Ferdinand Marcos Jr. Tetapkan Darurat Energi, Filipina Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah

DIKSI.CO – Pemerintah Filipina resmi menetapkan status darurat energi nasional menyusul ancaman terhadap pasokan bahan bakar dan lonjakan biaya listrik. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengumumkan kebijakan tersebut pada Selasa (24/3/2026) sebagai langkah cepat menghadapi dampak konflik di Timur Tengah.

Ancaman Pasokan Global Picu Darurat Ener

Dalam perintah eksekutif yang dirilis, pemerintah menilai konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi nasional.

“Keadaan darurat energi nasional dengan ini diumumkan mengingat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, serta bahaya yang ditimbulkannya terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara,” demikian bunyi pernyataan resmi pemerintah.

Langkah ini diambil hanya beberapa jam setelah pemerintah mengumumkan rencana peningkatan produksi listrik untuk menahan lonjakan tarif.

Pemerintah Ambil Langkah Cepat Amankan Bahan Bakar

Melalui kebijakan darurat ini, pemerintah memberikan kewenangan kepada Departemen Energi untuk mengambil langkah strategis, termasuk pembayaran di muka hingga 15 persen guna mengamankan kontrak bahan bakar.

Selain itu, pemerintah juga akan menindak praktik penimbunan dan spekulasi harga yang berpotensi memperparah krisis.

Di sektor transportasi, pemerintah memberi mandat kepada kementerian terkait untuk menyalurkan subsidi bahan bakar, mengurangi biaya tol, hingga menekan tarif penerbangan.

Filipina Perkuat Ketergantungan pada Batu Bara

Menteri Energi Sharon Garin menyatakan pemerintah akan meningkatkan produksi listrik dari pembangkit batu bara sebagai solusi jangka pendek.

“Kami berbicara dengan perusahaan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk memeriksa seberapa banyak mereka dapat meningkatkan produksi listrik mereka,” ujar Garin.

Ia menjelaskan, lonjakan harga LNG (gas alam cair) membuat Filipina untuk sementara kembali mengandalkan bahan bakar fosil.

“Jika kita berhasil menerapkan ini, setidaknya kita bisa mengurangi kenaikan tarif listrik akibat konflik di Timur Tengah,” tambahnya.

Saat ini, sekitar 60 persen listrik di Filipina berasal dari batu bara, menjadikan negara tersebut sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi global.

Andalkan Pasokan Batu Bara dari Indonesia

Untuk menjaga stabilitas pasokan, Filipina juga membuka opsi peningkatan impor batu bara, termasuk dari Indonesia.

Pemerintah memastikan tidak ada pembatasan ekspor batu bara dari Indonesia ke Filipina.

“Saat ini tidak ada pembatasan impor batu bara dari Indonesia,” kata Garin.

Temuan Gas Alam Jadi Harapan Jangka Panjang

Di tengah krisis, pemerintah Filipina juga menaruh harapan pada temuan cadangan gas alam baru di sekitar ladang lepas pantai Malampaya.

Harapannya cadangan ini dapat memperpanjang masa operasional sumber energi yang selama ini menyuplai sekitar 40 persen kebutuhan listrik di Pulau Luzon.

Meski demikian, pemerintah menegaskan langkah darurat tetap perlu untuk menjaga stabilitas energi dalam jangka pendek di tengah ketidakpastian global.

(Redaksi)

Back to top button