DLH Samarinda Bidik Target Operasional Insinerator, Tekan Emisi dan Kurangi Beban Sampah Kota

DIKSI.CO – Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus mematangkan target pengoperasian insinerator sebagai solusi pengelolaan sampah perkotaan. Teknologi pembakaran sampah ini ditargetkan mampu mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menekan emisi asap agar tetap ramah lingkungan.
Saat ini, DLH Samarinda fokus pada tahapan krusial sebelum insinerator beroperasi penuh, yakni uji coba teknis alat dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh proses pembakaran sampah berjalan aman, efisien, dan sesuai standar lingkungan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan kesiapan operator menjadi faktor utama dalam mencapai target operasional insinerator. Mengingat teknologi ini tergolong baru dan bekerja pada suhu ekstrem, DLH tidak ingin mengambil risiko dengan pengoperasian yang terburu-buru.
“Pelatihan ini secara teknis mengarahkan ke operasional dan keselamatan kerja dari tenaga operatornya. Karena ini barang baru dengan suhu tinggi lebih dari 800 derajat, maka harus dilakukan pelatihan kerja secara khusus maupun penggunaan alat pelindung diri yang tepat,” ujar Suwarso.
Target Suhu Pembakaran Jadi Fokus Utama
DLH Samarinda menargetkan insinerator dapat beroperasi pada suhu pembakaran optimal, yakni di atas 800 derajat Celsius. Suhu tinggi ini dinilai mampu menghancurkan sampah secara maksimal sekaligus meminimalkan emisi asap yang berpotensi mencemari udara.
Saat ini, proses uji coba masih dilakukan secara bertahap. Mesin insinerator dijalankan dari suhu rendah untuk memastikan seluruh sistem berfungsi normal sebelum mencapai suhu puncak.
Berdasarkan informasi dari pihak vendor, Wisanggeni Generasi 7, uji coba insinerator membutuhkan waktu sekitar tujuh hari. Pada tahap awal, suhu mesin diatur pada kisaran 300 hingga 400 derajat Celsius, kemudian dinaikkan secara bertahap hingga mencapai target.
Pengaturan suhu menjadi aspek krusial dalam pengoperasian insinerator. Jika suhu tidak tercapai secara optimal, potensi munculnya asap akan lebih besar. Sebaliknya, ketika suhu ideal tercapai, proses pembakaran akan lebih sempurna dan emisi dapat ditekan seminimal mungkin.
Kebutuhan Operator Masih Jadi Tantangan
Selain kesiapan alat, DLH Samarinda juga menghadapi tantangan dalam pemenuhan jumlah operator insinerator. Hingga saat ini, DLH baru menjaring 24 peserta pelatihan dari total kebutuhan sebanyak 72 operator.
Kondisi tersebut mendorong DLH untuk kembali membuka proses rekrutmen dengan standar seleksi yang cukup ketat. Suwarso menegaskan bahwa tidak semua orang dapat langsung bekerja sebagai operator insinerator tanpa pembekalan yang memadai.
“Seleksinya memang agak ketat karena mereka harus bekerja pada lingkungan yang tidak seperti biasa. Perlu kehati-hatian secara khusus, maka operator harus dibekali pengetahuan yang matang,” tegasnya.
Menurut Suwarso, operator insinerator akan bekerja di lingkungan dengan risiko tinggi, sehingga kesalahan kecil dapat berdampak besar. Oleh karena itu, DLH menekankan pentingnya pemahaman teknis, disiplin kerja, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
Uji Coba di Sejumlah Lokasi Strategis
Sebagai bagian dari target jangka menengah, DLH Samarinda telah mulai melakukan uji coba insinerator di beberapa lokasi strategis. Beberapa unit telah dipasang dan diuji coba di kawasan Polder Air Hitam serta Jalan Nusyirwan Ismail.
Ke depan, DLH berencana memperluas jangkauan operasional insinerator ke wilayah lain yang memiliki volume sampah tinggi, seperti Jalan Wanyi, Lempake, dan Bukit Pinang. Penyebaran ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir sekaligus menekan biaya pengangkutan sampah.
Namun, proses distribusi dan pemasangan insinerator tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Di wilayah Loa Janan Ilir, misalnya, perakitan unit insinerator belum dapat diselesaikan sepenuhnya karena akses jalan menuju lokasi masih memerlukan perbaikan.
Pengangkutan alat ke lokasi tersebut harus dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan kerusakan pada unit maupun risiko keselamatan di lapangan.
Evaluasi Berkelanjutan Demi Keamanan Lingkungan
DLH Samarinda memastikan bahwa seluruh proses pengoperasian insinerator akan melalui evaluasi berkelanjutan. Pendampingan dari pihak vendor akan terus dilakukan untuk memastikan setiap unit berfungsi normal dan aman bagi lingkungan sekitar.
Selain itu, kondisi dinding insinerator yang dilengkapi sistem pendingin berbahan semen juga menjadi perhatian. Sebelum beroperasi penuh, dinding tersebut harus benar-benar kering agar tidak memicu pengasapan berlebih saat suhu tinggi dicapai.
Dengan persiapan teknis, pelatihan operator, dan pengawasan ketat, DLH Samarinda optimistis target pengoperasian insinerator dapat tercapai. Teknologi ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah kota sekaligus menjaga kualitas lingkungan hidup di Samarinda.
(Redaksi)
