Pasang Laut Hingga 3,1 Meter Ancam Tambak di Pesisir Kaltim, BMKG Minta Warga Waspada
DIKSI.CO, BALIKPAPAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan memperingatkan potensi pasang laut tinggi yang dapat merusak tambak di sejumlah wilayah pesisir Kalimantan Timur (Kaltim).
BMKG perkirakan tinggi pasang laut mencapai 2,8 hingga 3,1 meter pada awal Januari 2026.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Diyan Novrida, mengatakan pasang laut berpotensi menimbulkan berbagai dampak, mulai dari banjir rob hingga kerusakan tambak milik warga.
“Pasang laut bisa menyebabkan banjir rob, merendam tambak hingga rusak, serta mengganggu berbagai aktivitas masyarakat pesisir,” katanya, Kamis (1/1/2026).
Muara Mahakam Rawan Tambak Terendam
BMKG mencatat salah satu wilayah yang terdampak signifikan adalah Muara Sungai Mahakam, khususnya Pulau Nubi di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Di kawasan ini, pasang laut tertinggi BMKG perkirakan mencapai 2,8 meter dan terjadi pada 4–5 Januari 2026 sekitar pukul 19.00–20.00 WITA.
Sementara itu, surut terendah BMKG prediksi mencapai 0,3 meter pada Senin (5/1/2026) pukul 02.00 WITA.
Pulau Nubi dan sekitarnya diketahui memiliki banyak tambak udang dan kepiting yang masih aktif beroperasi.
BMKG mengimbau para petambak untuk meningkatkan kesiapsiagaan guna mencegah kerugian akibat luapan air laut dan arus yang kuat.
Balikpapan dan Sekitarnya Berpotensi Terdampak
Selain Muara Mahakam, perairan Balikpapan juga menurut BMKG akan mengalami pasang laut tinggi.
BMKG prediksi pasang tertinggi akan mencapai 3,1 meter pada 6 Januari 2026 pukul 20.00 WITA.
Adapun surut terendah perkiraan akan terjadi pada Rabu (7/1/2026) pukul 13.00 WITA dengan ketinggian 0,4 meter.
BMKG menyebut sedikitnya lima kawasan pesisir yang berpotensi terdampak langsung, yakni Samboja, Samboja Barat, Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara, dan Kabupaten Paser. Di wilayah tersebut masih terdapat banyak tambak aktif milik warga.
“Arus pasang laut bisa menyebabkan udang, ikan, dan kepiting di tambak hanyut atau mati,” ujar Diyan.
Gangguan Aktivitas Pelabuhan dan Permukiman
BMKG juga memperingatkan dampak lain dari pasang laut, seperti terganggunya aktivitas bongkar muat di pelabuhan serta aktivitas sosial masyarakat pesisir.
Bahkan, air laut berpotensi masuk ke permukiman warga yang berada dekat garis pantai.
“Kondisi ini bisa membahayakan, terutama bagi anak-anak yang bermain di pantai,” tambahnya.
Peringatan serupa juga berlaku untuk wilayah Muara Sungai Berau, Teluk Sangkulirang di Kabupaten Kutai Timur, serta kawasan sekitar Pelabuhan Tanjung Redeb.
BMKG mengimbau seluruh pihak, termasuk pengelola pelabuhan dan petambak, untuk terus memantau informasi cuaca dan pasang surut laut demi keselamatan dan kelangsungan aktivitas ekonomi. (*)