Nilai Tukar Rupiah Menguat, BI Rate Naik 5,5 Persen

DIKSI.CO – Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Setelah sempat menyentuh Rp18.234 per dolar AS, mata uang Garuda kembali naik ke level Rp18.025 per dolar AS. Sentimen positif dari pasar global dan kebijakan Bank Indonesia mendorong penguatan tersebut.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyebut tiga faktor utama yang menopang penguatan rupiah. Faktor tersebut meliputi pelemahan indeks dolar AS (DXY), kenaikan BI Rate, dan sikap hati-hati investor menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat.
Pelemahan Dolar AS Dorong Rupiah Menguat
Menurut Sutopo, pelemahan DXY menjadi pemicu utama penguatan rupiah. Indeks dolar AS turun setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda.
“Pemicu jatuhnya DXY adalah pernyataan dari militer Iran bahwa mereka telah menghentikan serangan balasan ke Israel,” ujar Sutopo.
Pasar juga menyambut positif pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menyebut peluang tercapainya gencatan senjata semakin besar.
Kondisi itu mengurangi minat investor terhadap aset safe haven seperti dolar AS. Investor kemudian mengalihkan dana ke aset berisiko, termasuk instrumen investasi di negara berkembang.
Kenaikan BI Rate Tingkatkan Kepercayaan Pasar
Dari dalam negeri, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Kebijakan tersebut langsung mendapat respons positif dari pelaku pasar.
Sutopo menilai langkah BI menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan itu juga meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.
“Selain karena DXY drop, pasar domestik merespon positif langkah berani BI yang melakukan kenaikan suku bunga kejutan (off-schedule) sebesar 25 bps menjadi 5,5%. Ini memberi kepastian hukum ke investor asing bahwa BI sangat serius mengawal rupiah agar tidak jatuh lebih dalam,” katanya.
Setelah BI mengumumkan kenaikan suku bunga, rupiah mulai pulih. Nilainya bergerak di kisaran Rp18.124 hingga Rp18.140 per dolar AS sebelum akhirnya menguat lebih lanjut.
Investor Tunggu Data Inflasi Amerika Serikat
Investor juga mencermati data inflasi Amerika Serikat yang akan terbit pada Rabu (10/6/2026). Mereka memilih menunggu kepastian arah kebijakan moneter AS sebelum mengambil keputusan investasi berikutnya.
Sikap tersebut mendorong sebagian pelaku pasar melepas kepemilikan dolar AS. Aksi ambil untung itu ikut menekan indeks dolar.
Analis memperkirakan inflasi AS berada di level 4,2 persen. Karena itu, banyak investor belum menambah eksposur terhadap dolar AS.
Pelemahan DXY juga membantu mata uang utama lainnya. Euro, poundsterling Inggris, dolar Australia, dan yen Jepang sama-sama mencatat penguatan.
Penguatan Rupiah Masih Berpotensi Berfluktuasi
Meski rupiah menguat, Sutopo mengingatkan bahwa pasar masih menghadapi ketidakpastian. Ia menilai penguatan saat ini lebih banyak dipicu meredanya kekhawatiran investor terhadap konflik geopolitik.
Menurutnya, volatilitas pasar global masih cukup tinggi. Investor masih menunggu hasil data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk arah pasar berikutnya.
“Namun, volatilitas diprediksi masih tinggi karena pasar global sedang menahan napas menunggu kepastian data inflasi AS besok malam,” ujar Sutopo.
(Redaksi)
