Inflasi Samarinda Mei 2026 Tembus 3,42 Persen, Harga Emas hingga Beras Jadi Pemicu Utama

DIKSI.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) sebesar 3,42 persen pada Mei 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Samarinda tercatat sebesar 111,62.
Selain itu, inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) mencapai 0,11 persen. Sementara inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) tercatat sebesar 1,90 persen.
Kepala BPS Kota Samarinda, Supriyanto, mengatakan kenaikan harga masih terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat.
Kenaikan Harga Terjadi di Hampir Semua Kelompok Pengeluaran
Supriyanto menjelaskan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat kenaikan sebesar 4,93 persen. Kenaikan juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,29 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 2,46 persen. Kelompok kesehatan meningkat 1,57 persen. Sementara kelompok transportasi tumbuh 2,58 persen.
Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami kenaikan 0,87 persen. Kelompok pendidikan naik 3,48 persen. Adapun kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran meningkat 2,15 persen.
Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mencatat inflasi hingga 12,84 persen.
“Inflasi y-on-y terjadi karena kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran,” ujar Supriyanto dalam rilis BPS Samarinda, 2 Juni 2026.
Emas Perhiasan dan Beras Jadi Penyumbang Utama Inflasi
BPS Samarinda mencatat sejumlah komoditas yang mendorong inflasi tahunan. Komoditas tersebut meliputi emas perhiasan, beras, sigaret kretek mesin (SKM), angkutan udara, dan ikan layang.
Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada sewa rumah, cabai rawit, tomat, minyak goreng, dan pasta gigi. Bawang merah, bahan bakar rumah tangga, ikan tongkol, serta daging ayam ras juga ikut mendorong inflasi.
Biaya pendidikan turut memberikan kontribusi. Kenaikan muncul pada tarif sekolah dasar serta akademi atau perguruan tinggi. Harga nasi dengan lauk, lemari pakaian, solar, dan sate juga ikut naik.
Supriyanto menilai perkembangan harga berbagai komoditas selama Mei 2026 menunjukkan tren kenaikan yang cukup merata.
Sejumlah Komoditas Menahan Laju Inflasi
Di tengah kenaikan harga, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga. Kondisi ini membantu menahan laju inflasi di Samarinda.
Komoditas yang memberi andil deflasi antara lain kangkung, ikan gabus, bayam, dan sabun detergen bubuk. Bawang putih, kentang, telepon seluler, serta baju muslim pria juga mengalami penurunan harga.
Selain itu, harga tempe, sawi hijau, wortel, ayam hidup, dan terong ikut turun. Tarif sekolah menengah atas, tarif air minum PAM, tarif ojek online roda dua, serta sepatu wanita juga memberikan andil deflasi.
Inflasi Bulanan Dipicu Minyak Goreng dan Sewa Rumah
Pada Mei 2026, inflasi bulanan mencapai 0,11 persen. Minyak goreng menjadi salah satu komoditas yang paling besar mendorong kenaikan harga.
Selain itu, kenaikan juga terjadi pada sewa rumah, beras, sate, dan angkutan udara. Cabai merah, solar, bahan bakar rumah tangga, dan bensin ikut menyumbang inflasi bulanan.
Tarif gunting rambut pria, pelumas mesin, ayam goreng, serta buncis juga mengalami kenaikan harga.
Di sisi lain, daging ayam ras dan emas perhiasan memberi andil terhadap deflasi bulanan. Bawang merah, cabai rawit, serta tarif air minum PAM juga membantu menahan inflasi.
Kelompok Makanan Beri Andil Terbesar
Produk Makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar. Kelompok ini memberikan andil sebesar 1,36 persen terhadap inflasi tahunan.
Bidang perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,94 persen. Kelompok transportasi memberi andil sebesar 0,34 persen.
Selanjutnya, kelompok restoran menyumbang 0,25 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil sebesar 0,23 persen.
Bidang berkontribusi 0,15 persen. Kelompok perlengkapan rumah tangga menyumbang 0,09 persen. Sementara kelompok kesehatan dan kelompok rekreasi masing-masing memberi andil 0,05 persen dan 0,01 persen.
Supriyanto menambahkan dua kelompok pengeluaran masih mengalami deflasi tahunan. Kelompok tersebut yakni pakaian dan alas kaki sebesar 0,02 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,04 persen.
(Redaksi)