Tak Ditemui Gubernur Kaltim, Massa Aksi 21 April di Samarinda Bertahan Hingga Malam dan Berujung Bentrok

DIKSI.CO – Ribuan massa aksi 21 April di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur memilih bertahan hingga malam, Selasa (21/4/2026), setelah tidak mendapat respons dari Gubernur Rudy Mas’ud. Aksi yang berlangsung sejak siang itu akhirnya berujung ricuh dan dibubarkan aparat kepolisian.
Massa Bertahan Hingga Malam Tanpa Respons
Sejak siang, kawasan Jalan Gajah Mada, Samarinda, dipadati ribuan demonstran dari berbagai elemen masyarakat. Mereka menyuarakan tuntutan terkait kebijakan pemerintah daerah, mulai dari pengelolaan anggaran hingga dugaan tata kelola yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Massa menyampaikan aspirasi secara bergantian melalui orasi dari mobil komando. Bahkan, mereka sempat menyanyikan lagu kebangsaan sebagai bentuk penyampaian aspirasi secara damai.
Namun hingga sore hari, tidak ada satu pun perwakilan resmi pemerintah provinsi yang menemui massa. Kondisi ini membuat kekecewaan terus meningkat.
Kekecewaan Memuncak, Massa Enggan Membubarkan Diri
Sekitar pukul 17.37 Wita, mobil komando meninggalkan lokasi. Meski demikian, massa tetap bertahan di depan kantor gubernur dan menolak membubarkan diri.
Informasi di lapangan menyebutkan Gubernur Rudy Mas’ud berada di dalam kantor, tetapi tidak keluar untuk berdialog. Situasi ini memperkuat kekecewaan peserta aksi yang berharap adanya komunikasi langsung.
Memasuki pukul 18.00 Wita, aparat kepolisian mulai memberikan imbauan agar massa membubarkan diri. Namun, imbauan tersebut tidak sepenuhnya diindahkan.
Aksi Berubah Ricuh, Lemparan Warnai Demonstrasi
Ketegangan meningkat sekitar pukul 18.27 Wita. Sejumlah massa mulai melakukan pelemparan ke arah aparat menggunakan botol, gelas plastik, batu, hingga pecahan keramik.
Selain itu, beberapa demonstran juga terlihat mencoba menarik kawat berduri yang pemasangannya di pintu masuk Kantor Gubernur sebagai bentuk perlawanan terhadap pembatas yang aparat buat.
Polisi Lakukan Pembubaran Terukur
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Kapolresta Samarinda, Hendri Umar, memerintahkan pasukan Dalmas untuk maju sekitar pukul 18.58 Wita.
Aparat mengerahkan ratusan personel, dengan dukungan dua unit water cannon dan kendaraan pengurai massa. Pembubaran berjalan secara terukur tanpa menggunakan gas air mata.
“Kami sudah mengimbau sejak awal. Karena situasi mulai mengarah pada gangguan keamanan, kami lakukan pembubaran,” ujar Hendri Umar di lokasi.
Massa Terpecah, Situasi Belum Sepenuhnya Kondusif
Desakan aparat membuat massa terpecah ke dua arah. Sebagian mundur ke Jalan Jenderal Sudirman, sementara lainnya bergerak ke Jalan RE Martadinata.
Hingga malam, sejumlah kelompok massa masih terlihat bertahan di kedua titik tersebut. Aparat kepolisian tetap bersiaga untuk memastikan situasi benar-benar terkendali.
Minimnya Dialog Jadi Catatan Penting
Aksi 21 April yang berakhir ricuh ini menyoroti minimnya komunikasi antara pemerintah daerah dan masyarakat. Tidak adanya dialog langsung menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya tensi di lapangan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keterbukaan dan respons cepat dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam meredam potensi konflik saat penyampaian aspirasi publik berlangsung.
(Redaksi)
