Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.280, Dibayangi Ketidakpastian AS-Iran

DIKSI.CO – Nilai tukar rupiah masih dibayangi tekanan sentimen global meski sempat menguat tipis pada perdagangan Jumat (24/4/2026). Ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.

Pada Jumat pagi, rupiah tercatat menguat 6 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.280 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.286 per dolar AS.

Ketegangan AS-Iran Picu Sentimen Risk-Off

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pasar masih diliputi sentimen risk-off akibat belum jelasnya arah negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.

“Sentimen ini dipicu oleh laporan bahwa Gedung Putih masih menunggu respons Iran sebelum memulai negosiasi perdamaian. Investor menafsirkan pernyataan tersebut sebagai sinyal masih tingginya ketidakpastian terkait proses perdamaian,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Menurutnya, kondisi ini membuat investor cenderung berhati-hati dan menahan diri dari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Upaya Damai AS-Iran Masih Buntu

Mengutip laporan internasional, Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua minggu pada 7 April 2026. Kedua negara kemudian melanjutkan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, namun belum menghasilkan kesepakatan.

Setelah negosiasi menemui jalan buntu, Amerika Serikat menyatakan akan memblokade kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran.

Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan kemungkinan perpanjangan gencatan senjata, sambil membuka peluang negosiasi lanjutan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapan untuk melanjutkan perundingan, namun meragukan komitmen AS. Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menegaskan bahwa negosiasi harus berlangsung tanpa tekanan atau syarat sepihak.

Data Ekonomi AS Masih Kuat

Selain faktor geopolitik, data ekonomi Amerika Serikat juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah.

Data awal Purchasing Managers’ Index (PMI) periode April 2026 menunjukkan sektor manufaktur AS naik menjadi 54,0 dari sebelumnya 52,3. Angka ini melampaui ekspektasi pasar di level 52,5.

Sementara itu, sektor jasa juga rebound ke 51,3 dari 49,8, lebih tinggi dari proyeksi 50,6. Data ini menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat di tengah tekanan global.

Namun, klaim pengangguran awal (Initial Jobless Claims) justru naik menjadi 214 ribu pada pekan yang berakhir 18 April 2026, dari sebelumnya 208 ribu.

Proyeksi Rupiah Masih Fluktuatif

Dengan berbagai sentimen tersebut, Josua memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.

Ia memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp17.225 hingga Rp17.350 per dolar AS.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meski rupiah sempat menguat, tekanan eksternal masih cukup besar dan berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar ke depan.

(Redaksi)

Back to top button