Di Balik Lagu Lebaran, Tersimpan Kritik Keras Ismail Marzuki soal Korupsi

DIKSI.CO – Di tengah lantunan lagu-lagu khas Idulfitri yang identik dengan suasana hangat dan penuh maaf, tersimpan pesan yang tak banyak disadari publik. Lagu “Selamat Hari Lebaran” ternyata bukan sekadar pengiring hari raya, melainkan juga memuat kritik sosial tajam terhadap praktik korupsi di Indonesia.

Karya maestro musik Indonesia, Ismail Marzuki ini selama puluhan tahun sebagai simbol kebahagiaan Lebaran. Namun, di balik liriknya yang ringan dan mudah, terselip pesan moral yang kuat.

Lagu Lebaran yang Lahir di Tengah Gejolak Awal Kemerdekaan

“Selamat Hari Lebaran” pertama kali diciptakan pada 1952, saat Indonesia masih berada dalam fase awal kemerdekaan. Kondisi politik dan ekonomi saat itu belum stabil, sementara praktik korupsi mulai muncul di berbagai lini.

Situasi tersebut mendorong Ismail Marzuki untuk menyuarakan kegelisahannya melalui karya musik yang dekat dengan masyarakat.

Alih-alih menyampaikan kritik secara frontal, ia memilih menyisipkannya dalam lagu Lebaran yang mudah publik terima.

Lirik Asli Simpan Sindiran Tajam

Pesan kritik itu terlihat jelas dalam lirik asli lagu yang kini jarang terdengar:

“Lang taon hidup prihatin
Kondangan boleh kurangin
Korupsi jangan kerjain”

Melalui lirik tersebut, Ismail Marzuki tidak hanya mengajak masyarakat merayakan hari kemenangan, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjauhi praktik korupsi.

Lagu ini menjadi bentuk refleksi bahwa Idulfitri bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga momentum memperbaiki diri secara moral.

Kritik Sosial Lewat Musik Populer

Dalam buku Ismail Marzuki: Senandung Melintas Zaman disebutkan bahwa sang komponis merasa resah dengan praktik korupsi yang terus terjadi.

Ia berharap, melalui musik populer, pesan tersebut dapat menjangkau masyarakat luas sekaligus menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan.

Pendekatan ini menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi medium kritik sosial yang efektif tanpa harus bersifat konfrontatif.

Lirik Kritik Hilang Seiring Waktu

Seiring berjalannya waktu, terutama pada masa Orde Baru, lirik yang mengandung kritik terhadap korupsi perlahan hilang dalam berbagai versi lagu yang penyanyi nyanyikan ulang.

Versi yang kini masyarakat kenal hanya menampilkan nuansa perayaan Lebaran, tanpa menyertakan pesan kritis yang pernah penciptanya sisihkan.

Akibatnya, makna lagu tersebut mengalami penyempitan dan hanya sebagai lagu seremonial semata.

(Redaksi)

Back to top button