Ini 3 Poin Pelanggaran AS Versi Iran dalam Gencatan Senjata

DIKSI.CO – Iran langsung meragukan kelanjutan proses damai dengan Amerika Serikat setelah menilai Washington telah melanggar sejumlah poin penting bahkan sebelum negosiasi resmi dimulai. Tudingan ini muncul hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa tindakan AS tersebut memperkuat ketidakpercayaan lama Teheran terhadap Washington.

“Ketidakpercayaan historis yang mendalam yang kami miliki terhadap Amerika Serikat berakar pada pelanggaran berulang terhadap berbagai bentuk komitmen—sebuah pola yang, sayangnya, kembali terulang,” tulis Ghalibaf melalui akun X, Rabu (8/4).

Iran Soroti Tiga Pelanggaran Kunci oleh AS

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Amerika Serikat telah melanggar tiga klausul penting dalam kesepakatan awal. Iran menilai pelanggaran ini merusak dasar negosiasi sejak awal.

Berikut tiga poin yang dipersoalkan Iran:

  1. AS Abaikan Cakupan Gencatan Senjata di Seluruh Kawasan
    Iran menilai AS tidak menjalankan gencatan senjata secara menyeluruh, termasuk di Lebanon. Padahal, mediator Shehbaz Sharif telah menegaskan bahwa penghentian konflik harus berlaku di semua wilayah tanpa pengecualian.
  2. AS Langgar Wilayah Udara Iran dengan Drone
    Iran menyatakan sebuah drone memasuki wilayah udaranya di Kota Lar, Provinsi Fars. Pasukan Iran langsung menembak jatuh drone tersebut. Teheran menilai tindakan ini sebagai pelanggaran nyata terhadap komitmen penghormatan kedaulatan.
  3. AS Tolak Hak Pengayaan Uranium Iran
    Iran menegaskan bahwa AS menolak hak Teheran untuk melakukan pengayaan uranium. Padahal, Iran telah memasukkan poin tersebut dalam klausul keenam proposal dan menjadikannya dasar negosiasi.

“Dasar yang dapat dijadikan pijakan untuk bernegosiasi justru telah dilanggar secara terbuka dan jelas, bahkan sebelum perundingan dimulai,” tegas Ghalibaf.

Gencatan Senjata Jadi Dipertanyakan

Iran menilai kondisi ini membuat gencatan senjata menjadi tidak relevan. Bahkan, Ghalibaf menyebut negosiasi tidak masuk akal jika pelanggaran terus terjadi sejak awal.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump tetap mengklaim bahwa kesepakatan ini merupakan langkah maju menuju perdamaian jangka panjang.

“Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua arah,” tulis Trump di media sosialnya.

Trump juga menyatakan bahwa AS telah mencapai seluruh tujuan militernya dan menerima proposal 10 poin Iran sebagai dasar negosiasi.

Selat Hormuz Dibuka, Iran Klaim Kemenangan

Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran mulai membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya diblokade selama konflik berlangsung. Pembukaan jalur strategis ini menjadi sinyal awal deeskalasi ketegangan di kawasan.

Iran menganggap kesepakatan ini sebagai kemenangan diplomatik karena AS akhirnya menerima seluruh tuntutan yang mereka ajukan.

Sebaliknya, Trump juga menyebut gencatan senjata sebagai keberhasilan AS karena perang yang telah melampaui target militernya.

Situasi ini menunjukkan kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan, meski di lapangan masih diwarnai ketegangan dan tudingan pelanggaran yang berpotensi menggagalkan proses perdamaian.

(Redaksi)

Back to top button