KSOP Tegaskan Insiden Tongkang di Jembatan Mahakam Ulu Bukan Tabrakan Aktif, Pemprov Kaltim Tetap Anggap Masalah Serius

DIKSI.CO – Insiden yang melibatkan tongkang TK Marine Power 3066 di kawasan Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Samarinda, pada Minggu (25/1/2026) dini hari, kembali menyita perhatian publik. Di tengah beredarnya informasi soal dugaan penabrakan jembatan saat proses pengolongan kapal, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda memberikan klarifikasi resmi.
KSOP menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan tabrakan aktif sebagaimana yang ramai terbesar di ruang publik.
KSOP Tegaskan Tongkang Tidak Sedang Mengolong Jembatan
Kepala Seksi Penjagaan, Patroli, dan Penyidikan KSOP Kelas I Samarinda, Capt. Sahrun Aziz, menjelaskan bahwa tongkang TK Marine Power 3066 tidak sedang melakukan pengolongan atau melintas di bawah Jembatan Mahakam Ulu saat insiden terjadi.
Kapal tersebut berada dalam posisi berlabuh jangkar di perairan Sungai Mahakam, sekitar 1,5 nautical mile dari Jembatan Mahakam Ulu.
“Peristiwa terjadi sekitar pukul 05.10 Wita. Tongkang tidak sedang mengolong. Kapal dalam kondisi berlabuh jangkar, namun karena arus sungai cukup kuat, jangkar tidak ‘makan’ sehingga kapal hanyut,” ujar Capt. Sahrun saat terkonfimasi, Selasa (27/1/2026).
Tidak Ada Benturan Keras dengan Struktur Jembatan
Menurut Capt. Sahrun, narasi yang berkembang di masyarakat mengenai adanya tabrakan keras antara tongkang dan jembatan tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan awal di lapangan.
Berdasarkan keterangan nahkoda dan kru dari tiga kapal yang berada di sekitar lokasi kejadian, tidak ada indikasi benturan aktif yang membahayakan struktur utama jembatan.
Tongkang Sempat Tertahan Kapal Lain
Capt. Sahrun mengungkapkan bahwa sebelum mendekati area jembatan, pergerakan tongkang sempat tertahan oleh kapal lain yang juga sedang berlabuh, yakni kapal Karya Star. Kondisi ini membuat laju hanyut tongkang menjadi lebih lambat dan terkendali.
“Karena tertahan arus dan kapal lain, tongkang hanyut perlahan hingga akhirnya menempel pada fender Jembatan Mahulu. Tidak ada benturan keras, kapal hanya tertahan di fender,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa tongkang tidak dalam kondisi mesin aktif saat berada di sekitar jembatan, sehingga peristiwa tersebut bersifat pasif akibat faktor alam dan kondisi teknis perairan.
KSOP Jelaskan Penyebab Putusnya Tali Tambat
Terkait informasi yang menyebut tali tambat putus akibat tabrakan dengan kapal lain, KSOP juga memberikan penjelasan. Capt. Sahrun menyebut, saat kejadian terdapat kapal dari arah hulu yang bergerak mengikuti arus sungai.
Ketika kapal tersebut memutar haluan untuk menyesuaikan arah arus, bagian kapal mengenai tali tambat tongkang.
“Kontak itulah yang menyebabkan tali tambat putus. Setelah itu tongkang hanyut terbawa arus,” terangnya.
Penanganan Cepat, Tongkang Berhasil Terselamatkan
Pasca kejadian, KSOP Kelas I Samarinda langsung berkoordinasi dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) untuk melakukan penanganan cepat. Sebanyak tiga unit assist tugboat turun guna mengendalikan dan mengevakuasi tongkang dari area jembatan.
“Kejadian sekitar pukul 05.10 Wita, dan sekitar pukul 08.00 Wita tongkang sudah berhasil diamankan serta ditambatkan di lokasi yang aman,” kata Capt. Sahrun.
Ia memastikan, selama proses penanganan, keselamatan pelayaran dan keamanan infrastruktur menjadi prioritas utama. KSOP juga terus memantau kondisi Jembatan Mahakam Ulu guna memastikan tidak ada dampak serius terhadap struktur jembatan.
Pemprov Kaltim Nilai Insiden Sebagai Masalah Serius
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) memandang insiden tersebut sebagai persoalan serius yang tidak bisa hanya persoalan sepele. Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menegaskan bahwa kejadian yang melibatkan tongkang di kawasan Jembatan Mahakam Ulu berpotensi mengganggu kepentingan publik secara luas.
“Ini masalah serius. Jembatan Mahakam Ulu adalah tulang punggung perekonomian dan logistik daerah. Apalagi saat ini Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahakam II sudah tidak bisa dilalui,” tegas Seno Aji, Senin (26/1/2026).
Rapat Koordinasi Akan Digelar Kembali
Seno Aji mengungkapkan bahwa Pemprov Kaltim sebelumnya telah menggelar rapat koordinasi bersama instansi terkait untuk membahas pengaturan lalu lintas tongkang di Sungai Mahakam. Namun, menurutnya, hasil rapat tersebut belum ditindaklanjuti secara maksimal.
“Kami sudah lakukan rapat koordinasi, tetapi kejadian ini tetap terulang. Karena itu, kami akan segera menggelar rapat terbatas lagi,” ujarnya.
Pemprov Kaltim Siap Tutup Jembatan Jika Dinyatakan Tidak Aman
Ia menegaskan bahwa hasil kajian dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan menjadi dasar penting dalam menentukan langkah lanjutan. Jika hasil evaluasi menyatakan kondisi jembatan tidak aman, Pemprov Kaltim tidak akan ragu untuk menutup sementara akses Jembatan Mahakam Ulu.
Selain itu, Pemprov Kaltim akan meminta KSOP dan Pelindo untuk menghitung besaran kerusakan akibat insiden tersebut. Pihak yang bertanggung jawab diwajibkan memberikan ganti rugi.
“Kita harus minta ganti rugi. Ini bukan hanya soal uang, tetapi soal tanggung jawab agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tegasnya.
Keselamatan Pelayaran Jadi Prioritas Bersama
Meski terdapat perbedaan penekanan antara klarifikasi teknis KSOP dan sikap tegas Pemprov Kaltim, kedua pihak sepakat bahwa keselamatan pelayaran dan perlindungan aset strategis daerah harus menjadi prioritas utama.
Dengan klarifikasi resmi dan penguatan koordinasi lintas instansi, diharapkan polemik terkait insiden tongkang di Jembatan Mahakam Ulu tidak berkembang menjadi informasi yang menyesatkan, sekaligus menjadi momentum memperketat pengawasan lalu lintas Sungai Mahakam ke depan.
(Redaksi)
