Kebocoran Pendapatan Daerah Sektor SDA, Kadis ESDM Kaltim: Kami Lemah


person access_time 8 months ago remove_red_eyeDikunjungi 183 Kali
Kebocoran Pendapatan Daerah Sektor SDA, Kadis ESDM Kaltim: Kami Lemah

Ilustrasi tambang batu bara

Isran menyebut kebocoran SDA yang paling besar ada di pertambangan baru bara. Meski begitu, Isran tidak menyebut secara spesifik berapa kebocoran yang terjadi di SDA Kaltim.

Ditulis Oleh: Er Riyadi
14 Januari 2020

DIKSI.CO, SAMARINDA - Isran Noor, Gubernur Kaltim menyoroti kebocoran pendapatan daerah yang terjadi di sektor sumber daya alam (SDA). Hal tersebut ia sampaikan pada puncak peringatan HUT ke-63 Kaltim, 9 Januari 2020 lalu.

Isran menyebut kebocoran SDA yang paling besar ada di pertambangan baru bara. Meski begitu, Isran tidak menyebut secara spesifik berapa kebocoran yang terjadi di SDA Kaltim.

Menanggapi hal tersebut, Wahyu Widhi Heranata, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, menerangkan pihaknya mengakui lemah dalam hal pengawasan dan pendataan produksi batu bara.

"Harus diakui kami lemah dalam mendata produksi batu bara yang ada di Kaltim. Untuk itu saat ini kami tengah melakukan penguatan data base pertambangan, termasuk jenis galian C," kata Didit, sapaan akrabnya.

Wahyu Widhi menerangkan pendataan yang dilakukan ESDM Kaltim saat ini masih mengandalkan sistem manual, sehingga memperlambat pekerjaan. Selain itu, faktor minimnya sumber daya manusia, membuat ESDM belum bisa memaksimalkan pendataan.

"Pendataan itu kan harusnya sudah digital. Kami sedang siapkan sistem digital tersebut," jelasnya.

Faktor lain, adanya sejumlah pertambangan yang diduga ilegal juga menjadi salah satu faktor kebocoran pendapatan daerah dari sektor pertambangan. Sementara soal produksi tahunan batu bara tercatat di ESDM Kaltim.

"Produksi dicatat, tapi kendalanya yang ilegal ini tidak bisa dikontrol. Karena yang memeriksa setiap pengapalan itu surveyor," bebernya.

Dinas ESDM Kaltim, membuat beberapa strategi dan serangkaian kebijakan. Salah satunya menyiapkan perangkat untuk menghitung dan inventarisasi hasil produksi dan emas hitam yang telah terjual.

"Semacam aplikasi di pusat. Semua terdata tersedia di sana. Produksi, semua.

Yang jelas, kami juga di daerah punya kewenangan," pungkas Didit. (tim redaksi Diksi) 

Iklan Saefuddin Zuhri/ Diksi.co

 



Tinggalkan Komentar



Baca Lainnya