6 Taman Nasional di Indonesia Dilanda Karhutla, Ribuan Hektare Hutan Terbakar Sepanjang 2026

Gunakan suara perangkat Anda
1,262 dibaca
Bagikan:

Ringkasan Cepat

  • DIKSI.CO - Habitat satwa liar dan kelestarian ekosistem kawasan konservasi menghadapi ancaman serius akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di…
  • Kebakaran melanda berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Papua, Lampung, Jawa Timur, Jambi hingga Kalimantan Tengah.
  • Luas area terdampak mencapai ribuan hektare, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan fungsi ekologis kawasan taman nasional.

DIKSI.CO – Habitat satwa liar dan kelestarian ekosistem kawasan konservasi menghadapi ancaman serius akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah taman nasional sepanjang 2026.

Kebakaran melanda berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Papua, Lampung, Jawa Timur, Jambi hingga Kalimantan Tengah. Luas area terdampak mencapai ribuan hektare, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan fungsi ekologis kawasan taman nasional.

Taman Nasional Wasur di Papua Selatan menjadi kawasan dengan luas kebakaran terbesar, yakni mencapai 8.708 hektare selama Januari hingga Oktober 2026.

Selanjutnya, Taman Nasional Way Kambas di Lampung mencatat kebakaran seluas 7.000 hektare pada periode Agustus hingga Oktober. Taman Nasional Lorentz di Papua juga mengalami kebakaran dengan luas mencapai 6.532 hektare selama Januari hingga Agustus.

Sementara itu, kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, mencapai 3.531 hektare sepanjang Januari hingga September.

Dua kawasan lainnya juga mengalami kebakaran. Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi mencatat luas area terdampak 1.776 hektare pada Agustus, sedangkan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah mencapai 1.234 hektare pada Oktober.

Kebakaran Taman Nasional Ganggu Fungsi Ekologis

Kebakaran di kawasan konservasi tidak sekadar menyebabkan kerusakan tutupan vegetasi. Bencana tersebut juga mengganggu berbagai fungsi ekologis hutan.

Taman nasional memiliki peran penting sebagai penyangga daerah aliran sungai (DAS), pengendali erosi, serta penyimpan karbon. Ketika kebakaran meluas, fungsi-fungsi tersebut berisiko mengalami penurunan.

Dampak lainnya menyasar kehidupan satwa liar. Kebakaran dapat merusak habitat, mengurangi sumber pakan, serta mempersempit ruang gerak satwa yang bergantung pada ekosistem hutan.

Gajah Sumatera dan rusa menjadi beberapa satwa yang menghadapi ancaman akibat kerusakan habitat tersebut.

Sejumlah faktor turut memicu terjadinya karhutla. Kondisi vegetasi yang kering, kelalaian dalam aktivitas pembukaan lahan, serta minimnya curah hujan membuat kawasan hutan semakin rentan terbakar.

Pemadaman Karhutla Dilakukan Melalui Darat dan Udara

Untuk mengendalikan kebakaran, tim gabungan terus melakukan penanganan secara intensif di sejumlah kawasan terdampak.

Petugas mengerahkan pemadaman melalui jalur darat dan udara. Mereka juga melakukan penyekatan untuk membatasi pergerakan api serta pendinginan guna mencegah munculnya kembali titik panas.

Selain itu, pemerintah mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai salah satu langkah mendukung penanggulangan karhutla.

Pengelola kawasan taman nasional juga mengambil langkah pengamanan dengan menutup sementara sejumlah jalur pendakian. Kebijakan ini bertujuan mengutamakan keselamatan pengunjung sekaligus mendukung kelancaran operasi pemadaman.

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pihak dalam menangani bencana karhutla.

Ia menyebut kolaborasi, respons cepat, integrasi, dan sinkronisasi sebagai prinsip utama dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Melalui koordinasi lintas sektor, pemerintah berharap penanganan karhutla dapat berjalan lebih efektif, sekaligus mencegah kerusakan kawasan konservasi semakin meluas.

(Redaksi)

DIKSI.co

VNS

Tim Redaksi DIKSI.co

Menyajikan informasi terkini, akurat dan terpercaya untuk masyarakat.