Pencairan Es Kutub Makin Cepat, Pesisir Indonesia Terancam

Temuan itu berasal dari penelitian tim Ice Sheet Mass Balance Inter-comparison Exercise (IMBIE) yang terbit di jurnal Scientific Data pada 16 September 2026. Peneliti menggabungkan pengamatan dari 27 misi satelit dan 42 survei independen untuk menyusun catatan perubahan lapisan es dalam rentang puluhan tahun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi negara-negara dengan kawasan pesisir luas, termasuk Indonesia. Sebab, kenaikan muka laut dapat memperbesar risiko banjir pesisir, abrasi, serta tekanan terhadap permukiman dan infrastruktur di kawasan rendah.
Pencairan Es Kutub Makin Cepat
Penelitian tersebut menunjukkan hilangnya massa es tidak berlangsung dengan laju yang sama sepanjang waktu. Greenland dan Antarktika relatif stabil pada dekade awal pengamatan, tetapi kehilangan es meningkat sejak 1990-an dan semakin cepat pada 2010-an.
Menariknya, sebagian besar kehilangan es bukan berasal dari pencairan permukaan akibat udara yang lebih panas. Lebih dari empat perlima kehilangan es terjadi ketika gletser bergerak semakin cepat dan mengalirkan massa es langsung ke laut.
Inès Otosaka dari Northumbria University, yang memimpin penelitian, menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan respons dinamis lapisan es terhadap pemanasan laut.
“Lebih dari empat perlima es yang hilang masuk ke laut melalui gletser yang mengalir lebih cepat, bukan mencair di permukaan,” kata Otosaka dalam keterangan Northumbria University.
Kenaikan Muka Laut Berdampak ke Jutaan Orang
Tambahan air dari pencairan es telah mendorong kenaikan muka laut global sekitar 3,14 sentimeter sejak 1979. Angka tersebut berasal dari kontribusi Greenland dan Antarktika dan belum mencakup seluruh faktor lain yang turut memengaruhi kenaikan permukaan laut.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa setiap kenaikan muka laut sebesar 1 sentimeter dapat meningkatkan jumlah penduduk yang menghadapi banjir tahunan sekitar 2 juta hingga 3 juta orang.
Selain itu, gletser Jakobshavn di Greenland tercatat mundur hingga sekitar 50 meter per hari dalam pengamatan terbaru yang dikutip para peneliti.
Para ilmuwan juga mencatat perlambatan sementara pada periode 2020–2023. Namun, mereka mengaitkannya dengan variasi cuaca jangka pendek, termasuk peningkatan salju di Antarktika Timur dan kondisi musim panas yang lebih ringan di Greenland. Perlambatan itu tidak menunjukkan perubahan jangka panjang terhadap tren kehilangan es.
Pantura Jawa Hadapi Ancaman Ganda
Di Indonesia, persoalan kenaikan muka laut berhadapan dengan masalah lain di sejumlah kawasan pesisir. Pantai Utara Jawa atau Pantura menghadapi kombinasi kenaikan muka laut dan penurunan permukaan tanah.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Agung Syetiawan, menyebut sejumlah wilayah Pantura mengalami kenaikan muka laut sekitar 2,4 hingga 4,3 milimeter per tahun. Wilayah tersebut antara lain Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan dan Demak.
Agung menjelaskan bahwa peneliti menggunakan berbagai teknologi untuk memantau perubahan wilayah pesisir. Teknologi tersebut mencakup Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), Global Navigation Satellite System (GNSS), pengamatan terestris dan pemodelan geospasial multidata.
Data dari InaCORS juga membantu peneliti memvalidasi hasil pengamatan satelit Synthetic Aperture Radar (SAR). Dengan pendekatan tersebut, peneliti dapat melihat dinamika perubahan vertikal di kawasan Pantura.
AHY Soroti Penurunan Tanah di Pantura
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY sebelumnya juga menyoroti kondisi Pantura.
Dalam rapat koordinasi perlindungan pesisir Pantura Jawa pada 4 Mei 2026, AHY menyebut penurunan permukaan tanah di sejumlah kawasan mencapai 15 hingga 20 sentimeter per tahun. Ia juga menyebut kenaikan muka air laut sekitar 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun.
“Ini mengakibatkan terus mengintainya banjir rob yang bisa menghancurkan properti, merusak rumah-rumah warga dan lain-lain,” kata AHY dalam rapat tersebut.
Menurut AHY, tanpa intervensi serius, risiko penggenangan di Pantura dapat semakin besar menuju 2050. Selain banjir rob, masyarakat pesisir juga menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air bersih.
Indonesia Perlu Antisipasi Perubahan Pesisir
Kondisi global dan perkembangan di Pantura menunjukkan bahwa perubahan muka laut tidak hanya menjadi persoalan kawasan kutub. Dampaknya juga berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat di wilayah pesisir.
Kenaikan muka laut dapat memperbesar tekanan terhadap kawasan yang sudah mengalami penurunan tanah. Karena itu, pemerintah membutuhkan pemantauan berkelanjutan, perencanaan tata ruang pesisir, perlindungan pantai, serta pengelolaan sumber daya air yang berbasis data.
Sementara itu, penelitian IMBIE memperingatkan bahwa kehilangan massa es dapat terus memengaruhi kenaikan muka laut dalam beberapa dekade mendatang. Bahkan jika pemanasan global berhenti, perubahan pada lapisan es tetap dapat berlanjut karena sistem es merespons perubahan iklim dengan jeda waktu.
(Redaksi)
