14 Bulan Wabah Corona Dinyatakan Berbahaya, Masyarakat Disebut Belum Sepenuhnya Sadar Prokes
DIKSI.CO, SAMARINDA – Pandemi virus Covid – 19 di Samarinda meningkat kendati setiap harinya disebut mengalami penurunan jumlah pasien terpapar.
Dijumpai, anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Suriyani mengatakan kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes) terbilang minim.
Menurutnya, wabah yang juga menyerang negara di seluruh dunia itu sejak lama menjadi momok yang menakutkan.
Sekitar 14 bulan Covid – 19 dinyatakan berbahaya oleh pemerintah Indonesia.
Namun tak membuat seluruh masyarakat terlebih Samarinda ikut mewaspadainya.
"Masih ada ditemukan warga tak patuh prokes. Padahal wabah ini sudah setahun lebih," ujar Suriani, Rabu (14/7/2021) saat ditemui awak media.
Kenaikan jumlah pasien dan korban virus beberapa pekan ini turut membuktikan argumennya itu.
Artinya sebut politisi PDI P itu masyarakat banyak yang belum patuh dan sadar akan bahayanya virus Covid – 19.
"Kalau masyarakat patuh saja, virus ini pasti bakal berkurang," imbuhnya.
Ditambahnya, upaya pemerintah dan unsur terkait lainnya cukup maksimal untuk melakukan sosialisasi.
Bahkan sikap preventif dan represif kerap dilakukan sebagai tindak lanjut dari aturan baik instruksi dan perwali.
Penertiban dengan operasi yustisi adalah bagian dari penegakan disiplin prokes kepada masyarakat.
"Sosialisi sudah maksimal selama ini, tapi masih saja yang bandel," kata dia.
Disinggung terkait adanya wacana penambahan waktu PPKM mikro, Suriani menjelaskan kebijakan tersebut sudah tentu menjadi kewenangan Pemkot Samarinda.
"Kalaupun dilanjutkan pastinya sudah menjadi pertimbangan pemerintah. Enggak masalah sih," terangnya.
Dirinya mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga diri supaya tetap sehat.
Tindakan tegas wali kota yang mengancam akan mencabut izin pedagang yang tidak mengikuti aturan adalah bagian dari perhatian wali kota kepada warganya.
"Kalau untuk kebaikan kenapa tidak. Tapi pemerintah tetap memberikan solusi bagaimana ekonomi tetap berjalan. Malahan nanti bukannya takut sama Covid – 19, tapi malah takut kelaparan," pungkasnya. (advertorial)
