Gerebek 8 Lokasi dan Baru Ada 1 Tersangka, Aparat Disebut Masuk Angin


person access_time 6 days ago remove_red_eyeDikunjungi 120 Kali
Gerebek 8 Lokasi dan Baru Ada 1 Tersangka, Aparat Disebut Masuk Angin

Cover Lapsus Illegal Tapping/ Diksi.co

Hingga saat ini petugas baru bisa menetapkan satu orang tersangka. Penyelidikan seperti jalan di tempat. 

Ditulis Oleh: DIKSI.co
02 Desember 2019

DIKSI.CO, SAMARINDA - Hampir sebulan waktu berjalan, sejak pertama kali ditemukannya lokasi pengolahan minyak mentah ilegal di kawasan Sambutan, hingga yang terakhir di wilayah Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dengan total delapan lokasi temuan.

Namun hingga saat ini petugas baru bisa menetapkan satu orang tersangka. Penyelidikan seperti jalan di tempat. 

Menanggapi persoalan ini, Herdiansyah Hamzah selaku pengamat hukum mengatakan jika penyidikan terus dibiarkan berlarut, maka hal serupa akan terus berulang. Proses hukum yang lambat dan pengawasan yang lemah bisa membuat kasus illegal tapping menjamur seperti di wilayah Sumatera. 

"Pemain-pemain baru tentu bisa bermunculan. Hal ini dikarenakan penegakan hukum yang berjalan lamban. Terlebih keuntungan yang didapat besar," ucap Castro--sapaan akrab Herdiansyah Hamzah saat dikonfirmasi, Minggu (01/12/2019) kemarin. 

Dengan tegas Castro menyebut, jika penegakan hukum tidak berjalan tegas tentu tidak akan menimbulkan efek jera bagi para pelaku. Pria yang juga dikenal sebagai salah satu dosen di Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda ini mengatakan, kasus ilegal tapping seperti ini bukan hal yang mustahil untuk diungkap aparat berwajib. 

"Kasus seperti ini memang rumit. Tapi bukan tidak mungkin untuk dibongkar," tegasnya. 

Castro juga menyayangkan penyelesaian kasus yang merugikan negara terbilang lambat. Karena hal ini bisa saja mempengaruhi pandangan publik kepada para penegak hukum.

"Publik bisa saja menyimpulkan aparat itu masuk angin," singgungnya. 

Lebih jauh dijelaskan Castro, pengungkapan kasus ini seharusnya seperti efek domino. Dari satu pelaku yang berhasil ditangkap bisa membuka pintu kasus lainnya yang serupa. 

"Kalau ketahuan satu kan bisa dilacak polanya, saya membayangkan jika penyidikan maksimal bisa jadi tapping ini lebih besar dari Sumatera, dugaannya hal ini diinisiasi oleh mereka yang memiliki infrastruktur," pungkasnya. (*) 

Grafis Timeline Pengungkapan Illegal Tapping/ Diksi.co

Respon Pertamina 

Dari delapan lokasi pengungkapan tim satgas gabungan TNI, polri dan Pertamina, perusahaan minyak negara ini mengatakan pihaknya akan berfokus pada pengungkapan lokasi pengolahan minyak ilegal dilapangan. Sedangkan proses hukum, diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. 

"Kami fokus melakukan penyisiran terlebih dahulu, proses hukum dan penyidikan kami serahkan sepenuhnya ke polisi," jelas Legal and Relation Pertamina EP Sangasanga, Frans Hokum.

Disinggung soal kecurigaan ada illegal tapping di pipa pertamina yang berada di daerah Muara Badak sampai Murang Kayu, Frans belum bisa memberikan penjelasan secara pasti. Hanya saja, ia menyebut tidak bisa menutup kemungkinan akan hal tersebut,  kalau ada oknum yang mendalanginya. 

"Kalau kecurigaan yah ada lah," jawabnya dengan nada berhati-hati. 

Lebih jauh dijelaskannya, saat ini pihaknya sedang berfokus menelusuri pemasok minyak mentah dan pembeli minyak olahan illegal.

"Kami fokus ke rangkaiannya dulu seperti tapping, pemasok dan pembelinya, kami tetap akan lakukan analisa juga kemungkinan adanya indikasi tersebut," lanjutnya. 

Frans berharap kasus yang merugikan Negara ini dapat diusut dengan tuntas, sebelum berkembang seperti di Sumatera. Selain itu Frans juga mencurigai masih ada lokasi penyulingan minyak ilegal lainnya. 

"Kecurigaannya yah masih ada, tapi belum bisa saya siarkan," ucapnya. 

Legal and Relation Pertamina EP Sangasanga, Frans Hokum/ Diksi.co

Dari delapan lokasi yang berhasil diketahui, petugas gabungan tak mendapati para pelaku. Bahkan dari dua lokasi terakhir ada dugaan jika tempat tersebut sudah lama ditinggalkan para pelakunya. Frans tak mau berspekulasi terlalu jauh, terlebih saat ditanya mengenai adanya kebocoran informasi sehingga hanya satu tersangka saja yang berhasil dibekuk petugas, dari delapan lokasi yang berhasil diungkap. 

"Kalau itu saya nggak bisa sampaikan. Mungkin ada (kebocoran informasi) karena sudah tahu, jadi mereka yah tiarap dulu," tuturnya. 

Jika diperlukan, Frans mengaku tak akan segan untuk menggandeng pihak dinas terkait agar mempercepat pengungkapan kasus dan para pelakunya. Hal ini wajar dilakukan mengingat kasus serupa tumbuh subur di wilayah Sumatera. Karena tak menginginkan hal serupa terjadi di wilayah Kaltim, Frans meminta agar ada sinergitas baik dari satgas gabungannya maupun dari pemerintah daerah dan warga setempat.

"Kami berharap semua bisa bekerjasama agar kasus ini bisa diusut tuntas sampai ke akarnya. Jangan sampai kasus ini berkembang seperti di Sumatera," pungkasnya.

Lebih lanjut, Frans Hukom menyampaikan, saat ini kasus tersebut telah diteliti oleh PT Pertamina pusat di Jakarta. Pihaknya di daerah masih menunggu arahan dari pusat terkait langkah-langkah yang akan diambil.

"Jadi memang kami lagi menunggu arahan, karena kasus ini kini ditangani oleh Pertamina pusat. Sambil menunggu arah, kami tetap bergerak melakukan patroli, penyisiran, dan juga pembersihan-pembersihan bila ditemukan pengolahan minyak tradisional ilegal tersebut," kata Frans.

Frans Hukom juga menjelaskan, saat ini Pertamina pusat juga telah melakukan perbaikan-perbaikan pengamanan dari aset Pertamina di Sanga-sanga. (*) 

Grafis komentar terkait Illegal Tapping/ Diksi.co

Polisi Periksa 7 Saksi 

Sejak ditemukannya enam lokasi pengolahan minyak ilegal di wilayah hukum Polresta Samarinda, polisi sampai saat ini belum menemukan tersangka lainnya, kecuali Ardiansyah sebagai penanggung jawab penyulingan minyak di Jalan Telkom, Kelurahan Sambutan, Kecamatan Samarinda Ilir. 

Untuk melakukan pengungkapan, polisi juga turut memeriksa tujuh orang lainnya yang saat ini masih berstatus sebagai saksi. Termasuk Rudi, yang rumahnya hanya berjarak sekitar 10 meter dari tempat penyulingan minyak mentah ilegal di wilayah Simpang Pasir, Kecamatan Palaran. Pada pemberitaan sebelumnya, Rudi pernah menyampaikan, setiap tiga hari ada truk tangki yang datang. Pada bagian truk terdapat tulisan PT IBS. 

Bukan hanya itu, Dia juga menyebutkan nama Miko, si pemilik lahan. Kasat Reskrim Polresta Samarinda AKP Damus Asa menjelaskan, saat tim penyidik Unit Reskrim meminta keterangan terhadap Rudi, pria asal Toraja itu enggan berkomentar banyak. 

"Sudah kita mintai keterangannya. Malahan saat diperiksa, saksi itu mengatakan tidak tahu pasti nama truk yang kerap lalu lalang itu," ucap Damus. 

Karena informasi yang diberikan Rudi berubah-ubah, polisi dibuat kesulitan karena keterangannya tak bisa dijadikan alat bukti kuat untuk meningkatkan penyidikan. Sedangkan, Ardiansyah selaku penanggung jawab yang saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka, juga belum memberikan keterangan lebih banyak pasa aparat berseragam coklat. 

Bahkan untuk orang yang melakukan distribusi bahan baku minyak mentah kepada Ardiansyah, sampai saat ini belum diketahui jelas identitasnya. Bukan hanya itu, jalur penjualan minyak olahan illegal pun belum diketahui secara pasti kemana saja.

"Kami masih mendekatinya perlahan. Karena dia belum banyak memberikan keterangan. Bahkan tersangka mengatakan tidak tahu siapa orang dibalik pengirim bahan baku. Karena dia hanya berperan untuk melakukan pengolahan saja," bebernya. 

Bak mencari jarum dalam jerami, polisi masih terus menjuntai benang merah kasus illegal tapping. Minimnya keterangan, membuat polisi susah membongkar kasus yang merugikan negara ini. (tim redaksi Diksi)



Tinggalkan Komentar



Baca Lainnya