Air Sungai Naik 9 Meter, Ini Penyebab Banjir Bandang Nepal-Tibet

DIKSI.CO – Ketinggian air sungai di kawasan perbatasan Nepal-Tibet melonjak hingga 9 meter hanya dalam waktu 30 menit. Fenomena ekstrem tersebut terjadi setelah material es, batu, lumpur, dan puing dalam jumlah besar masuk ke sistem sungai di kawasan Himalaya.
Investigasi awal menunjukkan runtuhnya gletser menjadi pemicu utama banjir bandang dahsyat yang menerjang wilayah tersebut pada Rabu (26/8/2026). Runtuhan material bahkan menghasilkan getaran yang setara dengan gempa berkekuatan Magnitudo 5,2.
Bencana itu menewaskan sedikitnya 472 orang. Sebanyak 469 korban meninggal dunia berada di Nepal, sedangkan tiga korban lainnya berada di wilayah Tibet.
Lebih dari 1.400 orang masih hilang di Nepal. Jumlah tersebut mencakup ratusan warga negara asing (WNA) dari puluhan negara.
Sementara itu, televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan 558 orang hilang di kawasan Gyirong, Tibet. Sekitar 260 orang di antaranya merupakan WNA.
Runtuhan Gletser Picu Banjir Bandang
Laporan awal sempat menyebut gempa bumi sebagai pemicu bencana. Dugaan tersebut muncul setelah tanah longsor masuk ke Sungai Lende Khola dan menyebabkan aliran air meningkat secara drastis.
Namun, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) kemudian mengidentifikasi runtuhan gletser sebagai sumber utama material yang memicu banjir.
Ketika bagian gletser runtuh, es dan batu meluncur ke dasar lembah dengan energi besar. Material tersebut kemudian masuk ke sistem sungai bersama lumpur dan puing.
Benturan material runtuhan menghasilkan getaran setara Magnitudo 5,2. Getaran itu kemudian memunculkan dugaan awal bahwa gempa telah memicu longsor.
Pakar Temukan Keruntuhan Gletser
Pakar gletser dari Universitas Dundee, Dr Simon Cook, mengatakan timnya mendeteksi keruntuhan pada bagian bawah sebuah gletser sekitar 15 kilometer dari lokasi banjir.
Menurut Cook, runtuhan tersebut menghasilkan longsoran es dan bebatuan yang bergerak menuju lembah.
Gletser terbentuk dari tumpukan salju yang memadat selama ribuan tahun. Massa es ini perlahan bergerak menuruni lereng akibat gaya gravitasi sambil membawa batuan dan sedimen.
Saat sebagian besar gletser runtuh di lereng curam, material yang terbawa dapat meluncur dengan kecepatan tinggi. Dalam peristiwa Nepal-Tibet, material tersebut masuk ke Sungai Lende Khola yang menjadi anak Sungai Sungi Bhote Koshi.
Aliran kemudian membawa air, lumpur, es, sedimen, dan batu berukuran besar menuju wilayah hilir.
Muka Air Naik 7-9 Meter
International Center for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menganalisis perubahan ketinggian air setelah bencana terjadi.
Hasil analisis menunjukkan muka air sungai di wilayah hilir naik sekitar 7 hingga 9 meter dalam waktu 30 menit.
Arus yang sangat kuat bahkan menghanyutkan beberapa stasiun pemantau ketinggian air. Bentuk lembah turut memperbesar daya rusak banjir karena pegunungan curam di kedua sisi membatasi pergerakan air.
Kondisi tersebut membuat aliran air dan material bergerak terkonsentrasi menuju hilir dengan kecepatan tinggi.
Pemanasan Global Tingkatkan Risiko
Para ilmuwan telah lama memperingatkan perubahan kondisi gletser dan permafrost akibat kenaikan suhu global.
Pemanasan iklim mempercepat pencairan es dan mengganggu kestabilan kawasan pegunungan tinggi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko longsor, aliran puing, banjir akibat luapan danau, hingga runtuhnya gletser.
Dr Simon Cook mengatakan perubahan iklim membuat berbagai ancaman di kawasan pegunungan tinggi semakin sering muncul.
Laporan ICIMOD pada awal 2026 juga menunjukkan gletser di kawasan Hindu Kush kehilangan massa es dengan laju sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan kondisi sejak tahun 2000.
Perubahan tersebut meningkatkan perhatian ilmuwan terhadap potensi bencana di kawasan Himalaya, terutama wilayah yang berada di sepanjang aliran sungai.
(Redaksi)
