‎Dari 60 Spesies, Sepanjang 2025 Spesies Pesut Mahakam Naik Jadi 66 Spesies

DIKSI.CO – Harapan bagi kelestarian pesut Mahakam mulai menemukan titik terang. Upaya konservasi yang dilakukan secara konsisten di perairan Sungai Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, menunjukkan perkembangan menggembirakan. Sepanjang 2025, populasi mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur itu tercatat bertambah enam ekor.

Data tersebut disampaikan peneliti sekaligus pemerhati pesut Mahakam dari Yayasan Konservasi RASI, Danielle Kreb, saat ditemui pada Rabu (11/2/2026). Penambahan ini dinilai sebagai indikator positif bahwa perlindungan habitat dan pengawasan kawasan sungai mulai memberikan dampak nyata terhadap keberlangsungan spesies langka tersebut.

“Kami mendirikan yayasan ini untuk menyelamatkan hewan yang terancam punah. Dalam satu tahun terakhir jumlahnya bertambah enam ekor,” ujar Danielle.

Populasi Pesut Mahakam Naik Jadi 66 Ekor

Danielle merinci, pada 2024 perkiraan populasi pesut Mahakam berada di angka sekitar 60 individu. Hingga akhir 2025, jumlah itu meningkat menjadi 66 ekor. Meski pertambahannya belum signifikan, tren kenaikan ini menjadi kabar baik setelah beberapa tahun terakhir populasi pesut sempat mengalami tekanan serius.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa program konservasi berbasis kolaborasi mulai membuahkan hasil. Namun, jumlah 66 individu masih tergolong sangat kecil untuk ukuran keberlanjutan populasi jangka panjang.

Kolaborasi Jadi Kunci Konservasi

Menurut Danielle, keberhasilan ini tidak lepas dari kerja kolaboratif berbagai pihak. Pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, komunitas lokal, hingga warga yang bermukim di sepanjang Sungai Mahakam terlibat aktif dalam berbagai program perlindungan.

Berbagai langkah berjalan, mulai dari pengawasan jalur pelayaran, edukasi kepada masyarakat, hingga observasi rutin terhadap pergerakan dan kondisi habitat pesut. Pendekatan partisipatif ini menjadi efektif untuk membangun kesadaran bersama bahwa pesut Mahakam adalah tanggung jawab kolektif.

Ancaman Aktivitas Manusia di Sungai Mahakam

Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) merupakan salah satu spesies lumba-lumba air tawar paling langka di dunia. Habitatnya yang terbatas membuat satwa ini sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Di Sungai Mahakam, pesut hidup berdampingan dengan aktivitas manusia yang kian intensif.

Ancaman terbesar datang dari lalu lintas kapal, terutama tongkang pengangkut batu bara yang hilir mudik di alur sungai. Selain itu, aktivitas penangkapan ikan dengan alat tertentu, risiko terjerat jaring, serta degradasi kualitas air turut mempersempit ruang hidup pesut.

Tekanan tersebut sempat menyebabkan penurunan populasi dalam beberapa tahun terakhir. Risiko kematian akibat tabrakan kapal dan gangguan habitat masih menjadi tantangan serius yang harus yayasan hadapi.

Momentum Perkuat Komitmen Perlindungan

Danielle menegaskan, pertambahan enam individu bukan berarti ancaman telah berakhir. Populasi 66 ekor tetap berada dalam kategori rentan dan membutuhkan perlindungan berkelanjutan.

“Kenaikan ini harus dijaga. Upaya perlindungan harus dilakukan secara konsisten agar pesut tidak punah,” tegasnya.

Ia berharap tren positif ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen semua pihak dalam menjaga Sungai Mahakam sebagai rumah terakhir pesut. Bagi masyarakat Kalimantan Timur, pesut bukan sekadar satwa endemik, melainkan simbol keseimbangan ekosistem sungai yang menjadi urat nadi kehidupan.

(Redaksi)

Back to top button