FPKS Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni 34 Anak Yatim di Samarinda

DIKSI.CO – Forum Pertani Kelapa Sawit Kalimantan Timur (FPKS) menggelar buka puasa bersama sekaligus menyalurkan santunan kepada puluhan anak yatim dan kelompok rentan di Samarinda, Sabtu (27/2/2026).
Kegiatan bertajuk “FPKS Berbagi” itu menjadi ajang mempererat sinergi antara petani, perusahaan, pemerintah, dan kalangan akademisi.
Acara tersebut dihadiri Kepala Bidang Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, perwakilan perusahaan kelapa sawit, tokoh masyarakat, serta mahasiswa dari Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
FPKS Berbagi, Santuni Anak Yatim dan Kaum Rentan
Ketua Umum FPKS, Asbudi, menegaskan kegiatan berbagi santunan merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk hadir di tengah masyarakat.
“Program berbagi santunan ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk terus hadir di tengah masyarakat. Kami ingin kebersamaan ini tidak hanya terasa di sektor perkebunan, tetapi juga dalam kegiatan sosial,” ujar Asbudi dalam sambutannya.
Santunan diberikan kepada 24 anak yatim-piatu dan tiga pengasuh dari Panti Asuhan Baitul Hasan, serta 10 anak dan lima perempuan tangguh dari Rumah Berdaya Perempuan Samarinda. Total 34 anak bersama para pendamping menerima santunan pada kegiatan tersebut.
Ketua panitia, Jumri, menyebut agenda berbuka puasa dan santunan merupakan program rutin FPKS setiap bulan Ramadhan.
Dorong Regenerasi Petani dan Tata Kelola Berkelanjutan
Dalam kesempatan itu, Asbudi juga menyoroti pentingnya peran mahasiswa sebagai generasi penerus sektor perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur.
“Mahasiswa ini nantinya akan menjadi generasi para petani. Mereka harus kita dukung agar mampu mengelola perkebunan secara berkelanjutan,” katanya.
Ia menegaskan, FPKS tidak hanya bergerak dalam kegiatan sosial, tetapi juga memiliki langkah strategis dalam memajukan sektor kelapa sawit di daerah.
“Kami ingin FPKS terlibat aktif dalam perencanaan. Mulai dari penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas produksi, hingga mendorong transparansi dalam penetapan harga. Dengan duduk bersama pemerintah dan perusahaan, kita bisa menjaga iklim usaha yang sehat,” ujarnya.
Terkait harga tandan buah segar (TBS), Asbudi menambahkan bahwa kenaikan harga memerlukan proses dan pengawalan bersama.
“Kenaikan harga tidak terjadi begitu saja. Ada proses, ada pengawasan, ada dialog. Kami di FPKS berupaya menjadi jembatan agar aspirasi petani tersampaikan, sehingga harga sawit tetap stabil dan cenderung meningkat sesuai mekanisme yang adil,” tegasnya.
Dinas Perkebunan Apresiasi Peran FPKS
Kepala Bidang Dinas Perkebunan Kaltim, Taufikurrahman, mengapresiasi kegiatan sosial yang diinisiasi FPKS sekaligus menilai organisasi tersebut berperan strategis dalam stabilisasi harga sawit.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Dinas Perkebunan tidak bisa berjalan sendiri tanpa mitra. Kami sejajar dengan FPKS dan para pemangku kepentingan lainnya untuk mengawal pembangunan perkebunan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, FPKS turut berkontribusi dalam memberikan masukan saat penetapan harga TBS serta melakukan pengawasan di lapangan bersama pemerintah.
“Peran FPKS sangat strategis dalam menjaga stabilitas harga sawit, karena mereka menjadi jembatan antara petani, perusahaan, dan pemerintah,” katanya.
Namun demikian, ia mengakui adanya kendala kewenangan di tingkat provinsi dalam penyaluran bantuan bibit dan pupuk kepada petani setelah perubahan regulasi yang mengalihkan sebagian kewenangan ke pemerintah pusat.
Menutup kegiatan, Asbudi menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan dalam pelaksanaan acara.
“Kami mohon maaf jika masih ada kekurangan. Semoga apa yang kami lakukan hari ini membawa manfaat,” ucapnya.
(Redaksi)
