Sanksi 19 Petugas Jadi Titik Balik, RS IA Moeis Akui Kekurangan Layanan dalam Kasus Korban Laka

DIKSI.CO – Polemik penanganan korban kecelakaan lalu lintas di RS IA Moeis Samarinda akhirnya menemui titik terang. Setelah ramai diperbincangkan di media sosial, manajemen rumah sakit menegaskan tidak ada penolakan pasien, namun secara terbuka mengakui adanya kekurangan dalam aspek pelayanan yang terjadi saat insiden.

KronolDgi Kasus: Dari Kecelakaan hingga Viral di Media Sosial

Peristiwa ini bermula dari kecelakaan lalu lintas di kawasan Kilometer 15 pada Selasa (24/3/2026) sore. Korban dilaporkan mengalami luka berat, termasuk kehilangan bagian kaki, sehingga membutuhkan penanganan medis segera.

Dalam proses evakuasi dan penanganan awal, muncul informasi di media sosial yang menyebut adanya dugaan penolakan pasien oleh fasilitas kesehatan terdekat. Informasi tersebut dengan cepat menyebar dan memicu perhatian publik, khususnya di kalangan relawan kemanusiaan.

Relawan Datangi Rumah Sakit Minta Penjelasan

Merespons kabar tersebut, sejumlah relawan dari Loa Janan dan Loa Janan Ilir mendatangi RS IA Moeis pada malam hari di tanggal yang sama. Mereka ingin memastikan langsung kebenaran informasi yang beredar.

Ketua Gabungan Relawan Loa Janan dan Loa Janan Ilir, Idi, mengatakan bahwa langkah tersebut diambil karena menyangkut keselamatan nyawa manusia.

“Kami mendapatkan informasi itu dari grup relawan. Karena ini soal kemanusiaan, kami merasa perlu datang langsung untuk memastikan kebenarannya,” ujarnya.

Namun, pada kedatangan pertama, relawan belum mendapatkan penjelasan resmi. Petugas keamanan rumah sakit menyarankan agar pertemuan dilakukan keesokan harinya dengan pihak manajemen.

Sorotan Relawan: Respons Awal hingga Ketiadaan Ambulans

Selain dugaan penolakan, relawan juga menyoroti sejumlah hal krusial dalam penanganan korban di lapangan. Mereka menilai respons awal terhadap korban belum optimal, termasuk tidak tersedianya ambulans untuk proses rujukan.

Akibatnya, korban dengan kondisi luka berat harus diangkut menggunakan mobil terbuka, yang dinilai sangat berisiko terhadap keselamatan.

“Kondisi korban waktu itu sangat parah, tapi masih diangkut menggunakan mobil terbuka. Itu sangat berisiko,” kata Idi.

Ia juga mengungkapkan bahwa situasi serupa bukan kali pertama terjadi. Dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir, relawan kerap menghadapi kondisi yang dianggap kurang responsif saat membawa korban kecelakaan ke fasilitas kesehatan.

“Selama ini kami memilih diam. Tapi kali ini kami ingin ada kejelasan agar ke depan tidak terjadi lagi,” tegasnya.

Klarifikasi Resmi: Rumah Sakit Tegaskan Tidak Ada Penolakan

Klarifikasi resmi dilakukan dalam pertemuan pada Rabu (25/3/2026) yang melibatkan manajemen rumah sakit, relawan, Dinas Kesehatan, serta tenaga medis.

Direktur RS IA Moeis Samarinda, Osa Rafsodia, menegaskan bahwa tidak ada penolakan pasien dalam kasus tersebut.

“Kami sudah melakukan klarifikasi bersama semua pihak. Kami pastikan tidak ada penolakan pasien laka di rumah sakit ini,” tegasnya.

Akui Kekurangan, 19 Petugas Diberi Sanksi

Meski membantah adanya penolakan, pihak rumah sakit mengakui adanya kekurangan dalam pelayanan, terutama terkait sikap dan respons petugas di lapangan yang dinilai belum optimal dan kurang humanis.

Sebagai bentuk tanggung jawab, manajemen menjatuhkan sanksi disiplin kepada 19 petugas yang bertugas saat kejadian berlangsung.

“Seluruh petugas yang terlibat telah diberikan sanksi sesuai hasil evaluasi internal,” jelas Osa.

Adapun sanksi yang diberikan berupa penundaan jasa pelayanan medis selama tiga bulan serta penundaan kenaikan pangkat.

Komitmen Perbaikan: Penguatan Pengawasan dan Etika Pelayanan

Manajemen RS IA Moeis menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi momentum penting untuk melakukan pembenahan internal, khususnya dalam aspek kedisiplinan dan etika pelayanan kepada pasien.

“Ke depan, kami akan memperkuat pengawasan dan memastikan pelayanan yang lebih humanis kepada pasien,” ujar Osa.

Penguatan Koordinasi dengan Relawan dan Standarisasi SOP

Pertemuan tersebut juga menghasilkan kesepakatan antara rumah sakit dan relawan untuk memperkuat koordinasi dalam penanganan kondisi darurat. Kedua pihak sepakat pentingnya kesamaan pemahaman terkait standar operasional prosedur (SOP).

Sebagai tindak lanjut, rumah sakit akan menggelar forum komunikasi yang melibatkan tim Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan relawan.

“Kami ingin ada komunikasi yang lebih baik antara relawan dan tim medis, sehingga tidak terjadi miskomunikasi yang merugikan pasien,” ungkapnya.

Fasilitas Penunjang: CT Scan Baru Segera Beroperasi

Dalam forum tersebut, pihak rumah sakit juga mengungkapkan kondisi fasilitas penunjang. Alat CT scan sebelumnya sempat mengalami kendala karena usia pakai yang sudah lama.

Namun, kini alat baru telah diterima dari Kementerian Kesehatan dan akan segera dioperasikan dalam waktu dekat.

“Alat CT scan yang baru sudah kami terima dan ditargetkan segera digunakan,” jelas Osa.

Evaluasi Bersama untuk Pulihkan Kepercayaan Publik

Baik pihak rumah sakit maupun relawan sepakat menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi bersama. Manajemen juga menegaskan akan memberikan sanksi tegas apabila kejadian serupa kembali terulang.

Harapannya, penyelesaian polemik ini dapat memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di Samarinda, sekaligus memperkuat sinergi antara tenaga medis dan relawan dalam menangani kondisi darurat secara cepat dan tepat.

(tim redaksi)

Back to top button