Didorong Hilirisasi dan Pembangunan IKN, BI Proyeksikan Ekonomi Kaltim Tumbuh Hingga 6,3 Persen di 2026

DIKSI.CO – Perekonomian di Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukan pertumbuhan signifikan. 

Teranyar, Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kalimantan Timur (KPw BI Kaltim) menyampaikan rasa optimistisnya perekonomian Bumi Etam akan terus tumbuh kuat dalam dua tahun ke depan.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh sektor-sektor non-ekstraktif dan momentum pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kepala KPw BI Kaltim, Budi Widihartanto menyampaikan proyeksi tersebut pada Senin (3/11/2025).

Ia menjelaskan, BI memperkirakan ekonomi Kaltim pada 2025 akan tumbuh antara 4,8 persen hingga 5,6 persen (year-on-year/yoy).

“Tahun 2026 pertumbuhan akan semakin tinggi, mencapai rentang 5,50 persen hingga 6,30 persen (yoy),” ujar Budi.

Proyeksi ini sejalan dengan target ambisius Bappeda Kaltim yang menargetkan pertumbuhan ekonomi dalam RKPD 2026 di kisaran 6,60 persen–7,20 persen.

Budi menjelaskan, Kaltim kini tidak lagi bergantung penuh pada sektor ekstraktif seperti batu bara.

Struktur ekonomi daerah mulai ditopang oleh diversifikasi sektor yang semakin kuat, terutama industri pengolahan hasil tambang, agribisnis, manufaktur, dan pengolahan minyak kelapa sawit (CPO).

“Efek IKN juga menjadi pendorong besar melalui ekspansi proyek konstruksi pemerintah dan swasta, termasuk geliat pembangunan proyek-proyek di kawasan IKN,” tambahnya.

Meski ekonomi global diperkirakan melambat pada akhir 2025 akibat ketidakpastian perdagangan dan potensi penurunan permintaan batu bara global sebesar 8 persen pada 2026, BI menilai Kaltim memiliki resiliensi yang kuat.

Kinerja ekonomi Kaltim pada Triwulan II 2025 tercatat tumbuh 4,69 persen (yoy), menjadikan provinsi ini kontributor terbesar terhadap ekonomi regional Kalimantan, dengan pangsa mencapai 46 persen.

Selain pertumbuhan ekonomi yang solid, stabilitas harga dan keuangan Kaltim juga terjaga.

Inflasi pada Triwulan III 2025 tercatat 1,77 persen (yoy), berada dalam rentang target nasional dan lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional maupun provinsi lain di Kalimantan.

Penyaluran kredit juga tumbuh positif sebesar 2,37 persen, dengan pangsa 36,8 persen, tertinggi di antara provinsi Kalimantan lainnya.

Sementara itu, transaksi nontunai melalui QRIS meningkat pesat hingga 144 persen, menjadikan Kaltim sebagai kontributor utama transaksi nontunai di Kalimantan dengan pangsa 55 persen.

Budi menegaskan, dengan tantangan global seperti penurunan permintaan batu bara, sektor hilirisasi industri dan pembangunan IKN menjadi tumpuan utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen pada 2026.

“Dengan fondasi ekonomi yang semakin inklusif dan terdiversifikasi, kami optimistis Kaltim mampu mempertahankan momentum pertumbuhan dan menjadi lokomotif ekonomi Kalimantan,” pungkasnya. (*)

Back to top button