DIKSI.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Makroman dan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan, Samarinda, Kalimantan Timur, terus meluas.
Memasuki hari keempat penanganan, api telah membakar lebih dari 30 hektare lahan. Kondisi gambut membuat petugas kesulitan mengendalikan api karena bara tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat di bawah tanah.
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri meninjau langsung lokasi karhutla di kawasan Pelita 8, Senin (5/10/2026) sore.
Saefuddin mengecek kondisi tanah yang terlihat sudah padam. Ia menggunakan tongkat untuk memastikan bara tidak lagi menyala di dalam lapisan gambut.
Menurut Saefuddin, permukaan tanah yang tampak aman belum tentu menandakan api benar-benar berhenti.
“Kalau kita lihat memang dasarnya gambut. Di atas kelihatannya sudah padam, tapi di bawahnya itu merambat,” ujar Saefuddin.
Ia menjelaskan bahwa karakteristik gambut membuat petugas harus memadamkan api dari dua sisi. Tim tidak hanya menyiram titik api di permukaan, tetapi juga mencari bara yang masih bergerak di dalam tanah.
“Saya juga mencoba dengan tongkat ini, ternyata dalam. Dalamnya itu juga gambut. Jadi dari bawah itu kalau memadamkan ekstra, mulai dari atas iya, dari bawah iya,” katanya.
Api Merambat di Bawah Lahan Gambut
Saefuddin menyebut api di kawasan Pelita 8 berasal dari rembetan kebakaran yang sebelumnya muncul di sekitar kawasan pekuburan Makroman.
Api kemudian merambat melalui lapisan gambut di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat petugas menghadapi titik api baru meski beberapa area sebelumnya sudah terlihat padam.
“Makanya dobel. Kalau mobil itu dobel gardan,” kata Saefuddin menggambarkan sulitnya penanganan karhutla di lahan gambut.
BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, relawan, dan Satpol PP terus mengerahkan personel untuk memadamkan api.
Saefuddin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel yang terus bekerja di tengah kondisi lapangan yang sulit.
“Atas nama Pemerintah Kota Samarinda terima kasih, semua teman-teman BPBD, Damkar, relawan, Satpol PP berjibaku untuk memadamkan api. Ternyata dengan tenaga semuanya itu masih juga kewalahan,” tuturnya.
Pemerintah Jaga Akses Jalan
Pemerintah tidak hanya fokus memadamkan api. Pemkot Samarinda juga menjaga keselamatan warga dan memastikan masyarakat tetap dapat menggunakan akses utama.
Jalur yang menghubungkan Makroman, Pulau Atas, dan Sindangsari menjadi perhatian pemerintah karena warga masih menggunakan jalur tersebut untuk beraktivitas.
Saefuddin mengatakan petugas mempertimbangkan kondisi setiap titik saat melakukan pemadaman. Langkah tersebut bertujuan menjaga keselamatan warga sekaligus membantu petugas menjangkau lokasi kebakaran.
Pemerintah juga berharap hujan segera turun secara merata di Samarinda. Saefuddin menyebut hujan sudah turun di beberapa wilayah, tetapi belum mencapai seluruh kawasan yang mengalami karhutla.
“Moga-moga Allah selekasnya memberikan hujan, karena kalau kita lihat hujan sudah mulai ada di daerah-daerah, tapi belum merata,” ujarnya.
Pemkot Pertimbangkan Perpanjangan Tanggap Darurat
Penanganan karhutla kini memasuki hari keempat. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah mempertimbangkan perpanjangan status tanggap darurat.
Saefuddin mengatakan Wali Kota Samarinda akan menentukan keputusan terkait status tersebut.
Namun, ia melihat kondisi api yang masih menyebar sehingga memperkirakan pemerintah akan memperpanjang status tanggap darurat.
“Insyaallah diperpanjang,” pungkas Saefuddin.
(Redaksi)

