Ajuan Kredit PT Selyca Mulia, Tanpa Pengalaman hingga Dapat Pinjaman Ratusan Miliar


person access_time 1 week ago remove_red_eyeDikunjungi 472 Kali
Ajuan Kredit PT Selyca Mulia, Tanpa Pengalaman hingga Dapat Pinjaman Ratusan Miliar

Foto Ilustrasi Mall dan Hotel Selyca Mulia. Tanpa pengalaman, PT. Selyca Mulia dapat pinjaman hingga ratusan miliar/ Diksi.co

Jumlah jaminan itu, tak sesuai dengan SOP (Standard Operational Procedure) Perkreditan. Berdasarkan SOP Perkreditan, nilai jaminan yang harus disiapkan adalah 150 persen dari fasilitas kredit (yang diterima). 

Ditulis Oleh: DIKSI.co
10 Juli 2019

DIKSI.CO, SAMARINDA - Pasca BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) RI Perwakilan Kaltim membeberkan hasil laporan audit kepatuhan Bankaltimtara, terungkap PT. Selyca Mulia mulia tidak memiliki pengalaman dalam mengelola bisnis. 

Hal ini terungkap dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Bankaltimtara oleh BPK.  

Imbasnya, BPK pun menganggap bank pelat merah itu tak sepenuhnya terapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit untuk pinjaman yang diajukan PT. Selyca Mulia (SM). 

Diketahui kredit dari Bankaltimtara ke PT. SM itu membuat dana mengucur hingga ratusan miliar untuk pembangunan dua infrastruktur bisnis yakni Mall Plaza Mulia dan Hotel Selyca Mulia. 

Status tak sepenuhnya terapkan prinsip ketidak hati-hatian itupun tim redaksi Diksi runut berdasarkan laporan BPK.

Semua bermula saat PT. SM mengajukan permohonan kredit untuk pembangunan mall di tahun 2007. Saat itu, nilai angka yang dimohonkan adalah Rp 161 Miliar. 

Dalam pengajuannya, jaminan yang diberikan oleh PT. SM adalah tanah seluas 11.355 meter persegi. 

Waktu berlanjut, permohonan kredit itu pun disetujui oleh Bankaltimtara dengan fasilitas kredit yang diberikan adalah Rp 150 Miliar. 

Pinjaman tetap diberikan meski saat itu PT. SM adalah perusahaan baru, tidak berpengalaman, serta barang yang dijadikan jaminan (tanah) belumlah memiliki omzet. 

Waktu pun berlanjut, PT. SM mulai mengerjakan proses pembangunan mall dengan gunakan dana kredit dari Bankaltimtara. 

Belum 100 persen proses konstruksi selesai, PT. SM kemudian kembali lakukan permohonan kredit kepada Bankaltimtara, tepatnya pada 8 Januari 2009. 

Jumlah kredit yang dimohonkan saat itu adalah Rp 20 Miliar. Permohonan dilakukan PT. SM dengan faktor adanya kenaikan barang material yang membuat RAB (rencana anggaran biaya) pembangunan mall itu berubah. 

Adanya permohonan kredit kedua itu pun juga disetujui oleh Bankaltimtara. Pencairan kredit tersebut terjadi pada 5 Februari 2009 (27 hari setelah proses pengajuan). 

Tak selesai sampai disitu, pada 20 Februari 2009, PT. SM kembali ajukan permohonan kredit (15 hari setelah pencairan kredit ke-2). 

Untuk kredit ke-3, jumlah pinjaman yang dimohonkan adalah Rp 25 Miliar. Dana itu diklaim akan digunakan untuk pembelian kabel power, panel utama kelistrikan dan genset serta untuk finishing konstruksi. 

Saat kredit ke-3 itu, berdasarkan laporan BPK, PT. SM telah menunggak pembayaran bunga sebesar Rp 3,2 Miliar. 

Meski demikian, pinjaman kredit diberikan kepada PT. SM. 

Hal itu membuat, selama 37 hari kerja, PT. SM telah dapatkan plafon kredit dari Bankaltimtara sebanyak Rp 45 Miliar. 

Jika ditotal dari plafon kredit pertama hingga ketiga, jumlahnya capai Rp 195 Miliar (Rp 150 M + Rp 20 M + Rp 25 M). 

Kembali berlanjut, PT. SM kembali ajukan kredit ke Bankaltimtara. Kali ini, permohonan kredit diajukan dengan pertimbangan untuk penyelesaian 100 persen konstruksi. 

Permohonan plafon kredit ini pun kembali disetujui dengan besaran Rp 35 Miliar pada 21 Oktober 2009. 

Terus diberikan persetujuan, hal-hal ini pula yang kemudian ditemukan oleh BPK. Dari proses pengajuan dan kemudian disetujui itu, ada beberapa hal yang dinilai BPK tidak sesuai.

Salah satunya terkait agunan (jaminan). 

Ditelisik dari laporan BPK, jumlah jaminan PT. SM dari tanah dan bangunan adalah senilai Rp 190 Miliar. 

Jumlah jaminan itu, tak sesuai dengan SOP (Standard Operational Procedure) Perkreditan. Berdasarkan SOP Perkreditan, nilai jaminan yang harus disiapkan adalah 150 persen dari fasilitas kredit (yang diterima). 

Dirupiahkan, jumlah jaminan yang semestinya dipenuhi PT. SM adalah Rp 255 Miliar, tetapi dalam prosesnya, jumlah jaminan yang dipenuhi adalah Rp 190 Miliar.

Atas dasar itu, BPK ikut merilis beberapa dampak, termasuk diantaranya potensi kredit macet dari kredit PT. SM tersebut. (*) 

Kembali Pinjam untuk Bangun Hotel 

Usai lakukan permohonan kredit untuk pembangunan mall dan disetujui Bankaltimtara, PT. SM pada 5 Agustus 2011 kembali ajukan permohonan kredit kepada Bankaltimtara. 

Kali ini, permohonan kredit ditujukan untuk bisnis jasa perhotelan. Saat itu, hotel yang akan dibangun adalah hotel Selyca Mulia dengan klasifikasi hotel bintang 4 dengan 141 kamar, convention center dan meeting room. Kredit yang diajukan sebesar Rp 100 Miliar. 

Grafis Timeline Credit PT Selyca Mulia/ Diksi.co

Sebelum lanjut pada proses persetujuan pinjaman, dari laporan BPK disebutkan bahwa saat itu telah ada penekanan oleh Asisten Pengendalian Kredit terkait beberapa hal. 

Pertama, yakni pengalaman pada pembangunan mall (kredit sebelumnya), yang bisa saja berimbas dan terulang pada kredit untuk pembangunan hotel SM. 

Kedua, dari laporan BPK disebutkan bahwa nilai pembangunan hotel berasal dari perhitungan RAB yang tidak melalui konsultan independen, sehingga bisa menimbulkan resiko over budgeting (seperti terjadi pada kredit pembangunan mall). 

Ketiga, yakni pertimbangan usaha perhotelan yang memiliki tingkat persaingan tinggi. 

Meski demikian, pada 28 Februari 2012, fasilitas kredit diberikan Bankaltimtara kepada PT. SM dengan maksimum plafon sebesar Rp 110 Miliar. 

Terulang seperti proses pembangunan mall, pada 12 Februari 2014, PT. SM kembali memohon penambahan investasi sebesar Rp 13 Miliar. Dana itu diklaim akan digunakan untuk penambahan pasokan listrik di hotel SM. 

Dari pengajuan pinjaman itu, Bankaltimtara kemudian lakukan analisis perbankan. Saat itu, diketahui bahwa hotel SM barulah lakukan soft opening pada Mei 2014. Hal itu membuat hotel SM dianggap belum mampu hasilkan pendapatan untuk membayar kewajiban kredit. 

Imbasnya, penambahan plafon tak dilakukan oleh Bankaltimtara. 

Berlanjut satu tahun kemudian, pada 2015, PT. SM kembali mencoba lakukan permohonan pinjaman kepada Bankaltimtara. Saat itu, rincian dana yang diajukan adalah Rp 33 Miliar yang akan digunakan untuk pemenuhan fasilitas di hotel SM. 

Pemenuhan fasilitas itu, termasuk diantaranya 2 unit lift. Namun, permohonan penambahan dana itu tak dapatkan persetujuan dari Bankaltimtara. (*) 

Klarifikasi Bankaltimtara 

Rabu siang (10/7/2019), tim redaksi Diksi menemui Adi Sugiarto, Pimpinan Departemen Hubungan Korporasi Bankaltimtara untuk meminta klarifikasi akan hal itu. 

Di pertemuan itu, hadir pula 3 orang lainnya, yakni Sony Aji Wijaya, Wahyudi Azhar, dan Kusyanto. Ketiganya menjabat Pelaksana Hubungan Korporasi. 

Terkait beberapa temuan BPK itu, Adi Sugiarto sampaikan bahwa memang benar ada fasilitas kredit yang telah diberikan Bankaltimtara kepada PT. SM untuk dua bisnis mereka, hotel serta mall. 

“Pertama, bahwa benar kami berikan fasilitas kredit kepada grup Selyca. Saat ini kreditnya masih lancar. Kami juga saat ini masih dalam pengawasan oleh BPK. Intinya, kami masih lakukan penyehatan terhadap kredit yang kami luncurkan,” ucap Adi Sugiarto. 

Adi Sugiarto, Pimpinan Departemen Hubungan Korporasi Bankaltimtara/ Diksi.co

Tim redaksi Diksi.co pun klarifikasi terkait sampai kapan jangka waktu pengembalian kredit untuk 2 pinjaman yang dilakukan PT. SM itu (untuk mall dan hotel). Pertanyaan terkait target waktu pelunasan keduanya.

Untuk hal itu, Adi sampaikan bahwa ia masih belum membuka data akan hal itu. 

“Untuk yang punya Selyca, kami belum buka file-nya. Intinya, kredit modal kerja saat itu, memang ada jangka waktu antara 4-5 tahun. Tetapi itu bisa kami perpanjang apabila dia (PT. SM) belum bisa lakukan penyelesaian kredit,” ucapnya. 

Proses perpanjangan waktu pembayaran itu pun juga ikut Diksi.co pertanyakan. Mengingat PT. SM beberapa kali ajukan permohonan untuk perpanjangan pembayaran kredit.  

“Untuk itu ada aturannya. Aturan untuk perpanjang dari BI sebenarnya tidak ada. Intinya sampai kredit itu selesai. Intinya sampai itu, jangka waktunya sampai berapapun, tak ada yang mengatur,” ucapnya. 

Diksi.co pun pertanyakan butuh berapa kali perpanjangan hingga akhirnya bank memutuskan bahwa kreditur tak mampu membayar pinjaman dan berimbas pada penyitaan aset. 

“Itu dari kebijakan masing-masing bank. Seumpamanya, hingga 3 kali (perpanjangan), dan tidak ada niat baik dan juga kemampuan. Selain itu, usaha itu juga rugi, maka kami tidak boleh addendum perpanjangan waktu pembayaran. Kami lakukan langkah-langkah penjualan aset,” ucapnya. 

Terkait proses pengajuan kredit yang dilakukan 2 kali oleh PT. SM juga diterangkan. Diketahui, PT. SM lebih dahulu ajukan permohonan kredit untuk pembangunan mall yang berimbas pada over budgeting dan kemudian mengajukan lagi permohonan kredit untuk pembangunan hotel. 

“Jadi gini, itu usaha kan beda, antara hotel dan mall. Memang pada saat awal kami biayai untuk mall. Setelah itu hotel. Itu kan beda. Kami menganggap pada saat itu, sumber pemgembalian beda. Ada satu nama (PT.SM), tapi dua usaha. Itu diperbolehkan. Contoh, saya punya usaha buat sepatu, dan satu lagi rental mobil. Saya boleh ambil dua fasilitas (kredit), dengan satu badan hukum. Tetapi, sumber pengembalin itu kan beda,” ucapnya. 

Lebih lanjut, Bankaltimtara juga tegaskan bahwa pihaknya akan memastikan kreditur (PT.SM) menyelesaikan pelunasan fasilitas kredit yang telah diterima. 

“Oh iya. Tetap, kami sampaikan kepada kreditur, di dalam addendum juga isinya jelas. Bahwa sampai dengan masa sekian, itu harus diselesaikan. Tetapi, tetap, kalau tak diselesaikan akan kami perpanjang, sepanjang dia mampu (membayar),” ucapnya. (*) 

Komisaris Bantah

Sementara itu, dikonfirmasi, Komisaris Utama PT.SM, HM. Syahrun membantah kredit macet perusahaannya itu. 

"Tidak ada kredit macet, lancar aja," kata HM. Syahrun yang berhasil ditemui usai memimpin rapat Badan Anggaran di DPRD Kaltim, Selasa (9/7/2019) lalu. 

Syahrun menegaskan hal yang dimaksud BPK adalah laporan tahun 2018, dan telah diselesaikan berkala oleh manajemen PT.SM.

"Yang lalu. Tahun lalu memang iya, tapi sekarang sudah lancar. Bukan macet, tapi tidak lancar," lanjut Syahrun yang juga tercatat sebagai ketua DPRD Kaltim ini.

Grafis Temuan BPK atas imbas pinjaman PT. Selyca Mulia ke Bankaltimtara/ Diksi.co

Ditanya terkait rekomendasi penyitaan sejumlah aset milik PT.SM, Syahrun mengaku tidak mengetahui hal ini. 

"Tidak, saya tidak tahu," tutupnya sambil meninggalkan awak media. (*) 

Pengamat Ekonomi Unmul: Jangan Anak Emaskan Satu-Dua Orang

Pengamat Ekonomi dari Universitas Mulawarman, Chairil Anwar juga berikan pendapat terkait temuan BPK soal pengajuan kredit PT. SM ke Bankaltimtara itu. 

“Dua tahun atau tiga tahun lalu kan yang kita dengar itu kredit macetnya (PT. SM). Ini kan soal persetujuan. Appraisalnya bagaimana? Sebelum ajukan kredit, pihak bank kan ajukan appraisal (penilaian), yang kita sebut bankable. Artinya, orang ini layak atau tidak diberi kredit," katanya Rabu (10/7/2019) sore. 

Dijelaskannya, dalam proses pemberian kredit, ada panduan yang bisa diterapkan yakni 5 C (character, capacity, capital, condition, dan collateral). 

“Semua itu harus dinilai. Soal capacity, harus dihitung kondisi aset dan kekayaannya. Collateral itu jaminan. Bahasanya, kredit (pinjaman) itu bisa kembali. Yang jadi masalah kan, pengajuan itu atas nama PT. Selyca. Selyca itu kan perusahaannya baru, pada saat berdiri itu. Nah, bagaimana menilai kemampuan mereka berusaha, kalau perusahaannya baru berdiri. Itu yang kita sebut track record,” ucapnya. 

Pengamat Ekonomi Unmul, Chairil Anwar/ IST

Track record itu pula yang disebut Cody sapaan akrab Chairil Anwar jadi bagian penting sebelum memutuskan adanya persetujuan kredit dari bank kepada pihak perusahaan. 

“Capacity itu kan juga melihat ke belakang. Nah, kalau dia perusahaan baru dan sudah dapatkan pinjaman sebesar itu, memang bisa dianggap melanggar prinsip kehati-hatian bank. Itu yang kami sebut prudent artinya kehati-hatian. Saya yakin, bagian itu yang dikejar BPK,” jelasnya. 

Terakhir, Cody harap, status Bankaltimtara yang merupakan bank pelat merah, bisa terus kedepankan prinsip-prinsip perbankan dalam kegiatan ekonomi. 

“Itu bank kan bank publik. Jangan sampai terkesan menganakemaskan satu orang atau dua orang, dan yang lain tidak. Itu hambat iklim persaingan. Yang lain kan juga perlu. Apakah semuanya diberikan proses dan priorotas yang sama? Kalau betul, dalam kreditnya tidak betul, itu merusak bisnis perbankan. Ini bisa membuat pemilik modal berpikir,” katanya. (tim redaksi Diksi) 

BACA JUGA: Deretan Meme Banjir Samarinda, Dari Kam Hanyarkah hingga Pak Jaang Dimana

BACA JUGA: Aksi Sosial, Bubuhan Kopi Samarinda Seduhkan Kopi Untuk Korban Banjir

BACA JUGA: Cipayung Plus Kaltim Harap Jokowi-Prabowo Silaturahmi Satu Meja

Ikuti Facebook Diksi.co: 

You Tube Diksi.co: 

 

 

 

 

 



Tinggalkan Komentar



Baca Lainnya