Dinginnya Air Terjun Jantur Dora


person access_time 1 year ago remove_red_eyeDikunjungi 1292 Kali
Dinginnya Air Terjun Jantur Dora

Salah satu air terjun, yakni Jantur Dora, yang berlokasi di Desa Awai, Kecamatan Nyuatan, Kutai Barat.

Berwisata ke tempat-tempat pedesaan seringkali juga patut dilakukan. Meskipun minim fasilitas, tetap saja travelers bisa merasakan beberapa spot-spot menarik yang bisa dijadikan referensi jika berada di suatu daerah. Kutai Barat misalnya yang memiliki beragam wisata-wisata alam yang sayang dilewatkan.

 

Ditulis Oleh: DIKSI.co
02 Oktober 2018

 

Jalan-Jalan Kutai Barat

Dinginnya Air Terjun Jantur Dora

Tak hanya danau, rumah adat, serta beragam kerajinan khas masyarakat suku Dayak, Kubar juga memiliki air terjun yang menjadi salah satu tempat wisata lain di Kabupaten tersebut. Adalah Air Terjun Jantur Dora namanya.

Untuk bisa menuju ke sana, berjarak sekitar 1 km dari pedesaan setempat yakni Desa Awai. Setelah tiba pun, anda harus berjalan kembali menyusuri jalan setapak sekitar 10 menit.

Meskipun harus berjalan, lelah akan terbayarkan seketika anda tiba di Air Terjun Jantur Dora.

Tinggi air terjun yang mencapai 10 meter, serta masih asri dan sepinya suasana di tempat tersebut, membuat keseluruhan air terjun seakan menjadi milik anda sendiri.

Air Terjun Jantur Dora tidak terlalu terkenal sehingga belum ramai dikunjungi wisatawan luar daerah. Hanya ada beberapa warga setempat yang datang untuk mandi dan mencuci.

Belum ada pungutan biaya masuk ke dalam kawasan air terjun ini karena masih belum ada campur tangan pemerintah dalam pengelolaannya.  Namun, kabarnya Jantur Dora ini nanti akan segera dibuka secara resmi sebagai daya tarik wisata dan dikelola langsung oleh pemerintah setempat. 

Masih belum ramai dijamah masyarakat, membuat air terjun belumlah begitu memiliki sampah-sampah yang kadang muncul di lokasi wisata. Selain itu, suhunya sangat dingin. Disarankan untuk datang pada siang atau sore hari, karena suhu dingin yang sangat tinggi jika pengunjung datang di pagi hari. 

Nama Jantur Dora, tidak ada hubungannya dengan dora the explorer. Kata Jantur merupakan kata yang diambil dari bahasa Dayak Benuaq yang artinya 'air jatuh' sedangkan Dora merupakan nama sungai yang mengaliri sepanjang Desa Awai.

Desa Awai, Desanya Para Petani

Desa Awai merupakan salah satu desa yang lumayan terpencil di Kutai Barat. Ini adalah satu dari beberapa desa yang ada di Kecamatan Nyuatan, Kutai Barat. Untuk menempuh perjalanan ke daerah tersebut dari Samarinda memakan waktu yang cukup lama yaitu 8-9 jam. 

Kondisi pedesaan yang sebagain besar masyarakatnya adalah petani tersebut masihlah banyak berupa tanah kosong dan jalan beralaskan tanah, belum aspal. Sebenarnya listrik juga tahun lalu belum ada, jadi biasanya penerangan hanya memakai obor / lilin. Untungnya, di tahun ini ada kemajuan, yakni adanya pengaliran listrik ke setiap rumah-rumah. 

Sebagian besar mata pencaharian warga di Desa Awai adalah petani. Ada yang bercocok tanam di ladang, pencari kemiri, penggumpal karet, dan lainnya. Sedangkan warga yang bermata pencaharian sebagai penjual sembako hanya bisa dihitung jari. 

Lamin Pepas Eheng

Jika Samarinda memiliki rumah adat yang berada di Pampang, Kubar juga tak mau kalah. Salah satunya adalah rumah Lamin Pepas Eheng. Berjarak sekitar 10 km dari Desa Awai,

Lamin Pepas Eheng sudah dibangun sejak tahun 1962 dan berukuran panjang 125 meter. Pembangunan rumah lamin ini dilakukan secara bergotong royong oleh warga Dayak di Pepas Eheng.

Bangunan lamin secara keseluruhan terbuat dari kayu.  Pondasi / tiang berasal dari kayu ulin. Pun begitu dengan atap lamin. Ini dituturkan warga untuk menjaga atap lamin agar tidak lapuk. Bakan dituturkan akan semakin kuat jika terkena air. Sedangkan untuk dinding dan lantai lamin menggunakan papan-papan kayu meranti, sama kuatnya dengan ulin.  

Keunikan Lamin Pepas Eheng tak hanya itu. Tepat di salah astu sudut lamin, ada beberapa patung yang disebebut warga sebagai “belontakng" Arti belontakng merupakan  patung yang berukiran seperti wajah dan badan manusia. Warga menyebut , belontakng sengaja digunakan untuk mengelabuhi roh jahat atau makhluk halus agar tidak menggangu manusiaDalam kegiatan adat dayak juga khususnya dayak benuaq, patung belontakng biasanya digunakan untuk mengikat sapi atau kerbau yang akan disembelih atau dikorbankan pada acara adat.

Lamin Pepas Eheng ini juga tak hanya digunakan sebagai tempat wisata saja, tetapi juga terdapat 30 lebih kepala keluarga yang tinggal dan menetap. Untuk membagi tempat biasanya hanya menggunakan sekat-sekat.

Untuk kesenian tradisional, masyarakat di Lamin Pepas Eheng juga memiliki beberapa kerajinan khas yang biasanya dijual kepada para wisatawan yang dating berkunjung. Diantaranya adalah "gawakng". Kata "gawakng" diambil dari bahasa Dayak Benuaq yang artinya anjat / tas rotan.

 Tangkap Ikan Dengan Tangan

Kubar juga memiliki danau. Di tempat ini, biasanya warga memiliki cara tersendiri dalam menangkap ikan. Bukan dengan kail, ataupun joran pancing, tetapi lebih ekstrem lagi, yakni menggunakan tangan. 

Nama tempatnya adalah "Danau Beloan". Jaraknya agak jauh dari Desa Awai, kurang lebih memakan waktu 1 jam untuk tiba disana. Selain itu, usai tiba, kendaraan yang dikendarai haruslah di parkir di jalan kecil, karena untuk bias menuju ke Danau Beloan, harus berjalan kaki sekitar 20 menit karena medan jalan yang cukup sukar.

Namun, Danau Beloan memiliki keganjilan ketika rombongan kami tiba di tempat tersebut. Tempat ini tidak terlihat seperti layaknya danau tapi lebih ke anak sungai. Hal ini wajar karena saat itu, danau sedang dalam kondisi kemarau, sehingga air surut serta berwarna keruh. Surutnya danau itulah yang menjadi alasan warga untuk kerap kali memancing ikan menggunakan tangan.

Biasanya warga saat melakukan aktivitas memancing melakukannya secara berbarengan. Bagi mereka yang baru pertama kali melakukan aktivitas pemancingan tangan tersebut, akan cukup sulit untuk bias menangkap ikan, meskipun ikan bisa dirasakan menyentuh badan. Meskipun seringkali menggunakan tangan, beberapa warga juga kerap menggunakan jala kecil untuk membantu mendapatkan ikan.

Jenis ikan yang hidup di danau beloan adalah ikan puyu, sepat, tomang dan juga ikan haruan, dan semua ikannya bisa dikonsumsi. (tim redaksi Diksi) 

 



Tinggalkan Komentar



Baca Lainnya