Pemkot Samarinda Siapkan Rp10 Juta per Kelurahan Hadapi Kekeringan dan Karhutla

DIKSI.CO- Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menyiapkan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) Rp10 juta untuk setiap kelurahan. Pemkot menggunakan anggaran tersebut untuk menghadapi dampak El Nino.

Dana itu membantu kelurahan memenuhi kebutuhan air bersih warga. Anggaran tersebut juga mendukung upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BTT Samarinda Dukung Penanganan Kekeringan

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti meminta setiap kelurahan mengelola dana tersebut secara transparan dan akuntabel.

Neneng menyampaikan hal itu saat rapat koordinasi di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana, Gedung BPBD Kota Samarinda, Kamis.

Menurut Neneng, auditor internal dan eksternal akan memeriksa penggunaan dana penanggulangan bencana. Karena itu, setiap OPD harus menggunakan anggaran sesuai peruntukannya.

“Dana penanggulangan bencana menjadi salah satu perhatian auditor internal maupun eksternal dalam proses pemeriksaan atau audit. Setiap pengeluaran wajib dilakukan secara transparan dan sesuai dengan peruntukannya,” kata Neneng.

BPBD Kota Samarinda kini memasuki tahap pencairan anggaran. BPBD menyusun alokasi tersebut melalui Rencana Kebutuhan Belanja (RKB).

Pencairan anggaran berlangsung melalui bendahara OPD dan kecamatan. Setelah menerima dana, kelurahan harus segera menjalankan program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Neneng juga meminta kelurahan memperkuat sosialisasi kepada warga. Salah satunya dengan mengingatkan warga agar tidak membakar lahan sembarangan.

Tanggap Darurat El Nino Samarinda hingga 7 September

Pemkot Samarinda menetapkan masa tanggap darurat sejak 25 Agustus hingga 7 September 2026. Pemerintah akan melakukan evaluasi setelah masa tersebut berakhir.

“Penanganan darurat ini telah kita tetapkan berlangsung sejak 25 Agustus hingga 7 September 2026. Evaluasi dan langkah selanjutnya akan ditentukan tepat setelah 7 September berdasarkan analisis data teknis di lapangan,” ujar Neneng.

Pemkot tidak hanya fokus memenuhi kebutuhan air bersih warga. Pemerintah juga memperhatikan kebutuhan air untuk lahan pertanian.

Neneng menilai petani memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Karena itu, pemerintah menyiapkan pasokan air darurat untuk membantu lahan pertanian warga.

“Para petani adalah tulang punggung ketahanan pangan daerah. Semangat mereka harus terus dijaga,” katanya.

Menurut Neneng, bantuan air tersebut menjadi bentuk kepedulian pemerintah terhadap petani. Langkah itu juga bertujuan mencegah potensi gagal panen akibat kekeringan.

Perumdam Pantau Pasokan Air Bersih Samarinda

Direktur Teknik Perumdam Tirta Kencana Kaharuddin mengatakan pihaknya memantau debit dan pasokan air setiap jam.

Petugas melakukan pemantauan secara real time. Langkah tersebut bertujuan menjaga distribusi air bersih kepada masyarakat Samarinda.

Perumdam juga terus melihat perubahan kondisi sumber air. Pemantauan ini penting karena kemarau dapat memengaruhi ketersediaan air baku.

Enam Orang Diproses Hukum karena Bakar Lahan

Kepala BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan pihaknya terus menangani kasus pembakaran lahan.

“Saat ini terdapat enam orang yang sedang diproses hukum akibat pelanggaran dan tindakan sengaja membakar lahan,” kata Suwarso.

BPBD juga meningkatkan patroli di sejumlah kecamatan. Petugas bersama lurah dan camat terus memantau potensi titik api.

Selain patroli, BPBD memperbarui data sumber air. Data tersebut mencakup sumur warga, armada pemadam, hingga lubang bekas tambang atau void.

BPBD Samarinda Petakan Sumber Air untuk Karhutla

Suwarso mengatakan BPBD memetakan sumber air untuk mendukung pemadaman karhutla. Petugas juga memanfaatkan sumber air tersebut untuk membantu penyiraman sawah.

“BPBD bekerja sama dengan lurah dan camat melengkapi data pemetaan sumber air, armada pemadam, sumur warga, hingga lubang bekas tambang (void),” jelasnya.

BPBD menghadapi sejumlah kendala saat menangani karhutla. Salah satunya kondisi sumur warga yang rata-rata memiliki kedalaman 40–50 meter.

Sumur dengan kedalaman tersebut lebih mudah mengering saat musim kemarau. Kondisinya berbeda dengan sumur bor dalam dan sumur komersial.

Petugas juga menghadapi kendala jarak menuju titik api. Sejumlah lokasi berada cukup jauh dari akses utama.

Vegetasi yang lebat turut menyulitkan mobilisasi armada pemadam. Kondisi tersebut dapat memperlambat penanganan ketika api muncul di lokasi terpencil.

Pembagian Masker Menunggu Kualitas Udara

BPBD juga menyiapkan pembagian masker gratis kepada warga. Namun, petugas akan melihat perkembangan indeks kualitas udara sebelum menentukan jadwal pembagian.

“Untuk rencana pembagian masker gratis kepada warga, BPBD akan menjadwalkan ulang pelaksanaannya sesuai dengan perkembangan indeks kualitas udara di lapangan,” jelas Suwarso.

Suwarso menegaskan seluruh OPD harus bergerak sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Setiap perangkat daerah juga harus memperkuat pencegahan kebakaran lahan di wilayahnya.

Pemkot Samarinda berharap sinergi antar-OPD dapat menekan dampak El Nino. Pemerintah juga terus mengantisipasi kekeringan, menjaga pasokan air bersih, serta mencegah meluasnya karhutla.

(Redaksi)

Back to top button