Gempa M 7,7 Guncang NTT, 47 Orang Tewas dan 5.000 Warga Mengungsi

DIKSI.CO – Kepanikan masih menyelimuti sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan tersebut pada Sabtu (15/8/2026). Hingga Minggu (16/8), sebanyak 47 orang dilaporkan meninggal dunia dan sekitar 5.000 warga mengungsi.
Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB mencatat korban meninggal tersebar di enam wilayah. Korban terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 23 orang, disusul Manggarai Timur 17 orang dan Sikka empat orang. Sementara Ende, Manggarai Barat, dan Nagekeo masing-masing mencatat satu korban jiwa.
Jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah. Hingga Minggu dini hari, tercatat 341 gempa susulan dengan magnitudo 3,7 hingga 6,2.
Gempa NTT: Ribuan Warga Bertahan di Pengungsian
Guncangan kuat membuat ribuan warga meninggalkan rumah untuk mencari tempat aman. Kabupaten Sikka menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, mencapai 3.356 jiwa.
Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi tercatat 2.078 jiwa, sedangkan Nagekeo menampung sekitar 500 pengungsi.
Kondisi para penyintas membuat kebutuhan logistik menjadi perhatian utama. Warga membutuhkan tenda darurat, makanan, obat-obatan, selimut, velbed, air bersih hingga genset.
Kerusakan juga membuat layanan kesehatan ikut terdampak. Dari 21 rumah sakit di wilayah kabupaten yang terdampak gempa, enam rumah sakit mengalami kerusakan ringan dan tiga lainnya rusak berat.
Dari 190 puskesmas, sebanyak 37 mengalami kerusakan sedang dan 20 puskesmas rusak berat. Fasilitas kesehatan yang terdampak tersebar di Nagekeo, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Ngada.
Ratusan Rumah Mengalami Kerusakan
BNPB mencatat dampak gempa NTT juga meluas ke permukiman dan fasilitas publik. Sebanyak 914 rumah mengalami rusak berat, 126 rumah rusak sedang, dan 317 rumah rusak ringan.
Selain rumah warga, kerusakan tercatat pada 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, 38 kantor pemerintah, serta lima tempat ibadah.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas transportasi.
“Kemudian untuk bandara dari Kemenhub, ada lima bandara terdampak, tapi bukan di runway [landasan pacu], tapi di gedung terminal. Lalu pelabuhan terdampak ada dua pelabuhan Reo di Manggarai dan Maumere,” ujar Suharyanto.
Di Kabupaten Manggarai, dampak kerusakan juga cukup signifikan. BNPB mencatat 29 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan sembilan rumah rusak ringan. Lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan turut mengalami kerusakan. Sementara di Manggarai Timur terdapat 23 rumah rusak berat.
Dua Warga Tewas Tertimpa Reruntuhan di Sikka
Dampak gempa juga dirasakan di Pelabuhan Laurentius Say, Sikka. Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi melaporkan dua orang meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan.
“Yang satu ibu mau ke Kupang. Jadi kena runtuhan, meninggal. Satu lagi bapak pasien orang Adonara, sudah mau pulang di pelabuhan,” kata Simon.
Simon menyebut Pelabuhan Laurentius Say menjadi salah satu lokasi dengan kerusakan terparah. Pasien rumah sakit juga terpaksa dievakuasi ke luar gedung.
“Kalau di fasilitas umum, sementara belum ada laporan kerusakan yang berat. Tadi saya pantau di rumah sakit, pasien diungsikan di luar.”
Ia menambahkan, pemasangan tenda darurat juga dilakukan untuk membantu penanganan warga terdampak.
“Dan sementara sedang berlangsung pemasangan tenda darurat dari BPBD dan dinas sosial,” kata Simon.
Tim SAR Evakuasi Korban di Maumere
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, dan Polri turut bergerak melakukan evakuasi korban. Di Maumere, tim mengevakuasi tiga orang yang terdampak runtuhan bangunan di Pelabuhan Laurentius Say.
Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman mengatakan satu korban meninggal dunia, sedangkan dua lainnya mengalami luka-luka.
“Kami menerima informasi bahwa saat terjadi gempa, bangunan yang berada di Pelabuhan Lauren Say Maumere-Sikka rubuh dan menimpa satu orang korban atas Meliana Nenong, perempuan berusia 54 tahun dengan kondisi meninggal dunia,” kata Fathur.
“Dan dua orang luka-luka dan ketiganya langsung dievakuasi Tim SAR Gabungan ke RSUD T.C Hillers Maumere.”
Menurut Fathur, tim SAR juga bergerak menuju Nagekeo dan sejumlah wilayah lain yang terdampak. Pendataan korban masih dikoordinasikan bersama BPBD setempat.
Warga Berlari ke Perbukitan
Kepanikan juga terjadi di wilayah pesisir. Jurnalis di Sikka, Arnold Welianto, mengaku langsung menyelamatkan keluarganya ketika gempa mengguncang.
“Saya kaget dan bangun, langsung menuju ke kamar anak, langsung tarik anak keluar dari rumah, istri ikut dari belakang. Rumah kami pinggir pantai,” ujar Arnold.
Menurut Arnold, warga berbondong-bondong menuju perbukitan setelah merasakan gempa susulan dan melihat air laut sempat surut.
“Karena setelah gempa besar itu masih terjadi gempa susulan dan air laut sempat surut agak lama,” tambahnya.
Di Kota Komba, Manggarai Timur, warga juga memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena khawatir terjadi gempa susulan dan kenaikan air laut.
BMKG Sebut Sesar Utara Flores Jadi Pemicu
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama menjelaskan gempa berkaitan dengan aktivitas sesar aktif di bagian utara Pulau Flores. Aktivitas sesar tersebut disebut pernah berkaitan dengan gempa pada 1992.
“Jadi memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara Pulau Flores. Seperti juga pada tahun 1992. Jadi ini penyebabnya adalah sesar yang di utara Pulau Flores,” kata Arief.
Gempa terjadi pada pukul 05.58 WITA dengan kedalaman 15 kilometer. Pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Peringatan Tsunami Telah Dicabut
Gempa NTT tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami. Sejumlah wilayah bahkan mencatat kenaikan air laut, termasuk Bakalang, Alor, Dompu, Flores Timur, Labuan Bajo, Sikka, dan Maurole.
Di Maurole, Ende, ketinggian air tercatat hampir satu meter.
Meski peringatan tsunami telah berakhir, BMKG meminta masyarakat tetap menjauhi kawasan pesisir.
“Untuk saat ini tapi tetap untuk masyarakat jangan jangan mendekati pantai,” kata Arief.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama memastikan peringatan tsunami telah dihentikan.
“Pengakhiran telah diterbitkan,” kata Nelly dalam konferensi pers daring.
Sementara itu, BNPB mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap gempa susulan dan tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan maupun retakan akibat gempa.
(Redaksi)