Sindiran di Grup WhatsApp Picu Debat Panas Reza Gerindra dan Syahariah Golkar di DPRD Kaltim

DIKSI.CO – Rapat pembahasan hak angket di DPRD Kalimantan Timur terpaksa dihentikan sementara setelah ketegangan antaranggota dewan memuncak dan sulit dikendalikan. Pimpinan sidang mengambil langkah skorsing guna mencegah konflik yang semakin meluas di dalam forum resmi tersebut.

Ketegangan muncul di tengah pembahasan agenda politik yang seharusnya membahas mekanisme hak angket. Namun, jalannya rapat justru bergeser menjadi perdebatan personal antaranggota dewan.

Awal Ketegangan dari Polemik Penjadwalan

Situasi mulai memanas saat anggota Fraksi Golkar, Syahariah Mas’ud, mengungkap kronologi terkait penjadwalan rapat hak angket. Ia menyinggung peran Wakil Ketua Fraksi Gerindra, Akhmed Reza Fachlevi, yang sebelumnya mendorong percepatan agenda tersebut.

Dalam forum, Syahariah menyampaikan bahwa kesepakatan penjadwalan telah dibahas dalam rapat Badan Musyawarah (Bamus).

“Yang paling menyuarakan hak angket saat itu adalah Pak Reza. Beliau meminta agar segera dijadwalkan, dan kami setuju karena tidak ingin berlarut-larut,” ujarnya.

Namun, ia mengaku kecewa karena saat hari pelaksanaan, tidak semua pihak hadir sesuai ekspektasi, terutama saat menghadapi massa aksi di luar gedung.

“Kami sudah siap di luar, tapi tidak ada yang muncul. Hanya Golkar yang ada di depan,” katanya.

Pernyataan di Grup Internal Picu Reaksi Keras

Kekecewaan tersebut sempat disampaikan Syahariah melalui grup WhatsApp internal DPRD. Ia mengakui gaya penyampaiannya cukup keras, namun dipicu situasi mendesak di lapangan.

“Saya mohon maaf kalau di grup saya agak keras. Tapi ini karena kita harus bersatu menghadapi masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan itu memicu reaksi keras dari Akhmed Reza Fachlevi. Ia menilai ucapan tersebut tidak pantas disampaikan dalam ruang komunikasi resmi internal lembaga.

“Pernyataan itu sudah melewati batas. Ini bukan sekadar kritik, tapi sudah menyentuh ranah personal,” tegas Reza.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga etika dalam komunikasi, termasuk di ruang digital antaranggota dewan.

“Ini forum kedinasan, bukan forum bebas. Ada marwah lembaga yang harus dijaga,” ujarnya.

Rapat Memanas, Anggota Minta Diskors

Ketegangan meningkat ketika perdebatan berlangsung dengan nada tinggi. Sejumlah anggota dewan mulai berteriak dan meminta pimpinan sidang mengambil tindakan.

“Skorsing dulu Ketua, ini sudah menyangkut pribadi,” seru Sarkowi.

Pimpinan sidang, Hasanuddin Mas’ud, berupaya meredam situasi dengan mengingatkan semua pihak agar menahan emosi.

“Sudah, sabar. Istighfar dulu,” ujarnya.

Namun, suasana yang sudah terlanjur panas membuat jalannya rapat tidak kondusif. Akhirnya, pimpinan memutuskan menghentikan sementara forum untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Tekanan Publik dan Klarifikasi Reza

Ketegangan internal ini terjadi saat DPRD Kaltim berada di bawah sorotan publik. Massa aksi di luar gedung menuntut kejelasan terkait realisasi hak angket.

Di tengah situasi tersebut, Reza memberikan klarifikasi bahwa dirinya memang pernah mendorong percepatan jadwal rapat sebagai bagian dari prosedur pembentukan hak angket.

“Izin Bu, saya memang meminta itu dijadwalkan sebagai syarat pembentukan. Tapi tidak sopan disampaikan seperti itu kepada saya,” katanya.

Cerminan Retaknya Soliditas Internal

Insiden ini mencerminkan dinamika internal DPRD Kaltim yang tengah menghadapi tekanan serius, baik dari dalam maupun luar lembaga. Konflik yang muncul di ruang sidang memperlihatkan adanya persoalan komunikasi dan soliditas antaranggota.

Di saat masyarakat menunggu kepastian sikap terkait hak angket, perpecahan internal justru mencuat ke permukaan dan mengganggu fokus pembahasan agenda utama.

(Redaksi)

Back to top button