp90,52 miliar pada 2024.

Hal serupa terjadi pada PT Semen Indonesia Logistik. Perusahaan ini mencatat laba Rp11,07 miliar pada 2023, lalu berbalik rugi Rp30,29 miliar pada 2024.

Konsolidasi diharapkan mampu meningkatkan utilisasi armada dan menekan beban operasional kedua entitas tersebut.

Tujuh Perusahaan Lengkapi Ekosistem Logistik

Kelompok ketiga mencakup tujuh perusahaan yang belum merinci laporan keuangan secara mandiri. Meski begitu, mereka memainkan peran penting dalam rantai logistik nasional.

Garuda Indonesia Logistik, Angkasa Pura Kargo, dan Aerojasa Cargo mengelola logistik udara.

Sementara itu, Pelindo Solusi Logistik dan Varuna Tirta Prakasya fokus pada layanan maritim dan kawasan logistik.

Di sektor pergudangan, BGR Logistik Indonesia menyediakan infrastruktur penyimpanan. Sedangkan Djakarta Lloyd menangani angkutan kargo curah.

Konsolidasi Ditargetkan Perkuat Sistem Logistik Nasional

Melalui penggabungan ini, Danantara menargetkan terciptanya sistem logistik yang lebih efisien dan terstandarisasi. Selain itu, integrasi ini diharapkan mampu menekan biaya distribusi yang selama ini masih tinggi.

Ke depan, holding logistik BUMN diharapkan menjadi tulang punggung distribusi nasional. Dengan demikian, konektivitas antarwilayah dapat meningkat dan daya saing ekonomi Indonesia semakin kuat.

(Redaksi)

Back to top button