Peta Pertarungan Muktamar NU ke-35: Tiga Poros Dominasi Perebutan Kursi Ketua

DIKSI.CO – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada 2026 diperkirakan memunculkan pertarungan sengit tiga poros kekuatan. Masing-masing kubu kini aktif menggalang dukungan dari tingkat wilayah hingga cabang untuk menentukan arah organisasi ke depan.

Tiga Poros Kekuatan Mulai Konsolidasi Jelang Muktamar NU

Direktur Eksekutif Institute for Strategy and Political Studies (INTRAPOLS), Bustomi Menggugat, menilai Muktamar NU kali ini tidak sekadar pergantian kepemimpinan. Ia melihat kontestasi ini sebagai perebutan arah strategis organisasi di tengah perubahan politik nasional pasca-2024.

“Ini sudah seperti ‘perang tiga poros’. Ada yang bermain di level kekuasaan, ada yang di birokrasi, dan ada yang kembali menguatkan basis pesantren. Semuanya sedang bergerak,” ujar Bustomi di Surabaya, Senin (27/4/2026).

Ia memetakan tiga kekuatan utama yang kini intens melakukan konsolidasi di tubuh NU, khususnya di PWNU dan PCNU.

Poros pertama bertumpu pada figur Yahya Cholil Staquf sebagai petahana. Kelompok ini mengandalkan capaian digitalisasi organisasi dan peran global NU, termasuk keterlibatan dalam forum internasional seperti R20. Namun, kritik terhadap sentralisasi menjadi tantangan serius bagi kubu ini.

Poros kedua mengerucut pada Menteri Agama Nasaruddin Umar. Kubu ini mengandalkan kedekatan dengan pemerintah dan menawarkan stabilitas hubungan antara NU dan negara.

“Poros ini kuat di jalur komunikasi dengan kekuasaan. Mereka menawarkan stabilitas dan sinergi,” jelas Bustomi.

Sementara itu, poros ketiga mengusung kekuatan kultural dan akar rumput. Sejumlah tokoh seperti Marzuqi Mustamar dan Abdussalam Shobih aktif menggalang dukungan dengan narasi kembali ke pesantren serta penguatan otonomi cabang.

“Mereka bermain di wilayah emosional dan ideologis. Basis kelompok ini kuat di akar rumput karena pendekatannya lebih langsung,” tegasnya.

Isu Tambang Jadi Pemicu Perpecahan

Bustomi menilai isu pengelolaan konsesi tambang oleh PBNU menjadi salah satu faktor yang memperkuat polarisasi di internal organisasi. Wilayah dengan sumber daya alam besar seperti Kalimantan dan Sumatera mulai menunjukkan sikap kritis.

“Isu tambang ini membelah. Ada yang melihatnya sebagai peluang kemandirian, tapi ada juga yang khawatir soal dampak sosial dan lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, tiga isu utama akan menentukan arah dukungan di tingkat bawah, yakni finansial organisasi, netralitas politik menuju Pilpres 2029, serta kesejahteraan pengurus di daerah.

“Yang menentukan nanti bukan hanya narasi besar, tapi siapa yang bisa menjawab kebutuhan riil di bawah,” katanya.

Media Sosial dan Potensi Politik Uang Mengintai

Selain konsolidasi struktural, Bustomi juga menyoroti potensi pertarungan di ruang digital. Ia memprediksi para kandidat akan memanfaatkan infografis, survei, hingga video pendek untuk membentuk opini publik.

“Ruang digital akan jadi arena baru. Persepsi bisa dibentuk lewat data, tapi juga bisa dimanipulasi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan potensi praktik politik uang yang kerap muncul dalam momentum Muktamar. Ia mendorong transparansi publik agar integritas forum tetap terjaga.

“Harus ada keberanian untuk menolak dan mengungkap praktik money politics. Kalau perlu, viralkan agar ada efek jera,” tegasnya.

Penentu Arah Besar Organisasi NU

Bustomi menegaskan, Muktamar ke-35 NU akan menjadi titik krusial dalam menentukan arah organisasi. Ia melihat NU berada di persimpangan antara mempertahankan pola komando yang lebih terpusat atau kembali menguatkan basis kultural dari bawah.

“Ini bukan sekadar kontestasi elite. Ini soal masa depan NU,” tandasnya.

(Redaksi)

Back to top button