Virus Corona Menyebar di China, Ekspor CPO Kaltim ke Tirai Bambu Tak Berpengaruh


person access_time 2 years ago remove_red_eyeDikunjungi 600 Kali
Virus Corona Menyebar di China, Ekspor CPO Kaltim ke Tirai Bambu Tak Berpengaruh

Ilustrasi CPO

Memasuki bulan kedua semenjak corona virus atau novel Corona virus (nCov) menghebohkan jagat dunia, rupanya tidak berdampak signifikan terhadap perekonomian di Indonesia, pun demikian Kaltim terkhusus pada sektor hasil perkebunan di ekspor Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah.

Ditulis Oleh: DIKSI.co
07 Februari 2020

DIKSI.CO, SAMARINDA - Memasuki bulan kedua semenjak corona virus atau novel Corona virus (nCov) menghebohkan jagat dunia, rupanya tidak berdampak signifikan terhadap perekonomian di Indonesia, pun demikian Kaltim terkhusus pada sektor hasil perkebunan di ekspor Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur, Tutuk Cahyono mengatakan, ekspor CPO Kaltim tidak hanya ke negeri tirai bambu saja. Seperti diketahui India merupakan pembeli minyak terbesar kepada Indonesia. Adanya virus corona di China itu, sama sekali  tak mengganggu ekspor CPO Kaltim. 

"Tidak juga, malah harga CPO lagi bagus-bagusnya sekarang, sudah mencapai titik tertinggi beberapa tahun terakhir," kata Tutuk di Samarinda, Jum'at (7/2/2020).

Minyak sawit mentah saat ini menjadi salah satu ekspor unggulan yang dipakai negara-negara di dunia, selain untuk kebutuhan konsumsi, ekspor CPO disebut Tutuk dipergunakan negara pembeli untuk mengolah berbagai macam kebutuhan seperti bahan baku jenis makanan, deterjen, bahan bakar, hingga kosmetik. Dengan begitu, CPO akan menjadi kebutuhan yang bertambah dan terus menerus digunakan.

Walaupun masih kecil, Tutuk menuturkan bahwa di provinsi Kalimantan Timur sektor perkebunan kelapa sawit juga menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi, yakni berada di posisi ketiga penyumbang produk domestik regional bruto (PDRB) dibawah batu bara serta minyak dan gas bumi.

“Ke depan kami melihat CPO masih menjadi salah satu andalan tapi porsinya masih kecil. Di PDRB Kaltim, CPO itu masih relatif kecil tidak sampai 20 persen. Tantangan ke depan ialah tidak harus terus menerus hanya ekspor CPO, perlu juga turunan minyak lainnya, investasinya harus masuk ke hilir seperti itu,” terangnya.

Lebih lanjut, disamping sekarang adanya program pemerintah yang mewajibkan pencampuran 30 persen biodiesel dengan 70 persen bahan bakar minyak jenis solar, yang menghasilkan produk biosolar B30, disisi lain CPO menjadi alternatif minyak yang efisien dibanding minyak bunga matahari ataupun minyak jagung.

Artinya, CPO tidak hanya ke luar negeri saja, tapi juga akan banyak diserap oleh domestik. Tutuk berharap dengan adanya B30 ini, akan banyak permintaan dari negara India untuk ekspor CPO dan minyak turunannya.

“India sekarang sudah menyamaratakan tarif Indonesia dengan Malaysia. Dulu tarif disini lebih mahal dibanding Malaysia, adanya ketegangan politik antara Malaysia dengan India ini menguntungkan bagi Indonesia, artinya peluang disini besar kesempatan ekspornya lebih tinggi,” pungkasnya. (tim redaksi Diksi) 

Iklan Saefuddin Zuhri/ Diksi.co

 



Tinggalkan Komentar



Baca Lainnya

google.com, pub-8789333855088993, DIRECT, f08c47fec0942fa0