Tutupan Hutan Kaltim Masih di Atas 60 Persen, Jadi Penyangga Lingkungan di Tengah Tekanan Industri

DIKSI.CO – Kalimantan Timur (Kaltim) masih menyimpan kekuatan ekologis yang penting di tengah derasnya aktivitas industri ekstraktif. Di saat banyak wilayah di Indonesia mengalami penyusutan kawasan hutan, provinsi ini justru mencatat tutupan hutan yang masih tergolong tinggi. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyebut sekitar 62 persen wilayah daratan Kaltim hingga kini masih tertutup hutan hujan tropis.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltim, Susilo Pranoto menyampaikan data tersebut. Ia mengungkapkan, luas daratan Kalimantan Timur mencapai sekitar 12,69 juta hektare, dan mayoritas wilayah tersebut masih berupa kawasan hutan primer dan sekunder.
“Kalau kita melihat dari angka tutupan hutan, Kaltim masih berada di posisi yang relatif aman. Sekitar 62 persen wilayah daratan masih berupa hutan. Ini jauh di atas ketentuan nasional yang mensyaratkan minimal 30 persen,” ujar Susilo, Senin (19/1/2025).
Tutupan Hutan Jadi Indikator Komitmen Daerah
Susilo menilai capaian tutupan hutan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Menurutnya, meskipun tekanan terhadap kawasan hutan terus meningkat, Kaltim masih mampu mempertahankan proporsi hutan di atas ambang batas nasional.
Ia tidak menampik bahwa sektor pertambangan, perkebunan, serta pembangunan infrastruktur memberikan tekanan besar terhadap ruang hidup hutan. Namun, kebijakan tata ruang dan pengawasan berperan penting dalam menahan laju deforestasi.
“Tekanan itu ada dan nyata. Tapi kami terus melakukan evaluasi dan pengendalian agar pemanfaatan ruang tetap terkendali,” katanya.
Kondisi Hutan Tidak Merata di Setiap Wilayah
Susilo menjelaskan, kondisi tutupan hutan di Kalimantan Timur tidak merata di seluruh kabupaten dan kota. Kabupaten Mahakam Ulu menjadi wilayah dengan kondisi ekologi paling terjaga. Di daerah ini, tutupan hutan primer dan sekunder masih mencapai sekitar 80 persen dari total luas wilayah.
“Mahakam Ulu relatif masih sangat baik karena tekanan industrinya belum sebesar daerah lain. Akses yang terbatas juga ikut menjaga kawasan hutan di sana,” jelasnya.
Sementara itu, wilayah yang lebih dahulu berkembang dan memiliki aktivitas industri cukup padat, seperti Kutai Barat dan Kutai Kartanegara, masih mampu mempertahankan tutupan hutan di kisaran 50 persen.
“Dengan intensitas pemanfaatan ruang yang tinggi, angka itu tetap patut diapresiasi. Ini hasil dari pengawasan dan kebijakan tata ruang yang terus kami evaluasi,” ujar Susilo.
Insentif Dunia Internasional untuk Kaltim
Upaya Kalimantan Timur dalam menjaga tutupan hutan juga mendapat pengakuan internasional. Pemerintah Provinsi Kaltim tercatat menerima insentif penurunan emisi gas rumah kaca dari Bank Dunia dengan nilai mencapai 110 juta dolar Amerika Serikat.
Insentif tersebut sebagai kompensasi atas keberhasilan daerah menekan laju deforestasi dan menjaga kawasan hutan.
“Sebagian dana insentif itu sudah dicairkan. Penggunaannya kami arahkan kembali ke program-program lingkungan, terutama yang melibatkan masyarakat secara langsung,” ungkap Susilo.
Program tersebut mencakup perhutanan sosial, penguatan ekonomi masyarakat sekitar hutan, serta kegiatan konservasi berbasis komunitas. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama agar perlindungan hutan dapat berlangsung berkelanjutan.
Akademisi Ingatkan Risiko Kerusakan Jangka Panjang
Di sisi lain, kalangan akademisi mengingatkan bahwa menjaga hutan yang masih utuh jauh lebih penting daripada mengandalkan reklamasi lahan bekas tambang. Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Unmul), Ibrahim, menegaskan bahwa secara ilmiah hutan hujan tropis tidak bisa digantikan.
“Reklamasi tidak akan pernah mengembalikan fungsi ekologis hutan seperti semula. Yang dihasilkan biasanya hanya tutupan hijau secara visual,” tegas Ibrahim.
Ia menjelaskan, struktur tanah di lahan bekas tambang telah rusak. Lapisan tanah atas atau top soil hilang, unsur hara berkurang, dan mikroorganisme tanah mati.
“Akibatnya, banyak tanaman tidak bisa tumbuh optimal atau bahkan mati,” jelasnya.
Kerusakan Hulu Picu Banjir di Hilir
Ibrahim juga menyoroti dampak kerusakan hutan terhadap fungsi hidrologis kawasan. Hilangnya daya serap tanah membuat air hujan langsung mengalir ke sungai dan danau, meningkatkan risiko banjir dan sedimentasi.
Ia secara khusus menekankan pentingnya menjaga kawasan hulu Sungai Mahakam. Menurutnya, degradasi di kawasan hulu akan berdampak langsung ke wilayah hilir seperti Kota Samarinda.
“Kalau kawasan hulunya rusak, jangan heran kalau banjir di Samarinda terus berulang. Ini hubungan sebab-akibat yang sangat jelas,” tegasnya.
Ibrahim menilai pembangunan ke depan harus lebih menekankan prinsip pencegahan dibanding pemulihan.
“Hutan yang masih berdiri itu aset. Menjaganya jauh lebih murah dan efektif daripada memperbaiki kerusakan yang sering kali tidak bisa dipulihkan sepenuhnya,” pungkasnya.
Dengan tutupan hutan yang masih berada di atas 60 persen, Kalimantan Timur kini berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, pembangunan ekonomi terus berjalan. Namun di sisi lain, tanggung jawab menjaga hutan sebagai penyangga kehidupan dan iklim global menjadi pekerjaan besar yang tidak bisa ditunda.
(Redaksi)
