Wacana Mendikbud Hapus UN, Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Beri Respon Ini


person access_time 6 days ago remove_red_eyeDikunjungi 58 Kali
Wacana Mendikbud Hapus UN, Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Beri Respon Ini

Sri Puji Astuti, Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda/ Diksi.co

Sri Puji Astuti mengatakan secara pribadi bahwa UN masih dibutuhkan untuk menjadi tolok ukur keberhasilan siswa selama proses ia belajar dibangku sekolah.

Ditulis Oleh: DIKSI.co
02 Desember 2019

DIKSI.CO, SAMARINDA - Wacana Menteri Pendidikan dan Budaya, Nadiem Makarim tentang penghapusan Ujian Nasional (UN) dalam jenjang Pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), turut ditanggapi Sri Puji Astuti, Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda.

Sri Puji Astuti mengatakan secara pribadi bahwa UN masih dibutuhkan untuk menjadi tolok ukur keberhasilan siswa selama proses ia belajar dibangku sekolah.

Tetapi disisi lain, Sri Puji Astuti mengatakan bahwa idealnya nilai siswa selain ia pintar di UN, bagaimana kepintaran itu termanifestasikan dalam kepribadian karakternya.

"Ini pendapat saya pribadi karena kami belum rapatkan di komisi IV.  UN itu, bagi saya masih perlu, kenapa? Karena dari situ menjadi tolok ukur kita melihat keberhasilan siswa belajar, tapi memang kan masih banyak kekurangannya. Misalnya siswa ini pintar tapi karakternya tidak sesuai," kata Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti saat dikonfirmasi tim Diksi.co, Samarinda, Senin (2/12/2019).

Logo DPRD Samarinda

Bagi Sri Puji Astuti memang perlu ada perbaikan-perbaikan di dunia pendidikan. Ia melihat setiap kurikulum diperbarui itu sebagai tanda adanya upaya perbaikan.

Menurut Sri Puji, sistem kurikulum sebagus apapun tidak juga menjadi faktor penentu sepenuhnya, sebab perlu adanya edukasi didalam lingkaran keluarga terhadap anak. Artinya antara sistem pendidikan dan pendidikan dalam rumah bukan hal yang terpisah, semua memiliki peran dan tanggung jawab untuk menyiapkan sumber daya manusia yang baru.

"Paling penting itu kan pendidikan dasar di rumah. Karena pemerintah itu kan terbatas, anak sekolah itu belajar hanya berapa jam selebihnya di rumah. Maka dari itu pendidikan di dalam rumah itu dapat juga menumbuhkan karakter, kualitas yang unggul. Nah kurikulumnya terserah saja. Kurikulum apapun kalau dasarnya bagus, semuanya akan bagus," tuturnya.

Realita siswa turut diamati Sri Puji, karena bagi dia, siswa dapat dikatakan bernilai, ketika adanya kesesuaian nilai angka UN dengan karakter serta aktivitas tindakannya.

"Semua siswa itu harus ada keseimbangan antara nilai angka dan karakternya," tutupnya. (advertorial) 

 



Tinggalkan Komentar



Baca Lainnya