Pesan Idulfitri Wali Kota Samarinda: Muhasabah dan Konsistensi Iman

DIKSI.CO, SAMARINDA – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Salat Idulfitri di Masjid Raya Darussalam, Sabtu (21/3/2026). Pada kesempatan istimewa tersebut, Wali Kota Andi Harun tidak hanya hadir bersama masyarakat, tetapi juga menjadi khatib, menyampaikan pesan-pesan penuh makna bagi warga Samarinda.
Dalam khutbahnya, Andi Harun mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum Ramadan hingga 1 Syawal sebagai sarana muhasabah atau evaluasi diri. Menurutnya, refleksi ini penting semua pihak lakukan, baik sebagai individu, dalam lingkup keluarga, maupun sebagai bagian dari masyarakat luas.
“Setiap Ramadan menuju 1 Syawal adalah momentum untuk bermuhasabah. Kita semua harus mengevaluasi diri, memperbaiki kekurangan, dan berkomitmen meningkatkan kualitas diri,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, namun yang terpenting adalah kemampuan untuk bertaubat dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.
Menurutnya, semangat Ramadan seharusnya membentuk pribadi yang Rabbani, yakni manusia yang senantiasa terhubung dengan Tuhan sepanjang hayat.
Esensi Puasa dan Tipologi Manusia
Dalam Khotbahnya, Andi Harun juga mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183. Ia menegaskan bahwa esensi puasa adalah membentuk pribadi bertakwa.
Namun menurut dia, ukuran keberhasilan Ramadan tidak berhenti pada ritual, melainkan pada sejauh mana nilai-nilai yang ditempa selama sebulan penuh tetap hidup setelahnya.
“Ramadan adalah madrasah. Pertanyaannya, apakah kita lulus atau kembali seperti semula,” tegasnya.
Dalam penekanan yang tajam, Andi Harun membedakan dua tipologi manusia: ‘Ramadaniyun’ dan ‘Rabbaniyun’. Ramadaniyun, kata dia, hanya taat saat Ramadan.
Sementara Rabbaniyun menjadikan Ramadan sebagai titik awal konsistensi dalam ketaatan sepanjang hayat.
Ia mengingatkan pandangan ulama klasik yang menyebut, seburuk-buruk manusia adalah mereka yang hanya mengenal Allah saat Ramadan.
Implementasi Nilai Pasca-Ramadan
Khotbah kemudian mengarah pada implementasi nilai. Kejujuran, amanah, dan pengendalian diri, menurut dia, justru diuji setelah Ramadan usai. Ia menyinggung realitas kehidupan modern, termasuk derasnya arus informasi di era digital.
“Setiap ucapan dan tulisan akan ada pertanggungjawabannya,” ujarnya, mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan etika bermedia.
Sebagai kepala daerah, Andi Harun juga menyampaikan pesan lintas peran. Pemimpin, pejabat, pelaku usaha, hingga keluarga, kata dia, memikul tanggung jawab moral dan spiritual yang tidak bisa dilepaskan dari kesadaran akan pengawasan Allah SWT. Khotbahnya menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah yang harus dijalankan dengan integritas.
Ia menegaskan, Idulfitri bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan momentum evaluasi diri. Apakah Ramadan telah membentuk karakter dan akhlak, atau hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan berarti.
Pada bagian akhir, Andi Harun merumuskan tiga fondasi utama untuk menjadi pribadi ‘Rabbaniyun’, yakni khauf (takut kepada Allah), raja’ (harap akan rahmat-Nya), dan istiqomah (konsistensi dalam ketaatan). Ketiganya menurut dia, adalah kunci menjaga kualitas iman agar tetap hidup selepas Ramadan.
(*)
