Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Empat Bandara Ditutup Sementara

Keempat bandara tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, dan Bandara Budiarto Curug.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan penutupan berlangsung dalam waktu berbeda sesuai kondisi masing-masing bandara.
“Bandara Soekarno-Hatta ditutup pada pukul 02.08-13.30 WIB, Bandara Halim Perdanakusuma ditutup pada pukul 07.20-14.00 WIB, Bandara Radin Inten II Lampung (TKG) pada pukul 04.18-10.00 WIB, sedangkan Bandara Budiarto Curug (RTO) ditutup pada pukul 06.48-09.30 WIB,” kata Berton.
Erupsi Gunung Anak Krakatau Pengaruhi Operasional Bandara
BNPB melakukan pemutakhiran status operasional bandara pada Minggu pukul 07.41 WIB. Penutupan sementara tersebut berkaitan dengan sebaran abu vulkanik yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan.
Status operasional bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu, kondisi ruang udara, serta hasil pemantauan keselamatan penerbangan.
Karena itu, otoritas terus memantau pergerakan abu vulkanik untuk menentukan langkah berikutnya terhadap aktivitas penerbangan.
Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau Masih Berlangsung
Pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
Pada periode pengamatan 00.00-06.00 WIB, 5 September 2026, PVMBG mencatat satu kali gempa letusan menerus dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi mencapai 21.600 detik atau sekitar enam jam.
Petugas juga mengamati pendaran merah secara terus-menerus dari aktivitas erupsi. Kolom erupsi tidak selalu terlihat pada setiap periode pengamatan.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau turut memunculkan lava fountain dan suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, Kabupaten Serang.
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Capai Ketinggian 14,6 Kilometer
Pemantauan satelit Himawari dan VAAC Darwin menunjukkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut.
Abu bergerak dominan ke arah barat hingga barat daya. Kondisi tersebut menunjukkan pergerakan abu masih dinamis karena aktivitas erupsi dan faktor meteorologi, terutama arah serta kecepatan angin.
Petugas terus memantau pergerakan abu untuk mengantisipasi dampaknya terhadap wilayah daratan maupun ruang udara.
Tujuh Kecamatan di Kabupaten Serang Terdampak Abu Vulkanik
Dampak erupsi juga mencapai sejumlah wilayah daratan Banten. Pusdalops BPBD Kabupaten Serang melaporkan abu vulkanik berdampak pada tujuh kecamatan pada Sabtu (5/9) pukul 23.00 WIB.
Wilayah tersebut meliputi Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros, dan Padarincang. Kawasan pesisir Anyer dan Cinangka termasuk wilayah yang terdampak.
“Selain dampak berupa abu vulkanik, aktivitas erupsi juga dirasakan melalui suara gemuruh atau getaran. Fenomena tersebut dilaporkan terdengar atau dirasakan di sejumlah wilayah pesisir Lampung, Banten hingga Bandung,” ujar Berton.
Di Kabupaten Serang, laporan suara gemuruh atau getaran berasal dari Kecamatan Carita, Labuan, Panimbang, dan Jiput.
Suara Gemuruh Gunung Anak Krakatau Terdengar hingga Bandung
PVMBG menduga suara gemuruh dan getaran tersebut berkaitan dengan pelepasan energi akustik dari aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau.
Energi akustik yang besar dapat merambat hingga ratusan kilometer. Kondisi atmosfer, pembiasan suara, suhu, serta arah angin pada lapisan atmosfer bagian atas turut memengaruhi penyebaran suara tersebut.
PVMBG juga menyatakan tidak menemukan aktivitas gempa tektonik signifikan di wilayah Jawa Barat yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.
Lampung Selatan dan Tanggamus Ikut Dipantau
Pemantauan BNPB dan instansi terkait juga mencakup sejumlah wilayah Lampung.
Di Kabupaten Lampung Selatan, petugas memantau Kecamatan Punduh Pedada dan Rajabasa. Sementara di Kabupaten Tanggamus, pemantauan mencakup Kecamatan Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, dan Kota Agung.
Di Kecamatan Pematang Sawa, wilayah yang terdampak mencakup Desa Tampang Tua, Tampang Muda, Martanda, Kaor Gading, Way Nipah, Guring, Kampung Baru, Betung, Tanjungan, dan Teluk Berak.
Di Kecamatan Cukuh Balak, wilayah pemantauan mencakup Desa Karang Buah, Kuta Kakhang, dan Pulau Tabuan. Sementara Kecamatan Semaka mencakup Desa Sukaraja.
Untuk Kecamatan Kota Agung, pemantauan mencakup Kelurahan Pasar Madang, Terbaya, Baros, Kuripan, dan Kusa.
Kondisi Masyarakat Masih Relatif Terkendali
Meski abu vulkanik telah mencapai sejumlah wilayah, kondisi masyarakat masih relatif terkendali hingga pemutakhiran terakhir.
BNPB belum menerima laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Petugas masih melakukan pendataan terhadap kerugian materiil dan dampak lainnya.
Aktivitas erupsi saat ini merupakan kelanjutan dari peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Juli 2026.
Pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB, gunung api tersebut mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.
Seismograf saat itu mencatat amplitudo maksimum 23 milimeter dengan durasi erupsi sekitar 20 detik.
Pemerintah kemudian menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Status Level III (Siaga) masih berlaku hingga pemutakhiran terakhir.
Transportasi Laut Merak-Bakauheni Masih Aman
Berbeda dengan transportasi udara, kondisi transportasi laut di sekitar wilayah terdampak masih relatif aman.
Perairan terpantau tenang dan normal. Jalur penyeberangan Merak-Bakauheni juga belum mengalami gangguan berdasarkan pemutakhiran terakhir.
Meski demikian, operator pelayaran dan pengguna jasa transportasi laut tetap perlu mengikuti arahan syahbandar serta instansi berwenang.
BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Erupsi
BNPB bersama pemerintah daerah, PVMBG/Badan Geologi, Basarnas, dan unsur terkait terus memperkuat pemantauan serta koordinasi.
Di Kabupaten Serang, Pusdalops BPBD memantau aktivitas dan sebaran abu vulkanik, mendata dampak, serta berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten, pemerintah kecamatan, desa/kelurahan, dan unsur terkait.
Lampung Selatan juga memperkuat pemantauan melalui koordinasi BPBD dengan BPBD Provinsi Lampung, Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, serta instansi terkait.
Tim Reaksi Cepat melakukan patroli di wilayah pesisir selatan Kalianda dan memantau sebaran abu melalui satelit.
Ribuan Masker Dibagikan kepada Warga
Upaya perlindungan masyarakat juga terus berjalan. BPBD Kabupaten Lampung Selatan bersama Dinas Kesehatan sebelumnya telah membagikan sekitar 3.000 masker kepada masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Rajabasa pada 18 Agustus 2026.
Petugas penanggulangan bencana dan unsur terkait juga bersiaga untuk menghadapi kemungkinan perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Di Kabupaten Tanggamus, BPBD berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan organisasi perangkat daerah melalui Pusdalops Penanggulangan Bencana.
Petugas juga mendukung layanan kesehatan dan pembagian masker. Saat ini, kebutuhan mendesak mencakup masker dan obat-obatan.
Basarnas Siagakan Personel di Tiga Pos SAR
Basarnas Lampung turut menyiagakan personel untuk mengantisipasi kondisi darurat di wilayah perairan.
Sebanyak 12 personel berjaga di masing-masing Pos SAR Bakauheni, Pos SAR Tanggamus, dan Pos SAR Tulang Bawang.
Basarnas juga menyiagakan satu unit rigid inflatable boat (RIB) berkapasitas sekitar 15 orang di Bakauheni.
BNPB Imbau Warga Jauhi Kawah Aktif Gunung Anak Krakatau
Selain abu vulkanik, keselamatan masyarakat pesisir juga menjadi perhatian pemerintah, termasuk potensi tsunami.
Badan Geologi menyampaikan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali terbentuk setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi tersebut, aktivitas erupsi saat ini tidak berpotensi menyebabkan runtuhan tubuh gunung api dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.
Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik diminta tetap tenang dan tidak panik.
BNPB mengimbau warga menggunakan masker dan pelindung mata ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama saat hujan abu atau konsentrasi abu meningkat.
Warga juga perlu mengurangi aktivitas di luar rumah ketika sebaran abu meningkat. Selain itu, masyarakat harus menutup sumber air dan makanan agar tidak tercemar abu vulkanik.
Masyarakat juga perlu membersihkan abu dengan memperhatikan keselamatan.
BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif sesuai rekomendasi PVMBG.
Nelayan, wisatawan, dan pengguna kapal tradisional juga perlu menghindari kawasan gunung api dalam radius bahaya.
Jika mendengar suara dentuman atau merasakan getaran, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
(Redaksi)
