Cek Kosong Ditolak, Kisah Arsitek di Balik Lantai Sejuk Masjidil Haram dan Nabawi

DIKSI.CO – Kisah mengharukan datang dari proses pembangunan lantai marmer di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di balik kesejukan lantai yang tetap dingin meski cuaca panas, tersimpan cerita tentang ketulusan seorang arsitek yang menolak bayaran, hingga momen ketika cek kosong pun ditolak demi tujuan ibadah.
Sosok Arsitek Mualaf di Balik Lantai Sejuk Masjidil Haram
Muhammad Kamal Ismail, arsitek mualaf asal Mesir, menjadi sosok penting dalam perencanaan dan pengawasan proyek pemugaran Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Ia dikenal sebagai perancang teknik penggunaan marmer khusus yang mampu menjaga suhu lantai tetap sejuk, meski terpapar panas matahari.
Menolak Upah untuk Dua Masjid Suci
Selama terlibat dalam proyek lantai sejuk masjidil haram dan nabawi tersebut, Kamal Ismail mengambil keputusan yang tidak biasa. Ia menolak seluruh bayaran yang ditawarkan, meski jumlahnya sangat besar.
Raja Fahad dan Perusahaan Bin Laden disebut telah menawarkan upah tinggi, namun ia memilih untuk mengabdikan diri tanpa imbalan.
“Mengapa saya harus menerima uang (untuk pekerjaan saya) di dua masjid suci? Bagaimana saya menghadap Allah (di hari kiamat?),” kata Kamal Ismail dikutip dari Nigerian Tracker, Jumat (6/6/2025).
Awal Penggunaan Marmer di Masjidil Haram
Berdasarkan Arab News, pemugaran besar-besaran Masjidil Haram pertama kali dilakukan pada 1926, termasuk penggantian lantai menjadi marmer.
Sekitar 15 tahun kemudian, pemerintah Arab Saudi menginginkan konsep serupa diterapkan di Masjid Nabawi, dan Kamal Ismail kembali dipercaya memimpin proyek tersebut.
Perjalanan Mencari Marmer yang Sama
Untuk menjaga kualitas, Kamal Ismail berusaha mendapatkan jenis marmer yang sama seperti yang digunakan sebelumnya. Ia mencarinya hingga ke Yunani, tempat marmer tersebut diproduksi.
Namun, marmer yang pernah digunakan ternyata sudah habis terjual.
Dalam upayanya, ia bertemu seorang sekretaris perusahaan marmer yang kemudian membantu menelusuri pembeli terakhir dari stok marmer tersebut.
Pertemuan Tak Terduga dengan Pemilik Marmer
Setelah penelusuran, diketahui bahwa pembeli marmer tersebut adalah sebuah perusahaan asal Arab Saudi. Kamal Ismail pun kembali ke negaranya dan mendatangi perusahaan tersebut.
Awalnya, pihak perusahaan tidak mengingat keberadaan marmer tersebut. Namun setelah ada pengecekan ternyata marmer itu masih tersimpan rapi di gudang dan belum digunakan.
Cek Kosong Ditolak, Marmer Diberikan Gratis
Momen paling mengharukan terjadi saat Kamal Ismail menawarkan cek kosong kepada perusahaan tersebut agar mereka bisa menentukan harga marmer.
Namun, setelah mengetahui bahwa marmer itu akan peruntukannya untuk Masjid Nabawi, direktur perusahaan menolak mengisi cek tersebut.
Sebaliknya, seluruh marmer direktur berikan secara cuma-cuma untuk mendukung pembangunan masjid suci.
Ketulusan yang Jadi Inspirasi
Kisah Kamal Ismail dan perusahaan tersebut menjadi gambaran nyata tentang ketulusan dalam berkontribusi untuk tempat ibadah.
Dari arsitek yang menolak bayaran hingga perusahaan yang menolak cek kosong, semuanya menunjukkan bahwa nilai pengabdian dan keikhlasan bisa melampaui kepentingan materi.
Cerita ini juga menjadi pengingat bahwa di balik kemegahan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, terdapat dedikasi luar biasa dari orang-orang yang bekerja dengan niat ibadah.
(Redaksi)
