Hujan Kembali Guyur Samarinda pada Minggu, BMKG Ingatkan Kemarau Belum Berakhir

DIKSI.CO – Hujan kembali mengguyur sejumlah wilayah Kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada Minggu (27/9/2026). Hujan ini menyusul guyuran hujan yang terjadi pada Jumat (25/9/2026), setelah Samarinda sebelumnya mengalami cuaca panas dan kering selama berminggu-minggu.
Turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir mulai memberikan perubahan pada kondisi cuaca di sejumlah kawasan. Meski demikian, hujan tersebut belum cukup untuk memastikan Samarinda telah memasuki musim peralihan.
Sebelumnya, hujan pada Jumat turun di sejumlah wilayah, antara lain Samarinda Kota, Samarinda Utara, Jalan Suryanata, Bengkuring, Sempaja, serta beberapa titik ruas Samarinda-Bontang.
Pada Minggu, hujan kembali terpantau di sejumlah kawasan Samarinda. Kondisi ini terjadi di tengah pengaruh El Nino yang masih cukup kuat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang memprakirakan adanya peningkatan potensi hujan di Kalimantan Timur pada periode 25 dan 27 September 2026. Namun, kondisi cuaca tetap dapat berbeda antarwilayah dan berubah secara lokal.
Hujan Dua Kali Belum Menandakan Musim Berganti
Forecaster BMKG Samarinda Fiona Alya Hanifah sebelumnya menjelaskan bahwa musim kemarau tidak berarti suatu wilayah sama sekali tidak mengalami hujan.
BMKG menggunakan curah hujan kurang dari 150 milimeter per bulan sebagai salah satu kriteria musim kemarau. Karena itu, hujan lokal masih mungkin terjadi ketika suatu wilayah masih berada dalam periode kemarau.
“Tadi terpantau terjadi hujan di beberapa wilayah Samarinda, khususnya bagian Samarinda Kota dan utara. Tadi sempat ada hujan dengan intensitas rendah hingga menengah,” ujar Fiona.
Menurut Fiona, hujan yang terjadi pada Jumat juga belum dapat menjadi indikator bahwa Samarinda sudah memasuki musim peralihan.
El Nino Membuat Kemarau Lebih Panjang
Kondisi cuaca Samarinda saat ini masih mendapat pengaruh El Nino kategori sangat kuat.
Indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juli-September 2026 tercatat mencapai 2,63. Kondisi tersebut membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kering dibandingkan kondisi normal.
“Dengan adanya El Nino tersendiri, dampak dari musim kemaraunya ini lebih panjang dan lebih kering dari normalnya,” tambah Fiona.
Kondisi itu juga terlihat pada curah hujan Agustus lalu. Fiona menyebut curah hujan di Samarinda sangat minim. Bahkan, BMKG tidak memantau hujan pada periode tersebut.
Padahal, dalam kondisi normal, masih terdapat peluang hujan pada Agustus.
Hujan Diduga Dipengaruhi Operasi Modifikasi Cuaca
Fiona juga meminta masyarakat tidak langsung menganggap hujan yang turun sebagai tanda pergantian musim.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan yakni pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada pertengahan September.
“Untuk saat ini belum bisa dipastikan sebagai peralihan musim karena kemungkinan hujan yang terjadi pada hari ini itu hasil dari OMC,” jelasnya.
Menurut Fiona, OMC memanfaatkan potensi awan yang tersedia untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan melalui penyemaian bahan tertentu.
BMKG Masih Pantau Konsistensi Hujan
Dengan hujan yang kembali turun pada Minggu, perkembangan cuaca Samarinda masih menjadi perhatian. Namun, BMKG membutuhkan pola hujan yang lebih konsisten dan merata untuk memastikan adanya perubahan musim.
Hujan yang hanya muncul secara lokal belum cukup menjadi penanda berakhirnya kemarau.
Karena itu, masyarakat masih perlu bersiap menghadapi kondisi cuaca kering. Terlebih, BMKG memprakirakan kondisi relatif kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, meski dinamika atmosfer lokal tetap dapat memicu hujan di beberapa daerah.
(Redaksi)
