Alvin Tedjo Menang Pilwalkot Mississauga, Politisi Keturunan China-Indonesia Kalahkan Dua Tokoh Besar

Gunakan suara perangkat Anda
1,048 dibaca
Bagikan:

Ringkasan Cepat

  • DIKSI.CO - Kemenangan mengejutkan diraih Alvin Tedjo dalam pemilihan wali kota Mississauga, Kanada, Senin.
  • Politisi berusia 43 tahun itu berhasil mengungguli dua tokoh politik berpengaruh, yakni mantan wali kota Bonnie Crombie dan wali kota petahana Carolyn…
  • Mengutip Toronto Times, Rabu (28/10/2026), keberhasilan Tedjo menjadi sorotan karena ia sebelumnya tidak diunggulkan dalam persaingan.

DIKSI.CO – Kemenangan mengejutkan diraih Alvin Tedjo dalam pemilihan wali kota Mississauga, Kanada, Senin. Politisi berusia 43 tahun itu berhasil mengungguli dua tokoh politik berpengaruh, yakni mantan wali kota Bonnie Crombie dan wali kota petahana Carolyn Parrish.

Mengutip Toronto Times, Rabu (28/10/2026), keberhasilan Tedjo menjadi sorotan karena ia sebelumnya tidak diunggulkan dalam persaingan. Anggota dewan yang baru menjalani periode pertamanya tersebut justru mampu membalikkan keadaan melalui kampanye yang memperoleh momentum kuat menjelang hari pemungutan suara.

Tedjo memiliki latar belakang keluarga keturunan China-Indonesia yang berasal dari Padang, Sumatera Barat. Orang tuanya menetap di Mississauga ketika ia berusia empat tahun. Ia kemudian tumbuh di pusat kota, tidak jauh dari Balai Kota yang kini akan menjadi tempatnya memimpin pemerintahan.

“Saya melihat banyak tantangan dan kesulitan yang datang dari pengalaman imigran itu,” ungkap Tedjo.

Pengalaman tersebut turut membentuk pandangannya mengenai kehidupan bermasyarakat dan keterlibatan dalam pelayanan publik.

“Jika Anda melihat sesuatu yang salah, lakukan sesuatu untuk mengatasinya,” katanya.

Terinspirasi Mantan Wali Kota Sejak Remaja

Ketertarikan Tedjo terhadap dunia politik sudah muncul sejak masa sekolah menengah. Ia pernah menjabat sebagai presiden dewan siswa dan terlibat dalam komite penasihat pemuda wali kota.

Pada pertengahan 1990-an, Tedjo menerima penghargaan Young Citizen of the Year. Momen tersebut mempertemukannya dengan Hazel McCallion, wali kota Mississauga saat itu, yang memberikan dorongan agar ia terjun ke politik.

“Masuklah ke dunia politik, anak muda,” tutur McCallion.

Pesan itu menjadi salah satu pengalaman yang membekas dalam perjalanan Tedjo hingga akhirnya ia menapaki karier politik secara langsung.

Sebelum terpilih menjadi anggota dewan, Tedjo membangun pengalaman profesional di bidang kebijakan publik, komunikasi, dan hubungan pemerintahan. Ia pernah menjadi penasihat serta staf politik di Kementerian Perguruan Tinggi dan Universitas Ontario.

Ia juga bekerja selama empat tahun di bidang hubungan pemerintah di Sheridan College. Setelah itu, Tedjo memimpin strategi dan komunikasi di Toronto Metropolitan University.

Perjalanan Politik Alvin Tedjo Sebelum Menang Pilwalkot

Tedjo mulai mengikuti kontestasi politik pada 2018. Saat itu, ia mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif provinsi di wilayah Oakville North, Burlington, tetapi hanya menempati posisi ketiga.

Setahun kemudian, ia kembali mencoba peruntungan dengan mengikuti pemilihan pemimpin Partai Liberal Ontario. Dalam kontestasi tersebut, ia memperoleh 2,7 persen suara.

Tedjo menyebut perjuangannya di dunia politik tidak hanya berkaitan dengan kepentingan pribadi, tetapi juga masa depan anak-anaknya dan masyarakat luas.

“Dan semua orang di provinsi ini yang khawatir tentang masa depan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti berbagai tantangan yang menurutnya membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, mulai dari perubahan iklim hingga persoalan ekonomi dan pendidikan.

“Kita menghadapi jumlah perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal iklim kita, dalam hal ekonomi kita, dalam hal sistem pendidikan kita,” papar Tedjo.

“Dan ada konsekuensi nyata yang bisa kita lihat setiap minggu bahwa pemerintah ini sama sekali tidak siap.”

Pada 2022, Tedjo terpilih menjadi anggota Dewan Kota Mississauga. Ia kemudian mencoba merebut kursi wali kota pada 2024, tetapi harus puas berada di posisi kedua setelah dikalahkan Carolyn Parrish.

Kegagalan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Tedjo kembali mencalonkan diri dan akhirnya berhasil memenangkan persaingan pada pemilihan tahun ini.

Sempat Tak Diunggulkan dalam Persaingan

Kemenangan Tedjo semakin menarik perhatian karena ia harus menghadapi dua pesaing yang memiliki pengalaman politik lebih panjang.

Sebagai anggota dewan, kinerjanya bahkan mendapat pengakuan dari Parrish dan Crombie. Meski demikian, kedua rivalnya sempat mempertanyakan apakah Tedjo memiliki pengalaman yang cukup untuk memimpin sebuah kota.

Tedjo menanggapi keraguan tersebut dengan menekankan bahwa kepemimpinan tidak selalu bergantung pada lamanya seseorang menduduki jabatan.

“Saya hanya akan mengatakan, awasi saja kami,” ucapnya.

“Ada begitu banyak pemimpin hebat di luar sana yang telah mengambil jabatan seperti ini dan menjalankannya.”

Pada usia 43 tahun, Tedjo menilai dirinya masih memiliki ruang untuk membawa perspektif baru dalam pemerintahan kota. Ia juga membandingkan usianya dengan Wali Kota New York Zohran Mamdani, yang lebih muda ketika pertama kali terpilih.

Keputusan meninggalkan posisi anggota dewan yang relatif aman demi kembali bertarung dalam pemilihan wali kota bukanlah langkah mudah baginya.

“Benar-benar menegangkan,” tuturnya.

Dukungan Kampanye Menguat Menjelang Pemungutan Suara

Perjalanan Tedjo menuju kemenangan tidak berlangsung mulus sejak awal. Jajak pendapat Liaison pada pertengahan Agustus menempatkannya di posisi keempat dengan dukungan 9 persen dari seluruh pemilih.

Di antara pemilih yang telah menentukan pilihan atau cenderung mendukungnya, angka tersebut mencapai 12 persen. Hasil itu menunjukkan Tedjo masih tertinggal cukup jauh dari Parrish dan Crombie.

Namun, peta persaingan mulai berubah pada akhir September hingga awal Oktober. Kampanyenya memperoleh dorongan dari sejumlah perkembangan yang menguntungkan.

Salah satunya adalah dukungan tak terduga dari serikat pekerja kepolisian Peel. Selain itu, penampilannya dalam debat pada 1 Oktober turut menjadi perhatian ketika Parrish dan Crombie terlibat perdebatan sengit.

Tedjo memilih tidak larut dalam pertikaian kedua rivalnya. Pendekatan tersebut membantu memperkuat citranya di tengah persaingan yang semakin ketat.

Dukungan yang terus bertambah akhirnya mengantarkan Tedjo melewati dua tokoh politik yang sebelumnya lebih diunggulkan.

Kemenangan ini sekaligus menandai babak baru perjalanan politik Tedjo, dari seorang anak imigran yang tumbuh di Mississauga hingga menjadi wali kota kota tersebut. Ia kini menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa kepercayaan pemilih dapat diterjemahkan menjadi kepemimpinan yang efektif bagi masyarakat.

(Redaksi)

DIKSI.co

VNS

Tim Redaksi DIKSI.co

Menyajikan informasi terkini, akurat dan terpercaya untuk masyarakat.