DIKSI.CO – Hasil awal pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS) mulai mengguncang pasar keuangan global. Franc Swiss dan yen Jepang menguat, sementara dolar AS mencatat penurunan harian terdalam dalam sebulan terakhir setelah Partai Demokrat berpeluang merebut kendali Kongres.
Perkembangan politik tersebut juga mendapat perhatian Presiden Donald Trump. Ia mengakui perang dengan Iran menjadi salah satu faktor yang membebani kandidat Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu atau midterm elections pada Selasa (3/11/2026).
Seperti dikutip dari Bloomberg, franc Swiss menguat hampir 1 persen dan yen Jepang naik 0,7 persen dalam perdagangan Asia. Kedua mata uang tersebut menjadi aset dengan penguatan terbesar di antara mata uang utama dunia.
Investor memburu aset yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian politik Amerika Serikat.
Indeks Dolar Bloomberg bahkan melemah hingga 0,4 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak 2 Oktober 2026.
Sementara itu, dolar Australia justru tertinggal dibandingkan mata uang utama lainnya karena investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Demokrat Berpeluang Kuasai DPR dan Senat AS
Pergerakan pasar mata uang terjadi setelah hasil awal pemilu menunjukkan peluang kemenangan Partai Demokrat di Kongres semakin besar.
Partai Demokrat diproyeksikan merebut mayoritas kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS. Sementara itu, platform prediksi Kalshi memperkirakan peluang Demokrat menguasai Senat mencapai 99 persen.
Jika berhasil menguasai kedua kamar Kongres, Demokrat berpeluang meningkatkan pengawasan terhadap kebijakan pemerintahan Trump.
Salah satu sektor yang berpotensi mendapat perhatian ialah industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kemenangan Demokrat juga dapat memengaruhi kebijakan belanja pemerintah. Partai tersebut berpeluang mendorong pengawasan anggaran untuk menekan kenaikan biaya hidup.
Isu ekonomi memang menjadi salah satu perhatian utama pemilih dalam pemilu kali ini. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari turut memengaruhi penilaian masyarakat terhadap pemerintahan Trump.
Trump Akui Perang Iran Bebani Kandidat Republik
Trump mengakui konflik dengan Iran ikut memengaruhi hasil pemilihan paruh waktu.
Dalam wawancara dengan Fox News, seperti dikutip Reuters, Trump menyebut perang tersebut menjadi salah satu alasan kandidat Partai Republik menghadapi tekanan dalam pemilu.
“Saya pikir sebagian alasannya adalah Iran, tetapi pada saat yang sama orang-orang memahami pentingnya apa yang telah saya lakukan terhadap Iran,” katanya.
Meski mengakui dampak konflik tersebut, Trump tetap membela kebijakannya terhadap Iran.
Ia juga menyoroti potensi perbedaan politik dengan Partai Demokrat apabila oposisi berhasil menguasai Kongres.
Trump memperkirakan Demokrat akan mengajukan sejumlah rancangan undang-undang yang tidak sejalan dengan kebijakannya.
“Mereka akan mengirimkan hal-hal yang tidak masuk akal, dan saya akan memvetonya,” ujar Trump.
Namun, ia juga membuka peluang kerja sama dengan Demokrat setelah kedua pihak menghadapi kebuntuan legislasi.
“Dan setelah beberapa bulan melakukan veto, mereka akan menelepon dan bertanya, ‘Bagaimana kita bisa menyelesaikan hal-hal ini?’ Dan kita akan bekerja sama,” tambahnya.
Pengawasan Industri AI Berpotensi Meningkat
Peluang kemenangan Demokrat di Kongres turut memunculkan kekhawatiran investor terhadap masa depan industri teknologi AS.
David Forrester, ahli strategi senior Credit Agricole CIB Singapura, menilai pelemahan dolar mulai terlihat karena prospek mata uang tersebut berkaitan erat dengan perkembangan industri AI.
“Titik lemah dolar AS mulai terekspos karena nasibnya terkait dengan ledakan AI,” kata Forrester.
Ia menilai kemenangan Demokrat berpotensi menghambat pembangunan pusat data dan perkembangan industri kecerdasan buatan.
“Gelombang biru Demokrat yang menghambat pembangunan pusat data dan melemahkan ledakan AI akan membebani dolar AS,” tambahnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena industri AI selama ini menjadi salah satu sektor yang menarik investasi besar ke Amerika Serikat.
Harga Minyak dan Kebijakan The Fed Jadi Risiko Dolar
Meski dolar AS mengalami tekanan, pelemahannya belum tentu berlangsung lama.
Perkembangan hubungan Washington dan Teheran masih menjadi faktor penting bagi pergerakan mata uang global.
Jika pembicaraan AS dan Iran gagal mencegah kembalinya perang terbuka, harga minyak berpotensi kembali meningkat.
Kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Investor juga akan mencermati kemungkinan perubahan ekspektasi suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan bagi dolar AS setelah mengalami pelemahan.
Rinto Maruyama, ahli strategi senior SMBC Nikko Securities, juga menilai kemenangan Demokrat belum tentu menghasilkan pengetatan regulasi industri AI.
“Meski Demokrat memenangkan kedua kamar Kongres, Presiden Trump kemungkinan akan memveto setiap upaya untuk memperketat regulasi AI. Penerapan regulasi semacam itu juga akan sulit dari sudut pandang persaingan dengan China,” kata Maruyama.
Ia memperkirakan tekanan terhadap dolar AS dapat berbalik apabila pasar mulai memperhitungkan kembali faktor politik dan ekonomi Amerika Serikat.
“Pada akhirnya, kemungkinan akan terjadi pembalikan arah dari pelemahan dolar AS,” ujarnya.
Dengan demikian, hasil pemilu paruh waktu AS tidak hanya memengaruhi peta kekuatan politik di Washington. Perkembangan tersebut juga menjadi perhatian investor global, terutama terkait prospek dolar, industri AI, harga minyak, dan kebijakan ekonomi pemerintahan Trump.
(Redaksi)

