Kepala DPMD Kukar, Arianto, mengatakan keberadaan Posyandu menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Melalui pembinaan kelembagaan dan peningkatan kapasitas kader, Posyandu dapat membantu keluarga memantau pertumbuhan anak sekaligus memahami kebutuhan gizi sesuai usia.
Arianto menyampaikan hal tersebut setelah menghadiri Lokakarya Perumusan Bersama Situasi, Prioritas, dan Peluang Penguatan Program Gizi di Provinsi Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026).
“Hari ini kami menghadiri lokakarya yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim bersama UNICEF Indonesia sebagai bagian dari penguatan pelaksanaan program gizi lintas sektor,” ungkapnya.
DPMD Kukar Perkuat Pembinaan Posyandu di Desa
Arianto menjelaskan, DPMD Kukar menjalankan fungsi pembinaan terhadap Posyandu di tingkat desa. Karena itu, penguatan program gizi yang melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur dan UNICEF Indonesia juga berkaitan dengan tugas instansinya.
“Dinas Kesehatan Provinsi berkolaborasi dengan UNICEF berkaitan dengan program gizi. Kalau dikaitkan dengan DPMD Kukar, kami merupakan pembina Posyandu,” jelas Arianto.
Menurutnya, Posyandu memudahkan masyarakat mengakses pelayanan kesehatan dasar dan memperoleh edukasi mengenai tumbuh kembang anak. Melalui kegiatan rutin, kader dapat membantu orang tua memantau berat badan dan tinggi badan anak serta mencatat perkembangan mereka.
Pemantauan tersebut membantu keluarga mengenali indikasi gangguan pertumbuhan sejak dini. Jika hasil pengukuran menunjukkan tanda masalah gizi, orang tua perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar anak segera memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Posyandu Berperan dalam Pencegahan Stunting
Arianto menilai, pencegahan stunting membutuhkan perhatian terhadap pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi salah satu fase penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pada periode tersebut, keluarga perlu memperhatikan asupan gizi ibu hamil, pemberian ASI, makanan pendamping ASI sesuai usia, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Posyandu dapat membantu menyampaikan edukasi tersebut kepada orang tua melalui kegiatan pelayanan rutin.
“Bila potensi gangguan pertumbuhan dapat diketahui lebih awal di Posyandu, langkah tindak lanjut oleh tenaga kesehatan dapat lebih cepat dilakukan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat penimbangan anak. Kader juga berperan menyampaikan informasi kesehatan, mengajak keluarga mengikuti pemeriksaan rutin, dan mendorong masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia.
“Posyandu nantinya menjadi sarana dalam penanganan gizi masyarakat, terutama bayi dan balita, yang juga berhubungan dengan stunting,” ujarnya.
822 Posyandu Membutuhkan Dukungan Lintas Sektor
Dengan jumlah 822 Posyandu, Arianto menekankan pentingnya dukungan pemerintah desa, kader, tenaga kesehatan, dan keluarga untuk menjaga keberlangsungan pelayanan. Setiap pihak perlu menjalankan perannya agar kegiatan Posyandu berlangsung rutin dan menjangkau masyarakat secara luas.
DPMD Kukar juga perlu mendorong peningkatan kapasitas kader, terutama dalam pencatatan hasil pengukuran pertumbuhan anak dan penyampaian edukasi gizi. Kader yang memahami tugasnya dapat membantu orang tua mengenali kebutuhan kesehatan anak dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Selain itu, koordinasi lintas sektor diperlukan agar hasil perumusan program gizi di tingkat provinsi dapat mendukung pelaksanaan pelayanan di tingkat kabupaten hingga desa.
Arianto berharap, lokakarya tersebut memberikan masukan yang bermanfaat bagi DPMD Kukar dalam menjalankan pembinaan Posyandu. Ia juga mengapresiasi materi dan masukan yang diperoleh untuk mendukung keberlangsungan pelayanan di desa.
“Alhamdulillah input yang kita dapatkan dari agenda ini baik, terutama untuk bagian kita dalam berjalannya Posyandu di desa,” tutup Arianto.
(Adv)

