Angka Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Dinilai Janggal, LPEM UI Beberkan Temuan

DIKSI.CO – LPEM FEB Universitas Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 lebih rendah dari angka resmi Badan Pusat Statistik sebesar 5,61 persen. LPEM UI menemukan sejumlah ketidaksesuaian data dalam laporan pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS.
Temuan tersebut tertuang dalam laporan bertajuk “Pertumbuhan PDB Indonesia-Kuartal Pertama 2026: Di Balik Angka 5,61 Persen” yang perilisannya pada 11 Mei 2026.
Peneliti menilai ada inkonsistensi antara pertumbuhan sektor manufaktur dan sektor listrik, gas, serta air.
Data Manufaktur dan Listrik Dinilai Tidak Sinkron
Dalam data resmi BPS, sektor manufaktur tercatat tumbuh 5,04 persen pada triwulan I 2026.
Namun, sektor listrik, gas, dan air justru mengalami kontraksi sebesar 0,99 persen.
LPEM UI menilai kondisi tersebut sulit terjadi secara bersamaan karena industri manufaktur merupakan pengguna listrik terbesar di Indonesia.
“Jika pasokan listrik terkontraksi, sektor manufaktur secara fisik tidak mungkin tumbuh sebesar 5 persen,” tulis laporan LPEM UI.
Menurut lembaga tersebut, sektor manufaktur menyerap sekitar 40 hingga 42 persen konsumsi listrik nasional.
Aktivitas industri seperti mesin produksi, tungku peleburan, lini perakitan, dan sistem pendingin sangat bergantung pada pasokan listrik.
Konsumsi Listrik Rumah Tangga Naik saat Hari Raya
LPEM UI juga menyoroti pola konsumsi listrik selama kuartal I 2026 yang bertepatan dengan momentum hari raya keagamaan.
Dalam kondisi normal, konsumsi listrik rumah tangga biasanya meningkat pada periode tersebut.
Rumah tangga tercatat menyumbang 43 persen penjualan listrik nasional, sedangkan industri menyerap 31 persen.
Namun, nilai tambah riil sektor listrik, gas, dan air tetap tercatat minus 0,99 persen.
LPEM UI menilai kondisi itu mengindikasikan kontraksi sektor industri lebih besar dibanding data agregat yang dipublikasikan.
Prediksi Pertumbuhan Ekonomi di Kisaran 4,8 Persen
Berdasarkan koreksi atas ketidakkonsistenan data tersebut, LPEM UI memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 berada di rentang 4,4 hingga 5,2 persen.
Lembaga itu menempatkan estimasi tengah pertumbuhan ekonomi di angka 4,89 persen.
Selain itu, Ia juga menyoroti lonjakan inventori dalam data Supply and Use Table (SUT).
Nilai persediaan melonjak dari Rp4,2 triliun pada kuartal IV 2025 menjadi Rp104 triliun pada kuartal I 2026.
LPEM UI menilai lonjakan tersebut kemungkinan berasal dari rekonsiliasi data, bukan penimbunan barang di tingkat perusahaan.
Konflik Iran dan El Nino Bisa Tekan Ekonomi
Sepanjang 2026, LPEM UI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,8 hingga 5 persen.
Namun, lembaga tersebut memperingatkan potensi perlambatan lebih dalam jika konflik Iran dan dampak El Nino memburuk.
Dalam skenario tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan hanya mencapai 4,2 hingga 4,5 persen.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti belum memberikan tanggapan terkait temuan LPEM UI.
(Redaksi)
