Panji Diduga Terpisah dari Induknya, Anakan Orang Utan di Kutim Dievakuasi Tim Gabungan

DIKSI.CO – Seekor anakan Orang Utan jantan bernama Panji berhasil diamankan tim gabungan setelah tersesat masuk ke kawasan permukiman warga di Desa Rawa Indah, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.
Satwa dilindungi ini diduga terpisah dari induknya saat mencari makan di lingkungan yang asing bagi dirinya.
Laporan Cepat dari Masyarakat
Informasi evakuasi pertama kali disampaikan melalui akun resmi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.
Laporan awal diterima melalui call center BKSDA pada Kamis (12/2/2026) dari Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kutai Timur, yang menemukan keberadaan Panji di sekitar permukiman warga.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pada Jumat (13/2/ 2026), Tim Seksi KSDA Wilayah II Tenggarong, bersama Conservation Action Network (CAN) Borneo dan warga setempat, langsung menuju lokasi.
Tim menemukan Panji sedang tertidur di atas pohon mangga di pekarangan warga.
Evakuasi dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari stres pada satwa.
Kondisi Panji Saat Evakuasi
Berdasarkan pemeriksaan awal, Panji berusia sekitar 15 bulan dan menunjukkan perilaku agresif, respons alami satwa liar yang berada di lingkungan asing.
Setelah evakuasi, Panji dibawa ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, yang dikelola CAN Borneo, untuk menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan penanganan lanjutan.
Paulinus Kristianto, Direktur CAN Borneo, menyampaikan bahwa bayi Orang Utan ini besar kemungkinan terpisah dari induknya.
“Panji kemungkinan berusaha bertahan hidup dengan mencari makanan di pohon buah mangga di pekarangan warga,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pelaporan cepat masyarakat melalui call center BKSDA untuk keberhasilan penyelamatan satwa liar.
Rehabilitasi dan Perlindungan Habitat
Tim medis di PPS Long Sam kini memantau kesehatan dan perilaku Panji.
Proses rehabilitasi anakan Orang Utan memerlukan waktu panjang, termasuk pemulihan fisik dan pembelajaran perilaku alami sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat.
Kasus kemunculan satwa liar di permukiman bukan pertama kali terjadi di Kalimantan Timur.
Alih fungsi lahan, fragmentasi hutan, dan aktivitas manusia sering memicu konflik manusia-satwa.
Pihak konservasi terus mengimbau warga agar menjaga lingkungan dan melaporkan temuan satwa liar melalui jalur resmi.
Dengan kolaborasi berbagai pihak dan penanganan tepat, diharapkan Panji dapat menjalani rehabilitasi optimal dan kembali ke habitat alaminya di masa mendatang. (*)
