Gunung Anak Krakatau Siaga, Warga Diminta Jauhi Radius 5 Kilometer

DIKSI.CO – Status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda resmi naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil keputusan tersebut setelah mencatat peningkatan signifikan aktivitas vulkanik yang mengindikasikan adanya pergerakan magma menuju permukaan.

“Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah direkomendasikan,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria,

Aktivitas Vulkanik Meningkat

Badan Geologi mencatat kenaikan jumlah gempa vulkanik, perubahan deformasi tubuh gunung, serta meningkatnya aktivitas permukaan dalam beberapa hari terakhir.

Seluruh indikator tersebut menunjukkan sistem magma di bawah Gunung Anak Krakatau sedang mengalami peningkatan tekanan.

Selain itu, hasil pemantauan menggunakan alat tiltmeter di sejumlah stasiun pengamatan memperlihatkan kecenderungan inflasi atau pengembangan tubuh gunung.

Kondisi tersebut menandakan terjadinya akumulasi tekanan akibat suplai magma dari kedalaman menuju permukaan.

Badan Geologi menilai perkembangan aktivitas tersebut perlu direspons dengan meningkatkan tingkat aktivitas menjadi Level III (Siaga) sebagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat.

Masyarakat Diminta Waspada

Seiring dengan peningkatan status tersebut, Badan Geologi mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Larangan itu bertujuan menghindari potensi bahaya berupa erupsi mendadak, lontaran material pijar, abu vulkanik, maupun guguran material dari tubuh gunung.

Warga yang berada di wilayah pesisir Selat Sunda juga diminta tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas gunung api.

Masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan petugas pemantau gunung api serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Pemantauan Berlangsung 24 Jam

Badan Geologi menegaskan pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau terus dilakukan selama 24 jam.

Pengamatan dilakukan melalui jaringan seismik, pemantauan deformasi, serta observasi visual untuk mendeteksi perubahan aktivitas vulkanik secara dini.

Sementara itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait diminta menyiapkan langkah mitigasi, memperkuat koordinasi, dan meningkatkan kesiapsiagaan apabila aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat.

Pemerintah juga akan terus menyampaikan perkembangan terbaru kepada masyarakat sebagai dasar pengambilan langkah antisipasi demi menjaga keselamatan warga di sekitar Selat Sunda. (*)

Tinggalkan Balasan

Back to top button