Iran Ancam Perang Besar Jika Khamenei Diserang, Pezeshkian Peringatkan AS dan Israel

DIKSI.CO – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei akan berujung pada perang besar-besaran dengan bangsa Iran.

Pernyataan tegas tersebut muncul di tengah meningkatnya retorika Amerika Serikat dan Israel yang berambisi menyingkirkan pemimpin tertinggi Iran.

Pezeshkian menyampaikan peringatan itu melalui unggahan di akun X miliknya pada Minggu. Ia menegaskan bahwa Ayatollah Khamenei bukan sekadar simbol politik, melainkan representasi kedaulatan dan kehendak rakyat Iran.

Serangan terhadap Khamenei Sama dengan Perang Melawan Iran

Masoud Pezeshkian menilai bahwa ancaman pembunuhan terhadap Ayatollah Khamenei merupakan bentuk agresi langsung terhadap negara dan bangsa Iran. Menurutnya, langkah semacam itu akan memicu konflik terbuka dalam skala besar.

Pezeshkian juga menyinggung peran Amerika Serikat dan sekutunya dalam menciptakan tekanan berkepanjangan terhadap Iran, terutama melalui sanksi ekonomi.

Dalam unggahannya, ia menyebut sanksi yang Amerika Serikat jatuhkan sebagai tindakan tidak manusiawi yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat Iran.

Tuding Sanksi AS Jadi Akar Penderitaan Rakyat

Pezeshkian menegaskan bahwa kesulitan ekonomi yang masyarakat Iran alami tidak dapat lepas dari kebijakan sanksi yang Washington dan sekutunya tetapkan.

Ia menilai sanksi tersebut sengaja ada untuk melemahkan Iran dari dalam, sekaligus menekan stabilitas sosial dan politik negara itu.

Pemerintah Iran, kata Pezeshkian, tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan eksternal yang telah melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia.

Khamenei Tuding Trump Dalang Kekerasan di Iran

Sebelumnya, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei secara terbuka menuding Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai aktor utama di balik kekerasan dan kerusuhan yang terjadi baru-baru ini di Iran.

Pada Sabtu, Pemimpin Tertinggi Iran itu menyampaikan bahwa negaranya memandang Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan, kerusakan, serta tuduhan palsu yang kepada bangsa Iran.

“Presiden AS bertanggung jawab atas korban jiwa, kerusakan, dan tuduhan palsu yang ditujukan kepada bangsa Iran,” kata Ayatollah Khamenei, sembari menyebut Trump sebagai penjahat, seperti dilansir Press TV.

Khamenei menilai keterlibatan asing dalam kerusuhan tersebut memiliki tujuan politik yang jelas, yakni menggoyahkan stabilitas Republik Islam Iran.

Trump Serukan Penggantian Kepemimpinan Iran

Menanggapi pernyataan tersebut, Donald Trump kembali melontarkan retorika keras terhadap Iran. Pada hari yang sama, ia secara terbuka menyerukan agar kepemimpinan Ayatollah Khamenei diakhiri.

“Sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran,” kata Trump.

Pernyataan ini semakin memperuncing ketegangan antara Washington dan Teheran, serta memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.

Protes Damai Berubah Jadi Kerusuhan Berdarah

Pemerintah Iran menyebut bahwa apa yang awalnya hanya sebagai aksi protes damai pada akhir bulan lalu berubah menjadi kekerasan terorganisir. Otoritas Iran menuding para perusuh bertindak atas hasutan pihak asing.

Menurut pernyataan resmi, kelompok-kelompok perusuh tersebut dugaanya oleh retorika Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta mendapat dukungan dari badan intelijen asing.

Kerusuhan itu menewaskan aparat dan warga sipil serta merusak infrastruktur publik di sejumlah kota Iran.

Iran Tegaskan Tidak Akan Mundur dari Tekanan Asing

Pemerintah Iran menegaskan bahwa segala bentuk ancaman terhadap Pemimpin Revolusi Islam akan Iran balas. Teheran memandang Ayatollah Khamenei sebagai simbol persatuan nasional yang tidak dapat kekuatan asing sentuh.

Peringatan Presiden Pezeshkian menegaskan Iran siap mempertahankan kedaulatan jika kepemimpinan tertinggi negara mendapat serangan.

(Redaksi)

Back to top button