Jasa Try Sutrisno Antar Indonesia Rebut Emas Olimpiade Barcelona 1992

DIKSI.CO – Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026) pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto.
Di balik kiprahnya sebagai tokoh militer dan negarawan, Try Sutrisno meninggalkan jejak emas dalam sejarah olahraga Indonesia: mengantar Merah Putih merebut medali emas di Olimpiade Barcelona 1992.
Kabar wafatnya disampaikan mantan Kepala RSPAD, Albertus Budi Sulistya.
“Jenderal TNI Purn Try Sutrisno wafat Senin, 02 Maret 2026 pukul 06.58 di RSPAD Gatot Soebroto,” ujarnya dalam pesan singkat.
Strategi Tujuh Tahun Menuju Emas Olimpiade
Saat bulu tangkis resmi dipertandingkan di Olimpiade Barcelona 1992, Indonesia melihat peluang emas untuk mencetak sejarah. Namun peluang itu tak datang tiba-tiba.
Sejak terpilih sebagai Ketua PBSI pada 1985, Try Sutrisno langsung menyusun peta jalan jangka panjang. Ia menyadari waktu tujuh tahun menuju Olimpiade bukanlah masa yang panjang.
PBSI pun tak lagi sepenuhnya bertumpu pada generasi 80-an yang mendekati akhir masa emasnya. Try mendorong regenerasi besar-besaran dengan memanggil pemain muda seperti Ardy B. Wiranata, Sarwendah Kusumawardhani, dan Susy Susanti.
Pada 1985, hanya tiga atlet yang masuk proyeksi Olimpiade, termasuk Alan Budikusuma dan Hermawan Susanto yang telah berada di Pelatnas Cipayung. Setahun kemudian, jumlah atlet yang diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 20 orang.
Program Pembinaan Ketat dan Pelatih Legendaris
Try memastikan para atlet muda menjalani program terukur dan kompetitif. Ia menggandeng pelatih-pelatih top seperti Indra Gunawan, Rudy Hartono, Tong Sinfu, dan Liong Chiu Sia.
Persaingan di internal pelatnas berlangsung sangat ketat. Namun justru dari atmosfer itulah lahir mental juara. Menjelang 1992, para pemain muda Indonesia mulai meraih gelar di berbagai turnamen internasional dan naik ke papan atas dunia.
Susy Susanti tampil sebagai unggulan utama di tunggal putri. Sementara di sektor putra, Ardy Wiranata, Alan Budikusuma, dan Hermawan Susanto siap bertarung.
Dua Emas Bersejarah dan “Pengantin Olimpiade”
Perjalanan di Barcelona tidak mudah. Indonesia menghadapi nama-nama besar dunia seperti Zhao Jinhua, Thomas Stuer Lauridsen, Huang Hua, Bang Soo Hyun, dan Tang Jiuhong.
Namun perjuangan keras itu berbuah manis. Alan Budikusuma dan Susy Susanti sukses mempersembahkan dua medali emas pertama Indonesia dalam sejarah Olimpiade. Kemenangan itu makin semarak karena Alan dan Susy merupakan pasangan kekasih yang kemudian terkenal dengan julukan “Pengantin Olimpiade”.
Selain dua emas, Indonesia juga meraih dua perak lewat Ardy Wiranata dan pasangan Eddy Hartono/Gunawan serta satu perunggu dari Hermawan Susanto. Debut bulu tangkis di Olimpiade pun langsung menjadi panggung kejayaan Indonesia.
Warisan Emas Try Sutrisno untuk Era 90-an
Keberhasilan Barcelona 1992 menjadi fondasi emas bagi kejayaan Indonesia di era 90-an. Generasi yang sejak kepemimpinan Try Sutrisno terus mendominasi panggung dunia, meraih emas Olimpiade berikutnya, Piala Thomas, Piala Uber, hingga gelar juara dunia.
Try Sutrisno tidak hanya berjasa ebagai Wakil Presiden RI, tetapi juga sebagai arsitek kebangkitan bulu tangkis Indonesia di panggung Olimpiade.
Jasa dan visinya dalam membangun sistem pembinaan jangka panjang menjadikan namanya terpatri dalam sejarah olahraga nasional.
(Redaksi)
