Fakta-fakta Masjid di Lapangan Kinibalu, Awang Pernah Merasa Difitnah hingga Isran Sebut Bakal Evaluasi


person access_time 3 weeks ago remove_red_eyeDikunjungi 73 Kali
Fakta-fakta Masjid di Lapangan Kinibalu, Awang Pernah Merasa Difitnah hingga Isran Sebut Bakal Evaluasi

Aksi demo menolak pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu Samarinda, Senin (24/6/2019)

Berikut tim redaksi Diksi.co himpun beberapa fakta mengenai proses pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu Samarinda: 

Ditulis Oleh: DIKSI.co
24 Juni 2019

DIKSI.CO, SAMARINDA - Masyarakat yang klaim berasal dari warga sekitar Lapangan Kinibalu kembali lakukan aksi demo menolak pembangunan tempat ibadah di kawasan tersebut. 

Demo dilakukan Senin (24/6/2019) hari ini di Kantor Gubernur Kaltim. 

Terkait pembangunan tempat ibadah di Lapangan Kinibalu Samarinda, demo kali ini bukanlah pertama kali terjadi. 

Di era kepemimpinan Gubernur Awang Faroek Ishak, demo serupa juga lebih tiga kali terjadi. 

Diketahui, agenda pembangunan tempat ibadah (masjid) di Lapangan Kinibalu ini muncul di era kepemimpinan Awang Faroek Ishak, atau tepatnya di periode akhir Gubernur Kaltim 2 periode tersebut. 

Berikut tim redaksi Diksi.co himpun beberapa fakta mengenai proses pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu Samarinda: 

1. Anggaran Kontrak Rp 64, 8 Miliar 

Bangunan masjid di Lapangan Kinibalu Samarinda disebut telan anggaran Rp 64,8 Miliar. 

Hal itu sesuai dengan penjelasan dari Kepala Cabang PT. Bangun Cipta Kontraktor, Rizal Hartanto. 

Disebutnya, kontrak anggaran tersebut digunakan untuk beberapa bangunan utama, yakni bangunan utama masjid, rumah imam serta ruang wudhu. 

Masjid direncanakan dibangun 3 lantai dengan kapasitas 1500 orang. 

Beberapa fasilitas lain juga diagendakan akan ada di masjid tersebut seperti guest house, kantin, serta halaman parkir. 

Diketahui, dalam proses pembangunan proyek pembangunan masjid di lakukan oleh PT. Bangun Cipta Kontraktor sebagai kontraktor pelaksana dengan PT. Widyacona Consultant sebagai konsultan perencana dan PT. Asri Adyatama sebagai konsultan pengawas. 

2. Pernah Ditolak Dewan 

Tak hanya oleh warga, DPRD Kaltim juga pernah keluarkan surat rekomendasi penolakan pembangunan masjid itu. 

Hal ini terjadi pada September 2018 lalu. 

Saat itu rekomendasi dikeluarkan usai anggota Dewan dipimpin Ketuanya, M.Syahrun selesai adakan rapat bersama di kantor Karang Paci. 

Beberapa pihak diundang, termasuk warga sekitar, hingga pihak keamanan dan perwakilan pemkot Samarinda. 

Alasan penolakan yakni karena tak adanya IMB (Izin Mendirikan Bangunan) di masjid Kinibalu. 

Selain itu, lapangan kinibalu juga saat itu tengah diajukan untuk menjadi kawasan cagar budaya. 

Suasana rapat pembahasan masjid Lapangan Kinibalu di Kantor DPRD Kaltim beberapa waktu lalu

3.Pernah Ditolak, Pernah Juga Didukung 

Tak hanya ditolak, proses pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu juga pernah dapatkan dukungan untuk tetap dibangun. 

Dukungan itu pernah terjadi beberapa hari usai Isran Noor-Hadi Mulyadi masuk kerja di kantor Gubernur Kaltim. 

Adalah pihak dari Aliansi Umat Islam Kaltim yang nyatakan dukungan untuk pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu tersebut. 

“Kami gelar aksi damai yang meminta agar pembangunan masjid tetap dilanjutkan. Pasalnya ini merupakan rumah ibadah dan juga pembangunannya telah dapatkan persetujuan dari DPRD Kaltim serta Pemprov," ucap Jafri Musa, Ketua Aliansi Umat Islam Kaltim, yang menjadi inisiatir dilakukannya demo tersebut saat wawancara saat itu, 4 Oktober 2018 lalu. 

Ia pun tak menampik bahwa aksi demo kali ini adalah yang pertama kali dilakukan. 

"Ini yang pertama," ucapnya. 

Aliansi Umat Islam Kaltim saat sampaikan dukungan pembangunan masjid di Lapangan Kinibalu. Aksi dilakukan di depan Kantor Gubernur Kaltim

Kenapa baru sekarang lakukan aksi sekarang saat Gubernur telah berganti, disebutnya karena tak lepas dari sudah terbangunnya sebagian dari masjid di Lapangan Kinibalu. 

"Masjid kan sekarang sudah mulai dibangun. Kalau memang ada aspek hukum yang diduga masyarakat dilanggar, silakan saja masuknke ranah hukum, tetapi tidak menggangu jalannya pembangunan masjid," ucapnya. 

4.Awang Merasa Difitnah 

Pembangunan masjid di Lapangan Kinivalu juga tak lepas dari sosok Awang Faroek Ishak. 

Di kepemimpinannyalah masjid tersebut diagendakan untuk dibangun. 

Dalam wawancara dengan awak media, Awang yang kini lolos menjadi Legislator di DPR RI ini juga pernah sampaikan ia merasa difitnah dalam proses pembangunan masjid di Kinibalu. 

Awang Faroek saat masih menjabat Gubernur Kaltim meninjau lokasi masjid di Lapangan Kinibalu Samarinda

Pasalnya, proyek tersebut telah disetujui penganggarannya oleh Dewan di Karang Paci. Namun, dalam waktu berjalan, justru beberapa kali timbul desakan agar adanya rencana ukang untuk pembagunan masjid tersebut. 

"Banyak yang terjadi, seperti misalnya masjid. Saya diganggu terus. DPRD juga tak konsisten. Mestinya ketika sudah sepakat dengan persetujuan DPRD, ya biarkan. Jangan ditengah jalan, mau diganggu lagi. Itu proyek yang tak bisa dihambat. Termasuk IMB. Kami sudah ajukan kepada PTSP Samarinda. Menurut UU, apabila 21 hari tak dijawab, dianggap sudah diterima. Makanya kami jalan terus,” kata Awang Faroek. 

5.Isran Noor Sebut Bakal Evaluasi 

Dalam proses perpindahan jabatan antara Awang Faroek ke Isran Noor, beberapa agenda juga pernah disampaikan Isran Noor. 

Salah satunya evaluasi beberapa proyek-proyek pembangunan. Seperti diketahui, Isran Noor lebih mengedepankan proyek-proyek pembangunan yang tak terlalu besar (anggaran) tetapi memiliki banyak manfaat ke masyarakat. 

Salah satu yang disebutnya akan dievaluasi adalah proyek masjid di Lapangan Kinibalu. 

“Proyek tidak cuma masjid, semua banyak yang dievaluasi. Termasuk program yang menurut perhitungan saya dengan pak Hadi yang belum menyentuh banyak kepentingan masyarakat bawah, kami akan evaluasi semua," tukasnya saat hadiri menghadiri Malam Pisah Sambut Pj Gubernur Kaltim dan Gubernur Kaltim di Plenary Hall Kompleks GOR Madya Sempaja, Jumat (05/10/2018) malam.

Ditanya tanggapannya terhadap sejumlah Ormas yang memberikan dukungan, Isran justru menyebut pembangunan masjid bukan perkara setuju tak setuju. 

"Sepanjang dia (pembangunannya) masih sesuai prosedur, saya nda ada masalah. Ini bukan persoalan setuju nda setuju. Sepanjang prosedurnya benar, misalnya dalam SKB itu menyebutkan minimal 60 orang masyarakat disekitarnya setuju tanda tangan. Kalau sudah setuju, kemudian harus dapat rekomendasi dari FKUB, nah udah itu disampaikan ke wali kota, wali kota terbitkan IMB. Kalau sudah selesai semua itu tidak ada masalah," katanya. (tim redaksi Diksi)

BACA JUGA: Deretan Meme Banjir Samarinda, Dari Kam Hanyarkah hingga Pak Jaang Dimana

BACA JUGA: Aksi Sosial, Bubuhan Kopi Samarinda Seduhkan Kopi Untuk Korban Banjir

BACA JUGA: Cipayung Plus Kaltim Harap Jokowi-Prabowo Silaturahmi Satu Meja

Ikuti Facebook Diksi.co: 

You Tube Diksi.co: 

 



Tinggalkan Komentar



Baca Lainnya