Jalan Produksi Sawit Rantau Pulung–Baru Ampar Rusak Parah, Distribusi TBS di Kutai Timur Terhambat

DIKSI.CO – Kerusakan parah pada jalan poros Rantau Pulung–Baru Ampar di Kabupaten Kutai Timur kembali menjadi sorotan. Jalan yang menjadi jalur utama pengangkutan hasil perkebunan kelapa sawit itu kini dipenuhi lumpur dan lubang, sehingga menyulitkan aktivitas distribusi Tandan Buah Segar (TBS) dari kebun menuju pabrik kelapa sawit.

Kondisi jalan semakin memburuk saat hujan turun. Permukaan jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan dalam, membuat banyak kendaraan pengangkut sawit kesulitan melintas.

Jalan Poros Rantau Pulung–Baru Ampar Jadi Kubangan Saat Hujan

Para sopir truk pengangkut sawit mengaku sering menghadapi medan berat saat melewati jalur tersebut. Truk bermuatan TBS kerap terjebak di tengah jalan karena roda kendaraan tenggelam di lumpur.

Akibatnya, proses pengangkutan hasil panen menjadi sangat lambat. Tidak jarang sopir harus menunggu bantuan alat berat untuk menarik kendaraan yang terjebak.

“Kalau hujan turun, jalan ini hampir tidak bisa dilalui. Banyak truk yang terjebak, bahkan harus ditarik dengan alat berat,” ujar Andi Uchi, sopir truk pengangkut sawit yang melintas di jalur tersebut, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, kondisi jalan rusak itu sudah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum ada perbaikan signifikan.

Kerusakan Jalan Hambat Distribusi TBS ke Pabrik Sawit

Kerusakan jalan produksi tersebut berdampak langsung pada proses distribusi hasil panen dari kebun ke pabrik kelapa sawit.

Jalan poros Rantau Pulung–Baru Ampar merupakan salah satu jalur vital yang menghubungkan kawasan perkebunan dengan pabrik pengolahan di wilayah Kutai Timur.

Ketika jalan rusak dan sulit dilalui, pengiriman TBS menjadi lebih lama. Kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas buah sawit karena keterlambatan pengolahan di pabrik.

Para petani pun harus menunggu lebih lama hingga hasil panen mereka dapat diangkut menuju pabrik.

Sopir Truk Hadapi Risiko Kecelakaan dan Kerusakan Kendaraan

Tidak hanya petani yang terdampak, para sopir truk pengangkut sawit juga harus menghadapi berbagai risiko saat melintasi jalan tersebut.

Medan yang licin dan berlubang meningkatkan potensi kecelakaan. Selain itu, kendaraan pengangkut juga lebih cepat mengalami kerusakan akibat kondisi jalan yang berat.

Perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu singkat kini menjadi jauh lebih lama.

Situasi ini juga berdampak pada keluarga para sopir yang harus menunggu lebih lama kepulangan mereka.

Pasokan Bahan Baku Pabrik Sawit Ikut Terganggu

Kerusakan jalan produksi turut mempengaruhi stabilitas pasokan bahan baku ke pabrik kelapa sawit.

Ketika distribusi TBS terganggu, pasokan buah sawit yang masuk ke pabrik menjadi tidak stabil. Kondisi ini berpotensi menghambat proses produksi di pabrik pengolahan.

Selain itu, pelaku usaha angkutan juga harus menanggung biaya tambahan akibat kerusakan kendaraan yang sering terjadi karena medan jalan yang berat.

Petani Sawit Kaltim Minta Pemerintah Perbaiki Jalan Produksi

Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) Kalimantan Timur melalui perwakilannya, Asbudi, meminta pemerintah daerah segera memberikan perhatian terhadap kondisi jalan produksi di wilayah perkebunan.

Menurutnya, sektor kelapa sawit menjadi salah satu tulang punggung ekonomi yang menghidupi ribuan petani dan pekerja di Kalimantan Timur.

“Kami berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, khususnya Gubernur, dapat melihat langsung kondisi di lapangan dan mendorong percepatan perbaikan jalan produksi,” kata Asbudi.

Ia menilai perbaikan jalan produksi sangat penting untuk menjaga kelancaran rantai distribusi hasil perkebunan.

Infrastruktur Jalan Sawit Penting untuk Menjaga Ekonomi Daerah

Asbudi menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur jalan produksi tidak hanya berkaitan dengan akses transportasi.

Menurutnya, perbaikan jalan juga berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor perkebunan.

Jika jalur distribusi berjalan lancar, maka rantai ekonomi mulai dari petani, sopir angkutan, hingga industri pengolahan dapat berjalan lebih baik.

“Ini bukan hanya soal jalan rusak, tetapi menyangkut kehidupan banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini,” ujarnya.

Para petani dan pekerja perkebunan berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap pembangunan infrastruktur jalan produksi di daerah.

Mereka menilai sudah saatnya jalur pengangkutan sawit mendapatkan perhatian yang sebanding dengan kontribusi besar sektor tersebut terhadap perekonomian daerah, khususnya di Kalimantan Timur.

(Redaksi)

Back to top button