AS Tolak Buka Isi MoU Iran ke Israel, Hubungan Trump-Netanyahu Kian Memanas

DIKSI.CO –Pemerintah Amerika Serikat menolak permintaan Israel untuk melihat draf nota kesepahaman (MoU) yang akan Iran tandatangani. Keputusan tersebut memicu sorotan karena kedua negara selama ini dikenal sebagai sekutu dekat di Timur Tengah.

Washington dan Teheran menjadwalkan penandatanganan MoU di Swiss pada Jumat (19/6/2026). Namun hingga beberapa hari sebelum acara berlangsung, Israel belum mengetahui isi dokumen tersebut.

Media Israel, The Jerusalem Post, mengungkap bahwa pemerintah Israel meminta akses terhadap draf kesepakatan itu. Akan tetapi, pemerintah AS tidak memenuhi permintaan tersebut.

“Amerika Serikat menolak permintaan Israel untuk melihat Nota Kesepahaman yang baru disepakati sebelum seremoni penandatanganan di Swiss akhir pekan ini,” tulis The Jerusalem Post seperti dikutip TRT World, Rabu (17/6/2026).

Koresponden diplomatik i24NEWS, Guy Azriel, juga membenarkan informasi tersebut melalui media sosial.

Menurut Azriel, penolakan itu menjadi peristiwa yang tidak biasa. Pasalnya, isu yang dibahas menyangkut keamanan nasional dan stabilitas kawasan.

Hubungan AS dan Israel Mengalami Ketegangan

Penolakan tersebut muncul saat hubungan Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi sejumlah perbedaan pandangan.

Kedua pemimpin tidak selalu sejalan dalam menyikapi Iran dan konflik di Lebanon. Washington mendorong upaya perdamaian kawasan. Sebaliknya, Israel tetap mempertahankan pendekatan militernya terhadap Hizbullah.

Dalam konferensi pers pada Senin (15/6), Netanyahu mengakui bahwa pemerintahnya belum mengetahui isi kesepakatan tersebut.

Ia mengatakan Israel tidak ikut dalam proses negosiasi. Karena itu, pemerintahnya belum menerima rincian dokumen yang akan AS dan Iran tandatangani.

Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel bukan pihak dalam perjanjian tersebut. Oleh sebab itu, negaranya tidak terikat oleh kesepakatan yang keduaa negara capai.

Isi MoU AS-Iran Masih Menjadi Teka-teki

Hingga kini, Washington dan Teheran belum mempublikasikan isi lengkap MoU tersebut. Meski demikian, sejumlah media internasional telah mengungkap beberapa poin yang diduga masuk dalam kesepakatan.

TRT World melaporkan bahwa Donald Trump, JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf telah menandatangani dokumen itu secara elektronik.

Iran dan Pakistan yang bertindak sebagai mediator menyebut kesepakatan tersebut bertujuan menghentikan konflik di berbagai wilayah, termasuk Lebanon.

Selain itu, kedua negara menyepakati penghentian blokade angkatan laut AS dan pelonggaran pembatasan di Selat Hormuz.

Sebagai imbalannya, Iran berjanji tidak mengembangkan senjata nuklir. Kesepakatan itu juga membuka perundingan lanjutan selama 60 hari.

Para pihak akan membahas program nuklir Iran, langkah deeskalasi kawasan, serta peluang pencabutan sebagian sanksi ekonomi.

Sampai saat ini, Gedung Putih dan pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut. Meski begitu, penolakan akses terhadap draf MoU semakin memperlihatkan perbedaan sikap antara Washington dan Tel Aviv menjelang penandatanganan kesepakatan AS-Iran di Swiss.

(Redaksi)

Back to top button