Hoaks Piala Dunia dan Pemindahan Ibu Kota


person access_time 1 month ago remove_red_eyeDikunjungi 330 Kali
Hoaks Piala Dunia dan Pemindahan Ibu Kota

Grafis Hoaks Piala Dunia dan Pemindahan ibu Kota/ Diksi.co

Diketahui, ada 7 kriteria dalam pemidahan ibu kota RI. Kaltim disebut-sebut memiliki persentase lebih besar dalam pemenuhan 7 kriteria itu. Untuk hal itu, Tri Dewi Virgityanti justru tak berani membenarkan hal itu. 

Ditulis Oleh: DIKSI.co
31 Juli 2019

Hoaks Piala Dunia dan Pemindahan Ibu Kota 

“Saya mulai mengumpulkan puluhan ribu dokumen, foto dan artikel. Satu persatu kemudian mengarah pada kesimpulan yang aneh bahwa Piala Dunia 1958 tak pernah ada,” ucap professor Bror Jacquez de Waern.  

(Piala Dunia 1958 adalah Piala Dunia pertama yang disiarkan langsung televisi saat itu) 

DIKSI.CO, SAMARINDA – Beberapa nama beken dihadirkan di film Conspiracy 58. Lennart Johansson (Presiden EUFA 1997-2000), Kurt Hamrin dan Agne Simonsson (keduanya pemain nasional Swedia tahun 1958), hingga Bengt Agren (Sekretaris Komite FIFA tahun 1958). 

Plot film pun timbulkan penasaran. Conspiracy 58 menjabarkan bahwa Piala Dunia FIFA 1958 di Swedia tidak benar-benar terjadi, tetapi dipalsukan dan hanya ada sebagai liputan televisi dan radio yang dipalsukan dalam konspirasi antara televisi Amerika dan Swedia, CIA dan FIFA. 

Conspiracy 58 berikan Analisa bahwa World Cup 58, bukan digelar di Swedia, melainkan di Los Angeles, Amerika. 

Dalam film itu, dikatakan bahwa Swedia tidak memiliki sumber daya ekonomi atau teknis untuk menjadi tuan rumah acara sebesar itu. 

Dalam plot, motif Amerika untuk melakukan ini adalah untuk menguji efektivitas propaganda televisi. 

“Mengapa penjaga gawang Jerman tertawa? Ia kebobolan. Tak ada alasan baginya untuk tertawa,” ucap Bror Jacquez de Waern lagi.

Bukan asal klaim, beberapa bukti sekaligus hasil investigasi dihadirkan di film Conpiracy 58 yang disutradarai Johan Lofstedt itu. 

Salah satunya, analisis rekaman televisi dari pertandingan, di mana stadion tuan rumah (Swedia) saat itu terdapat satu gedung yang sebenarnya tak pernah ada. 

Ada pula analisis soal bayangan para pemain di lapangan terlihat jatuh, dan miring dengan cara yang tidak mungkin di Swedia mengingat posisi matahari pada saat itu.

“Tidak ada bangunan seperti itu di Swedia,” ucap Bror Jacquez de Waern sembari menunjukkan Analisa dari rekaman televisi. 

“Kemudian saya membandingkan foto, ratusan foto dari pertandingan (World Cup 58), dan saya pelajari angle dan panjang bayangan. Mereka tak mungkin bermain di Swedia,” jelasnya lagi sambal menunjukkan beberapa rekaman pertandingan. 

Bror Jacquez de Waern saat jelaskan analisa ketidakmungkinan Swedia jadi tuan rumah Piala Dunia 1958/ Screenshot movie Conspiracy 58

Banyaknya bukti-bukti yang dihadirkan membuat film Conspiracy 58 terlihat seperti film dokumenter penelitian.

Tetapi, justru semua yang diberikan adalah hoaks alias bohong. 

Bukan Piala Dunia 1958 yang jadi hoaks, tetapi justru isi film dari Conspiracy 58 yang ternyata hoaks alias bohong. 

Sang sutradara membuat film itu untuk memberikan bukti betapa mudahnya mempengaruhi seseorang melalui visual (televisi). 

Melalui Conspiracy 58, Löfstedt mencoba sadarkan banyak pihak pentingnya bersikap kritis dan melihat fakta, sekalipun tidak selaras dengan pemikiran pribadi. 

Hingga kini, Conspiration 58 masih digunakan sebagai pembelajaran bagi anak-anak di sekolah-sekolah Swedia.

Semua berawal ketika Löfstedt dan teman-temannya menyaksikan sebuah program tentang orang-orang yang tidak percaya bahwa Holocaust benar-benar terjadi. 

"Kami kesal dan sedikit kecewa. Kami mulai bercanda tentang kebodohan membantah Holocaust," ungkap Löfstedt seperti yang dikutip FourFourTwo. 

"Kemudian, kami berpikir tentang Piala Dunia 1958. Satu jam setelahnya, kami pun berencana membuat film ini. Sebuah mockumentary." ucapnya lagi. 

------------------------------------------------------------------------

Sabtu (27/7/2019), wajah Irianto Lambrie tanpa senyum saat maju ke panggung Lamin Etam Kantor Gubernur Kaltim. Ia sudah tiba pukul 08.00 WITA saat agenda acara seharusnya sudah mulai, tetapi justru molor hingga 1 jam setelah itu. 

Datang sebagai undangan acara Seminar Nasional Kesiapan Pemindahan Ibu Kota garapan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) dan Universitas Mulawarman, mantan Sekprov Kaltim ini justru berikan komentar menukik.

Di saat banyak pembicara sampaikan komentar positif akan dipilihnya Kaltim sebagai Ibu Kota, Irianto tidak demikian. Ia blak-blakan sebut perpindahan ibu kota ini tak sekedar hanya bicara keunggulan dan kekurangan di daerah kandidat, tetapi juga ada proses politik di dalamnya. 

“Ini keputusan politik. Kalau keputusan politik itu tentu ditetapkan oleh orang politik dan Lembaga politik. Presiden, DPR. Dan proses untuk ambil keputusan politik itu tidak mudah. Sebagai warga Kaltim, saya sayangkan juga pejabat pemprov banyak tak hadir. Gerak cepat itu penting. Kalau tak gerak cepat, orang lain bergerak. Karena keputusan politik itu juga ada pressure politik. Biar kita bilang kita hebat ini itu, tetapi orang kan tak dengar itu,” ucap Irianto. 

Persoalan politik itu disampaikannya juga perlu langkah-langkah politik. 

“Ini perlu diplomasi, perlu mengajak orang. Ini belum pernah dibicarakan secara detail. Bappeda Kaltim aja belum ada rencana apa-apa saya lihat. Saya khawatir diskusi di kalangan Pemprov Kaltim saja belum ada itu. Coba tanya kepala-kepala dinasnya, atau para bupati, ada tidak Gubernur jelaskan kita harus bagaimana. Baru bagaimana ajak pengusaha, pemerintah daerah, tokoh masyarakat untuk gabung,” ucapnya. 

Dirinya membandingkan dengan apa yang sudah dilakukan provinsi lain seperti Kalteng dan Kalsel. 

“Kalteng dan Kalsel sistematis. Tokoh-tokoh adat Kalteng, misalnya, datang ke istana untuk berikan pressure. Sampaikan kita (mereka) harus dipilih. Kita (Kaltim) sering tunjukkan kebanggan, kita bisa kita bisa, 90 persen kita yakin kriteria dikabulkan, belum tentu bos. Ini keputusan politik, tidak sederhana. Menurut saya, harus tegas Pemprov Kaltim, kalau perlu keluar modal,” ucapnya. 

Diwawancara usai seminar, Irianto bahkan tak ragu menyebut Kaltim sudah kalah 5-0 jika dibandingkan dengan Kalsel dan Kalteng dalam upaya merebut hati pusat untuk dipilih sebagai calon ibu kota RI. 

“Mungkin 5-0. Jangankan Kalteng. Kalsel saja Gubernurnya semangat. Harus ada greget. Kita memang siap dan paling layak. Layaknya itu kita buktikan, jangan ngomong saja,” ucapnya. (*) 

Kata Bappenas

Tim redaksi Diksi.co sempat pula mewawancara pihak perwakilan Bappenas RI, tepatnya pada Direktur Perkotaan, Perumahan dan Permukiman Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti, usai dirinya berikan presentasi terkait rencana pemindahan ibu kota itu. 

Salah satu hal yang Diksi.co pertanyakan adalah perihal kepercayaan diri beberapa pihak di Kaltim termasuk Pemprov dan juga civitas akademika yang meyakini Kaltim miliki peluang besar dalam pemindahan ibu kota. 

Diketahui, ada 7 kriteria dalam pemidahan ibu kota RI. Kaltim disebut-sebut memiliki persentase lebih besar dalam pemenuhan 7 kriteria itu. Untuk hal itu, Tri Dewi Virgityanti justru tak berani membenarkan hal itu. 

“Saya tak bisa bilang. Semua ada plus minus. Tak bisa saya konfirmasi itu. Semua penilaian itu, sempat kami presentasikan itu, Kalteng, Kaltim dan Kalsel seperti ini. Sempat ada lihat hasil seperti itu, Kaltim seperti itu, mereka (Kaltim) pedenya seperti itu," ucapnya. 

Direktur Perkotaan, Perumahan dan Permukiman Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti/ Diksi.co

Diksi.co pun kembali mengejar terkait proses pemilihan ibukota RI itu. Diketahui, Presiden RI Jokowi nantinya akan memilih 1 nama kandidat pengganti ibu kota dan kemudian diajukan ke DPR RI. 

Lantas, bagaimana jika calon kandidat itu ditolak oleh DPR RI. Apakah akan kembali di dua nama lainnya, atau hasil pilihan Jokowi itu sudah pasti akan diterima kalangan Dewan. 

“Saya tidak tahu prosesnya. Strategi itu ada di pak Jokowi. Itu artinya strategi secara politis untuk membangun komitmen bersama,” ucapnya. (*)  

Yang Dilakukan Kaltim 

Lantas apa yang sudah dilakukan Kaltim? 

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah dua kali berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait rencana pemindahan ibu kota negara, setelah menyiapkan lahan sekitar 62 ribu hektare di Taman Hutan Raya Bukit Soeharto yang lokasinya sudah dikunjungi Presiden Joko Widodo.

“Lokasi Bukit Soeharto sebagai calon ibu kota negara telah disurvei oleh Presiden Joko Widodo. Kemudian kami sudah dua kali koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri terkait kesiapan kita menjadi ibu kota negara,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kaltim, Zairin Zain beberapa waktu lalu. 

Ia menjelaskan bahwa dua kali pertemuan dengan Kementerian Dalam Negeri tersebut untuk meyakinkan tentang kesiapan Kaltim menjadi ibu kota negara menggantikan Jakarta, seiring wacana pemindahan ibu kota yang akan dimulai pembangunannya tahun 2020, sehingga tahun ini harus dipastikan daerah mana yang ditunjuk.

Hingga saat ini hanya ada dua provinsi yang menjadi calon kuat menjadi ibu kota negara, yakni Provinsi Kalteng dan Provinsi Kaltim. Terkait dengan itu, maka Kaltim melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat terkait kesiapannya agar provinsi ini bisa ditetapkan sebagai ibu kota negara.

Grafis Pemindahan Ibu Kota/ Diksi.co

Diumumkan Agustus 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui Ibu Kota Negara Republik Indonesia akan dipindahkan dari Jakarta ke salah satu tempat di Pulau Kalimantan. Ia berjanji akan menyampaikan secara resmi tempat pemindahan ibu kota pada Agustus mendatang.

“Iya kan memang sudah dari dulu saya sampaikan pindah ke Kalimantan. Nah, Kalimantannya yang Kalimantan mana yang belum. Nanti kita sampaikan Agustuslah,” kata Jokowi seperti dikutip dari laman Setkab, Selasa (39/7/2019).

Menurut Jokowi, kajian pemindahan ibu kota itu hingga saat ini belum rampung, belum tuntas.

“Saya kira kalau sudah rampung, sudah tuntas, detailnya sudah dipaparkan, untuk kajian kebencanaan seperti apa, kajian mengenai air, kajian mengenai keekonomian, kajian mengenai demografinya, masalah sosial politiknya, pertahanan keamanan, semuanya karena memang harus komplit,” jelas Jokowi.

Grafis Bukit Soeharto/ Diksi.co

Ia menegaskan, pemerintah tidak ingin tergesa-gesa dalam masalah pemindahan ibu kota negara itu. Tetapi pemerintah ingin secapatnya diputuskan.

Sebelumnya Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengemukakan, bahwa pemindahan ibu kota negara dari Jakarta akan diumumkan oleh Presiden.

Menurut Bambang, lokasi pemindahan ibu kota ada di Pulau Kalimantan. Namun ia enggan menyebutkan nama provinsinya.

“Pulaunya Kalimantan, provinsinya nanti (menyusul),” ujar Bambang. (tim redaksi Diksi)

BACA JUGA: Deretan Meme Banjir Samarinda, Dari Kam Hanyarkah hingga Pak Jaang Dimana

BACA JUGA: Aksi Sosial, Bubuhan Kopi Samarinda Seduhkan Kopi Untuk Korban Banjir

BACA JUGA: Cipayung Plus Kaltim Harap Jokowi-Prabowo Silaturahmi Satu Meja

Ikuti Facebook Diksi.co: 

You Tube Diksi.co: 

 

 

 

 

 

 

 



Tinggalkan Komentar



Baca Lainnya