Haji Isam Ambil 30% Saham BYAN, Moody’s Ubah Outlook Bayan Resources Jadi Negatif

DIKSI.CO – Rencana masuknya Haji Isam sebagai pemegang sekitar 30 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) beriringan dengan perubahan prospek kredit perusahaan. Moody’s Ratings mengubah outlook BYAN dari stabil menjadi negatif, sementara peringkat perusahaan tetap berada di level Ba1.
Perubahan outlook tersebut bukan karena transaksi saham Haji Isam. Moody’s mengaitkannya dengan ketidakpastian alokasi kuota produksi batu bara setelah revisi RKAB 2026 belum memperoleh persetujuan.
Kondisi itu bahkan membuat BYAN menyatakan force majeure. Moody’s menilai persoalan tersebut dapat menghambat produksi dan menekan kinerja keuangan perusahaan.
“Prospek negatif ini mencerminkan ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi, yang telah mendorong BYAN untuk menyatakan force majeure. Jika tidak segera diselesaikan, ketidakpastian ini dapat menghambat produksi dan membebani kinerja keuangan,” ujar Assistant Vice President Moody’s Ratings Anthony Prayugo dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).
Saham Haji Isam Capai Sekitar 30 Persen BYAN
Haji Isam masuk ke BYAN melalui PT Jhonlin Baratama. Perusahaan investasi tersebut menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan pengendali BYAN, Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Perjanjian itu ditandatangani pada 16 September 2026.
Dalam transaksi tersebut, Haji Isam akan membeli 10.000.000.500 saham biasa BYAN. Jumlah tersebut setara sekitar 30 persen dari saham beredar perusahaan.
Direktur BYAN Jenny Quantro mengatakan transaksi masih bergantung pada sejumlah kondisi pendahuluan.
“Penyelesaian transaksi tunduk pada pemenuhan beberapa kondisi-kondisi pendahuluan,” kata Jenny dalam keterbukaan informasi yang dikutip Kamis (17/9/2026).
Manajemen BYAN juga menyatakan transaksi tersebut tidak memberikan dampak material negatif terhadap kegiatan usaha perusahaan.
“Kejadian tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif yang dapat menganggu kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan,” ujar Jenny.
Moody’s Soroti Ketidakpastian Kuota Produksi
Anthony menjelaskan kondisi kredit Bayan sebenarnya masih kuat. Perusahaan juga masih berada dalam posisi bebas utang.
Namun, ketidakpastian mengenai kuota produksi dapat menghambat pertumbuhan produksi. Dampaknya juga dapat terlihat pada profitabilitas operasional perusahaan.
Moody’s memperkirakan BYAN berpotensi kehilangan EBITDA hingga US$300 juta apabila revisi RKAB 2026 tidak segera disetujui.
Pada tahun sebelumnya, EBITDA Bayan mencapai US$1,1 miliar. Dengan skenario tersebut, EBITDA BYAN pada tahun ini berpotensi berada di sekitar US$700 juta.
“Jika produksi tetap berada di kisaran 39 juta ton di 2027, kami memperkirakan ada penurunan EBITDA lebih jauh menjadi sekitar US$400 juta hingga US$500 juta,” kata Anthony.
Moody’s menggunakan asumsi average selling price (ASP) batu bara sebesar US$48 per metrik ton dalam perhitungannya.
Posisi Utang BYAN Diperkirakan Tetap Rendah
Meski menghadapi risiko produksi, Moody’s memperkirakan metrik kredit Bayan tetap kuat.
Bayan diperkirakan membiayai belanja modal untuk peningkatan kapasitas produksi dan perluasan infrastruktur melalui arus kas internal.
Strategi tersebut dapat membatasi kebutuhan perusahaan untuk menambah utang.
“Kami memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA akan tetap berada di bawah 0,5x selama dua tahun ke depan,” ujar Anthony.
Moody’s memperkirakan peningkatan peringkat kredit BYAN masih kecil kemungkinannya dalam 12-18 bulan mendatang.
Outlook dapat kembali stabil jika Bayan mampu memperoleh alokasi kuota produksi secara konsisten. Perusahaan juga perlu menjaga tingkat produksi, pendapatan, arus kas, dan likuiditas.
Perubahan Kepemilikan Tetap Jadi Perhatian Moody’s
Walaupun transaksi Haji Isam bukan penyebab perubahan outlook, Moody’s tetap memasukkan perubahan kepemilikan sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi penilaian kredit perusahaan ke depan.
Moody’s dapat menurunkan peringkat jika gangguan operasional dan force majeure berlangsung berkepanjangan.
Risiko tersebut dapat melemahkan produksi, pendapatan, arus kas, maupun likuiditas BYAN.
Lembaga pemeringkat itu juga akan memperhatikan kebijakan keuangan setelah perubahan kepemilikan.
Perubahan menuju kebijakan keuangan yang lebih agresif, leverage yang lebih tinggi, pembagian hasil kepada pemegang saham yang meningkat, atau eksposur lebih besar kepada pihak berelasi dapat menjadi faktor penilaian.
ESDM Masih Evaluasi Revisi RKAB
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mengevaluasi revisi RKAB 2026 untuk tiga anak usaha Bayan Resources.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan proses evaluasi masih berjalan.
“Karena lagi evaluasi, mungkin ada beberapa hal yang perlu dilakukan pencermatan atau evaluasi, yang lain sudah kelar,” kata Tri setelah mengikuti rapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (16/9/2026).
Tri menargetkan proses tersebut dapat selesai pada pekan ini.
“Secara spesifik saya belum lihat [penyebab belum terbit], tetapi sedang proses lah. Mudah-mudahan minggu ini kelar,” ujarnya.
Tri menyebut dari sejumlah perusahaan dalam Grup Bayan, hanya tiga anak usaha yang belum menerima revisi RKAB.
Grup Bayan memiliki 16 IUP dan lima PKP2B. Total konsesi tambang batu bara grup tersebut mencapai lebih dari 126.000 hektare di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
(Redaksi)
