Motif Ekonomi Terkuak di Kasus Kekerasan Daycare Little Aresha, Polisi Soroti Beban Pengasuh

DIKSI.CO – Kasus dugaan kekerasan terhadap puluhan anak di daycare Little Aresha mulai menemukan titik terang. Polisi mengungkap adanya indikasi kuat motif ekonomi di balik praktik pengasuhan yang berujung kekerasan tersebut.
Kapolresta Jogja, Eva Guna Pandia, menyatakan pihaknya terus mendalami dugaan bahwa pengelola daycare mengejar keuntungan dengan menerima anak dalam jumlah besar.
“Termasuk motif ekonomi, karena semakin banyak anak maka semakin besar pemasukan. Ini masih kami dalami lebih lanjut,” ujarnya dalam konferensi pers di Mapolresta Jogja, Senin (27/4/2026).
Polisi Temukan Ketimpangan Jumlah Anak dan Pengasuh
Kasat Reskrim Polresta Jogja, Riski Adrian, menegaskan bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu dugaan utama dalam kasus ini.
Ia mengungkapkan jumlah anak yang dititipkan tidak sebanding dengan kapasitas pengasuh yang tersedia.
“Motif ekonomi sangat terlihat. Satu pengasuh bisa menangani tujuh sampai delapan anak, bahkan dalam beberapa kondisi lebih,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut jauh dari standar pengasuhan yang ideal, terutama untuk anak usia balita yang membutuhkan perhatian intensif.
Janji ke Orang Tua Tak Sesuai Realita
Polisi juga menemukan adanya ketidaksesuaian antara janji pengelola kepada wali murid dengan praktik di lapangan. Orang tua dijanjikan rasio pengasuhan yang lebih kecil, namun kenyataannya daycare tetap menerima anak dalam jumlah besar.
“Dari keterangan wali murid, mereka dijanjikan satu pengasuh menangani dua sampai tiga anak. Tapi faktanya jumlahnya jauh lebih banyak,” ungkap Adrian.
Ia menilai praktik tersebut menunjukkan adanya upaya mengejar keuntungan tanpa mempertimbangkan kualitas pengasuhan.
Beban Kerja Picu Kekerasan
Tekanan kerja yang tingg menjadi dugaan salah satu pemicu terjadinya kekerasan terhadap anak-anak. Dalam satu shift, jumlah pengasuh berkisar antara dua hingga empat orang untuk puluhan anak.
“Satu pengasuh bahkan bisa memegang hingga empat balita dalam satu waktu. Ini tentu sangat berat dan berisiko,” kata Adrian.
Kondisi ruangan yang terbatas juga memperparah situasi, sehingga pengasuh kesulitan mengontrol anak-anak secara optimal.
Arahan Pimpinan Diduga Perparah Kasus
Selain faktor beban kerja, polisi juga mengungkap adanya dugaan arahan dari pihak manajemen daycare. Ketua yayasan dan kepala sekolah diduga turut memberikan instruksi yang berujung pada tindakan kekerasan.
Penyidik kini masih mendalami sejauh mana keterlibatan pihak manajemen dalam kasus tersebut.
Polisi Dalami Kasus dan Periksa Saksi
Hingga saat ini, polisi terus mengembangkan penyidikan dengan memeriksa saksi, termasuk wali murid dan para pengasuh. Total korban dalam kasus ini mencapai 53 anak.
Polisi memastikan akan menindak tegas pihak-pihak yang terbukti terlibat.
Kasus ini menjadi sorotan publik dan membuka kembali pentingnya pengawasan ketat terhadap lembaga penitipan anak, terutama terkait standar pengasuhan dan keselamatan anak.
(Redaksi)
